Produksi Apel Kota Batu Anjlok Hampir 50 Persen dalam 2 Tahun Terakhir, Pemkot Siapkan Revitalisasi
BATU (Lentera) - Produksi apel di Kota Batu anjlok hampir 50 persen dalam dua tahun terakhir. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menyiapkan program revitalisasi lahan perkebunan secara bertahap untuk menjaga keberlanjutan komoditas yang menjadi ikon daerah tersebut.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu, Hendry Suseno mengatakan, pada 2026 revitalisasi dilakukan di lahan seluas 3 hektare. Luasan itu disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah, sementara total lahan apel yang masih tersisa mencapai sekitar 300 hektare dan terkonsentrasi di Kecamatan Bumiaji.
"Revitalisasi di lahan tiga hektare karena menyesuaikan ketersediaan anggaran. Total lahan apel sekitar 300 hektare yang hanya berada di Kecamatan Bumiaji dan ini dilakukan untuk menjaga apel sebagai ikon Kota Batu," ujar Hendry, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, program revitalisasi difokuskan pada pemulihan kesuburan tanah setelah dilakukan peremajaan tanaman. Pemkot memberikan bantuan pupuk plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dan pupuk nitrogen, fosfor, serta kalium (NPK) guna meningkatkan produktivitas tanaman apel.
Hendry mengatakan, Kecamatan Bumiaji kini menjadi sentra produksi apel yang masih bertahan di Kota Batu. Karena itu, wilayah tersebut menjadi prioritas untuk dipertahankan agar produksi apel tetap berkelanjutan.
Dia menjelaskan berdasarkan uji ekspresi gen yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2023, apel dengan kualitas dan produktivitas terbaik berasal dari Kelurahan Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, yang berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut.
"Kalau lokasi yang lebih rendah, kondisi agroklimatologinya sudah tidak mendukung sehingga banyak petani beralih ke komoditas lain. Sedangkan di Bumiaji petani masih mendapatkan keuntungan dari apel," katanya.
Hendry juga menyebut, saat ini harga apel di tingkat petani mencapai sekitar Rp12 ribu per kilogram. Di tingkat pasar, harga komoditas tersebut dapat meningkat hingga sekitar Rp30 ribu per kilogram.
Meski demikian, data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu menunjukkan produksi apel terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 produksi tercatat sebanyak 218.621,79 kuintal atau setara 21,86 juta kilogram dari 573.595 tanaman produktif dengan produktivitas 38,11 kilogram per tanaman per tahun.
Produksi kemudian turun pada 2024 menjadi 140.285,41 kuintal atau sekitar 14,03 juta kilogram dari 371.622 tanaman produktif, dengan produktivitas 37,75 kilogram per tanaman per tahun.
Penurunan kembali terjadi pada 2025. Produksi apel hanya mencapai 106.608,47 kuintal atau sekitar 10,66 juta kilogram dari 285.721 tanaman produktif. Tingkat produktivitas tercatat sekitar 37,31 kilogram per tanaman per tahun.
Selain revitalisasi lahan, Pemkot Batu juga menyiapkan berbagai program pendukung, seperti pembangunan rumah kompos, kandang komunal, hingga pendampingan bagi petani. Pendampingan tersebut mencakup pengembangan penangkar benih serta pelatihan pembuatan pestisida nabati untuk menekan biaya produksi.
"Ada yang kami dampingi sebagai penangkar dan ada petani yang membuat pestisida nabati karena sekitar 60 persen biaya produksi apel digunakan untuk membeli pestisida," kata Hendry. (*)
Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)