16 July 2026

Get In Touch

Empat Lulusan Kampus Ternama Asal Trenggalek Ikuti Program Transmigrasi Patriot ke Kalimantan dan Papua

Pelepasan empat peserta Transmigrasi Patriot asal Kabupaten Trenggalek di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Trenggalek, Selasa (14/7/2026). Para lulusan Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya tersebut akan menjalankan misi
Pelepasan empat peserta Transmigrasi Patriot asal Kabupaten Trenggalek di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Trenggalek, Selasa (14/7/2026). Para lulusan Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya tersebut akan menjalankan misi

TRENGGALEK (Lentera) - Sebanyak empat lulusan perguruan tinggi asal Kabupaten Trenggalek diberangkatkan untuk mengikuti program Transmigrasi Patriot atau Tim Ekspedisi Patriot Tahun 2026.

Program yang digagas Kementerian Transmigrasi itu menugaskan para sarjana muda untuk membantu pengembangan ekonomi dan pembangunan di kawasan transmigrasi tematik di berbagai daerah di Indonesia selama empat bulan.

Pelepasan peserta dilakukan di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Trenggalek, Selasa (14/7/2026).

Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Trenggalek Christina Ambarwati mengatakan, keempat peserta tersebut merupakan lulusan baru dari Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya yang berhasil lolos seleksi melalui perguruan tinggi masing-masing.

"Hari ini kami memberangkatkan empat orang peserta Transmigrasi Patriot. Mereka merupakan fresh graduate, terdiri dari satu lulusan Universitas Indonesia, dua lulusan Universitas Airlangga, dan satu lulusan Universitas Brawijaya," kata Christina.

Menurutnya, program Transmigrasi Patriot memiliki konsep berbeda dengan transmigrasi reguler yang selama ini identik dengan perpindahan keluarga secara permanen ke daerah tujuan.

"Kalau transmigrasi biasa basisnya keluarga dan mereka menetap di lokasi transmigrasi. Sedangkan Transmigrasi Patriot diikuti lulusan perguruan tinggi yang akan belajar bersama masyarakat di sana untuk mengembangkan wilayah transmigrasi menjadi kawasan yang tematik," ujarnya.

Christina menjelaskan, para peserta akan mendapatkan pendampingan dari perguruan tinggi asal selama menjalankan program di lapangan.

"Program ini merupakan program Kementerian Transmigrasi. Dari Trenggalek ada empat orang yang lolos setelah melalui seleksi di perguruan tinggi masing-masing," jelasnya.

Ia menambahkan, masa penugasan peserta saat ini berlangsung selama empat bulan hingga tahap seminar hasil dan penyusunan konsep pengembangan wilayah transmigrasi.

"Sementara ini durasinya empat bulan sampai pada seminar hasil atau konsep pengembangan wilayah transmigrasi di lapangan. Awalnya memang sempat ada konsep satu tahun, tetapi saat ini pelaksanaannya empat bulan," tuturnya.

Selama menjalankan tugas, kebutuhan hidup peserta ditanggung oleh Kementerian Transmigrasi, termasuk uang saku selama masa penugasan.

"Biaya hidup ditanggung oleh Kementerian Transmigrasi dan peserta juga mendapatkan uang saku selama mengikuti program ini," katanya.

Berdasarkan data Disperinaker Kabupaten Trenggalek, empat peserta yang diberangkatkan yakni Adia Reza Khaleda, lulusan Universitas Indonesia asal Kelurahan Surodakan, Kecamatan Trenggalek, yang akan bertugas di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Kemudian Chandra Trisna Pangestu, lulusan Universitas Airlangga asal Desa Tawing, Kecamatan Munjungan, yang ditempatkan di Kawasan Transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Peserta berikutnya adalah Kamila Yuniah Ahmad, lulusan Universitas Airlangga asal Desa Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan, yang juga akan bertugas di Kawasan Transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Sementara peserta terakhir yakni Amin Tiyas Hidayah, lulusan Universitas Brawijaya asal Desa Watulimo, Kecamatan Watulimo, yang akan menjalankan tugas di Kawasan Transmigrasi Klamono-Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Di sisi lain, Christina mengungkapkan minat masyarakat Trenggalek untuk mengikuti program transmigrasi reguler masih cukup tinggi. Namun pada tahun 2026, Jawa Timur tidak memperoleh kuota transmigrasi reguler dari Kementerian Transmigrasi.

"Animo masyarakat cukup besar dan sudah ada daftar tunggu untuk mengikuti transmigrasi. Namun untuk tahun ini Jawa Timur tidak mendapatkan kuota transmigrasi reguler, termasuk Kabupaten Trenggalek," ujarnya.

Menurut Christina, jumlah masyarakat Trenggalek yang masuk daftar tunggu program transmigrasi reguler saat ini mencapai puluhan orang.

Sementara itu, salah satu peserta Transmigrasi Patriot, Adia Reza Khaleda, mengaku tertarik mengikuti program tersebut setelah melihat adanya rekrutmen yang dibuka melalui kampusnya.

"Saya mendaftar saat ada rekrutmen Tim Ekspedisi Patriot dan kebetulan Universitas Indonesia menjadi salah satu kampus mitranya sehingga saya tertarik untuk ikut," kata Adia.

Lulusan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 2025 itu mengatakan dirinya akan fokus pada program peningkatan kapasitas ekonomi lokal di lokasi penugasannya di Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

"Nanti saya bertugas di Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat dengan program yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas ekonomi lokal," ujarnya.

Adia menambahkan, dirinya akan bekerja bersama lima peserta lain dalam satu tim yang didampingi dosen pembimbing dari Universitas Indonesia.

"Dalam satu tim ada enam orang dan kami juga didampingi dosen pendamping dari Universitas Indonesia," pungkasnya.

Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.