30 July 2026

Get In Touch

Gelombang Panas Ancam Prancis dan Spanyol

Warga Prancis mendinginkan diri di air mancur di depan menara Eiffel saat gelombang panas ekstrem melanda. (Detik)
Warga Prancis mendinginkan diri di air mancur di depan menara Eiffel saat gelombang panas ekstrem melanda. (Detik)

SURABAYA (Lentera) - Gelombang panas baru diperkirakan melanda Prancis dan Spanyol mulai Rabu (29/7/2026). Ancaman ini memicu kekhawatiran bahwa suhu ekstrem akan semakin menyulitkan upaya pengendalian kebakaran hutan besar yang masih berlangsung di kedua negara.

Mulai Selasa (28/7/2026), suhu diperkirakan meningkat hingga 32–35 derajat Celsius di sebagian besar wilayah Prancis, bahkan mencapai 36–37 derajat Celsius di wilayah barat daya. Meteo-France memperkirakan suhu akan mencapai 33 derajat Celsius di Nantes dan Paris, 34 derajat Celsius di Lyon, serta 35 derajat Celsius di Clermont-Ferrand dan Toulouse.

Badan Meteorologi Prancis (Meteo-France), melansir Anadolu Selasa (28/7/2026), menyebut gelombang panas kali ini akan menjadi episode keempat sepanjang musim panas tahun ini dan merupakan gelombang panas ke-54 yang tercatat di negara itu sejak 1947.

Sementara itu, Badan Meteorologi Spanyol (Aemet) juga memperingatkan gelombang panas baru akan melanda negara tersebut mulai besok hingg beberapa hari ke depan. Kondisi cuaca ekstrem disertai angin kencang diperkirakan akan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan menyulitkan operasi pemadaman.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengatakan pemerintah telah memperkirakan musim kebakaran tahun ini akan berlangsung "sangat sulit" akibat kondisi iklim yang terjadi.

Menurut Nunez, sejak awal musim kebakaran telah tercatat 13.566 kebakaran atau titik api yang menghanguskan sekitar 116.085 hektare lahan di seluruh Prancis.

Ia menambahkan Prancis kini mengoperasikan 67 pesawat pemadam, termasuk 12 pesawat amfibi Canadair, delapan pesawat Dash, 10 helikopter sewaan, dan enam pesawat sewaan lainnya, sehingga menjadi salah satu armada pemadam udara terbesar di Eropa.

Nunez mengatakan kebakaran hutan di Gironde telah menghanguskan sekitar 42.000 hektare lahan. Meski kobaran api telah "stabil", kebakaran tersebut belum sepenuhnya dapat dikendalikan.

Ia menegaskan musim kebakaran masih jauh dari berakhir dan mengimbau masyarakat untuk tidak bepergian ke wilayah Gironde hingga situasi benar-benar aman.

Gelombang panas terbaru ini terjadi setelah Prancis mencatat 5.764 kematian berlebih selama periode cuaca panas ekstrem antara 17 Juni hingga 2 Juli, menurut data Public Health France.

Lembaga tersebut menyatakan peningkatan angka kematian dari berbagai penyebab itu belum dapat dipastikan sepenuhnya disebabkan oleh gelombang panas. Namun, angka tersebut merupakan jumlah kematian berlebih tertinggi sejak gelombang panas mematikan pada 2003.

Kematian berlebih tercatat pada seluruh kelompok usia di atas 15 tahun, dengan peningkatan paling signifikan terjadi pada warga berusia 45 tahun ke atas. Public Health France menyebut pola tersebut sebagai kondisi yang "belum pernah terjadi sebelumnya."

Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, tiga gelombang panas sebelumnya juga membebani perekonomian Prancis.

Pemerintah Prancis menurunkan proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun 2026 dari 0,9 persen menjadi 0,7 persen, dengan gelombang panas disebut sebagai salah satu faktor yang memperlambat pertumbuhan ekonomi. Hal itu disampaikan Kepala Divisi Sintesis Prospek Ekonomi Institut Statistik Nasional Prancis (INSEE), Clement Bortoli.

Di tengah meningkatnya tekanan terhadap sistem kesehatan, pemerintah juga mengaktifkan Level 3 dalam rencana darurat kesehatan ORSAN serta mengalokasikan dana 100 juta euro untuk mempercepat penyesuaian fasilitas rumah sakit menghadapi cuaca panas ekstrem.

Sementara, melansir Anadolu, Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska mengatakan dua hari ke depan akan menjadi periode yang "sangat menentukan" dalam upaya mengendalikan kebakaran hutan besar di sekitar Madrid.

Menurutnya, dua kebakaran utama yang telah menghanguskan lebih dari 75.000 hektare lahan memang melambat pada malam hari, namun masih menjadi ancaman serius seiring datangnya gelombang panas baru. (*)


Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.