02 July 2026

Get In Touch

Perkuat Transformasi Digital, Kemenag Beri Pelatihan AI Teaching Powers pada 58.968 Tenaga Pendidik

Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said. (Kemneag)
Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said. (Kemneag)

JAKARTA (Lentera) - Kementerian Agama (Kemenag) telah melatih Program AI Teaching Power pada 58.968 tenaga pendidik dari 38 provinsi pada November 2025 hingga Juni 2026. Dalma AI Teaching Power Impact Forum di Kantor Microsoft Indonesia, Jakarta, Senin (29/6/2026), Kemenag menyebut program ini untuk memperkuat transformasi digital.

Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, mengatakan program ini untuk meningkatkan kapasitas tenaga pendidik formal maupun nonformal dalam memanfaatkan AI secara praktis, etis, dan relevan untuk pembelajaran abad ke-21, dengan prioritas pada pesantren dan madrasah.

Dalam program ini Kemenag bekerja sama dengan Microsoft Elevate dan NU Care Global by LAZISNU. Basnang Said menandaskan bahwa perkembangan teknologi harus dipandang sebagai peluang untuk memperkuat mutu pesantren tanpa meninggalkan jati diri kekhasannya.

"Kita ingin pesantren siap menghadapi perkembangan teknologi melalui transformasi digital yang adaptif, namun tetap berpijak pada nilai, adab, dan karakter pendidikan Islam. AI harus menjadi instrumen untuk memperkuat kualitas pembelajaran, bukan menggantikan peran guru maupun tradisi keilmuan pesantren," ujar Basnang melansir Kemenag Selasa (30/6/2026).

Lebih lanjut, Basnang mengatakan bahwa forum tersebut menjadi momentum refleksi sekaligus penegasan bahwa pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan Islam tidak boleh berhenti sebagai pelatihan jangka pendek. Akan AI di lingkungan pendidikan Islam ini harus berkembang menjadi gerakan nasional peningkatan kapasitas guru, ustaz, dan tenaga pendidik pesantren secara berkelanjutan.

Sepanjang pelaksanaan program, AI Teaching Power mencatat sebanyak hampir 59 ribu tenaga pendidik mengikuti pelatihan dan menghasilkan 92.052 sertifikasi kompetensi. Sepertiga (29,33 %) peserta berasal dari pondok pesantren, disusul MTs/sederajat (23,94 persen), MA/sederajat (20,28 persen), MI/sederajat (15,92 persen), institusi pendidikan lain (7,55 persen), dan TK/PAUD (2,98 persen). 

Hal ini memperlihatkan bahwa pesantren menjadi salah satu basis utama transformasi digital melalui program yang melibatkan 12.418 institusi pendidikan. Program ini diproyeksikan memberikan dampak pembelajaran kepada 2.358.720 murid dan santri di seluruh Indonesia.

Dari sisi gender, partisipasi tenaga pendidik berlangsung cukup seimbang dengan 52 persen perempuan dan 48 persen laki-laki. Ini menunjukkan antusiasme tinggi pendidik perempuan dalam meningkatkan literasi AI dan beradaptasi terhadap transformasi pendidikan digital.

Komposisi usia peserta juga menunjukkan dominasi kelompok usia produktif. Sebanyak 64 % peserta berada pada rentang usia 24–40 tahun, terdiri atas usia 24–30 tahun (31 %) dan 31–40 tahun (33 %), sementara peserta usia 18–23 tahun mencapai 11 %, usia 41–50 tahun 18 %, usia 51–60 tahun 6 %, dan usia di atas 60 tahun sebesar 1 %.

Peningkatan kompetensi peserta setelah mengikuti pelatihan cukup tinggi. Pada pre-test, sebanyak 81 % peserta berada pada kategori kompetensi rendah, 10 persen kategori menengah, dan hanya 9 persen kategori tinggi. 

Setelah mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran, hasil post-test menunjukkan perubahan yang sangat signifikan: 89 % peserta mencapai kategori kompetensi tinggi, sementara kategori menengah menjadi 7 % dan kategori rendah tinggal 4 %.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan yang menggabungkan penguatan literasi digital, praktik penggunaan AI, serta pendampingan implementasi mampu meningkatkan kesiapan tenaga pendidik dalam memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. (*)

Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.