SURABAYA (Letera) - Meningkatnya bentrokan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah sangat mengganggu pengiriman energi melalui selat Hormuz mendorong terjadinya lonjakan harganya minyak melonjak lebih dari 3% pada perdagangan awal Asia, Senin (20/7/2026).
Reaksi pasar ini, melansir Aljazeera, menyusul serangan udara militer AS selama sembilan malam berturut-turut terhadap aset Iran di wilayah tersebut, yang diluncurkan setelah dua anggota militer AS tewas. Kemudian, sebagai balasan, Teheran menangguhkan komitmennya berdasarkan perjanjian perdamaian sementara, memicu penutupan aktif jalur maritim strategis tersebut.
Harga minyak mentah Brent melonjak $2,75, atau 3,12%, menjadi $90,85 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik $2,56, atau 3,10%, dan ditutup pada $85,05 per barel.
Dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global tiba-tiba terhambat di Teluk, para analis memperingatkan volatilitas yang berkepanjangan karena para pedagang secara agresif memperhitungkan meningkatnya risiko pasokan dan kenaikan premi asuransi maritim.
Sementara itu, pengamat komoditas dan emas, Ibrahim Asyuaibi memprediksi harga minyak mentah dunia akan kembali menguat atau lebih mahal dalam sepekan ke depan. Di pasar energi, ia menyebut harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) yang ditutup pada level US$ 82 per barel diperkirakan bergerak dalam rentang US$ 70,20-US$ 95 per barel pada pekan depan. Sementara itu, minyak mentah Brent yang ditutup di US$ 88,10 per barel diproyeksikan berada pada kisaran US$ 85-US$ 100 per barel.
"Kemungkinan besar harga minyak mentah, baik WTI maupun Brent crude oil, kemungkinan besar akan kembali mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Fundamentalnya nanti akan saya jelaskan secara gamblang,” ujar Ibrahim melansir Liputan6.com.
Harga minyak menguat pada Jumat (17/7/2026). Lonjakan harga minyak terjadi setelah Kuwait mengatakan, Iran menyerang pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air di tengah meningkatnya pertempuran di Teluk Persia. (*)
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)