SURABAYA (Lentera) - Penerapan biodiesel (B50) bukan lagi persoalan siap atau tidak siap menurut Organisasi Angkutan Darat (Organda). Untuk itu, pihaknya segera melakukan penyesuaian penerapan B50 pada armada angkutan umum sekaligus mendorong pemerintah memastikan ketersediaan solar agar operasional transportasi nasional tetap berjalan lancar.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organda, Adrianto Djokosoetono, mengatakan dalam penerapan B50 adalah bagaimana pelaku usaha mampu beradaptasi melalui berbagai penyesuaian operasional. “Jadi, kalau berbicara masalah B50, bukan masalah siap dan tidak siap, kita pasti harus menyesuaikan, itu satu. Dengan berbagai macam teknik operasional kan kita cukup pengalaman dari sejak zaman dulu,” katanya, melansir Antara, Kamis (2/7/2026).
Dia mengatakan bahwa armada angkutan yang saat ini beroperasi memang belum dirancang secara khusus untuk menggunakan bahan bakar biodiesel B50 sehingga diperlukan proses penyesuaian secara bertahap di lapangan. “Kendaraannya kan tidak disiapkan untuk B50. Tapi kita akan menyesuaikan,” ujarnya.
Meski demikian, lanjutnya, Organda menegaskan fokus utama saat ini adalah memastikan pasokan solar tersedia secara merata di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) agar layanan angkutan kepada masyarakat tidak terganggu.
“Masalah B50, kita lebih fokus bagaimana solar itu ada. Jadi di setiap rapat selalu kita minta, kita mohon solar itu ada di mana pun ada SPBU-nya setiap saat. Itu lebih penting dibandingkan harga, lebih penting dibandingkan B50 atau yang lebih tinggi lagi nanti,” tegasnya.
Menurutnya kepastian distribusi solar menjadi faktor yang paling menentukan kelancaran operasional angkutan dibandingkan persoalan harga maupun peningkatan campuran biodiesel.
Ia menambahkan Organda secara konsisten menyampaikan kepada pemerintah dalam berbagai forum bahwa jaminan ketersediaan solar di seluruh daerah merupakan kebutuhan utama untuk menjaga kesinambungan layanan transportasi.
Sebab, lanjutnya, kendala pasokan solar masih ditemukan di berbagai wilayah, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, hingga sejumlah daerah lainnya. Karena itu, Organda berharap implementasi B50 dapat berjalan beriringan dengan penguatan distribusi bahan bakar agar pelayanan transportasi kepada masyarakat tetap optimal.
“Karena operasional konsekuensi teknis itu bukan kita kesampingkan, kita akan menyesuaikan. Kita akan menyesuaikan. Intinya cuma itu. Tapi kalau solarnya tidak ada kita tidak bisa apa-apa,” ucapnya. (*)
Editor : Lutfiyu Handi




.jpg)