29 July 2026

Get In Touch

Profesor ITS Kembangkan Stabilitas Sistem listrik

Prof Dr Eng Ardyono Priyadi ST MEng saat berdiskusi dengan tim peneliti terkait pengembangan sistem tenaga listrik di Departemen Teknik Elektro ITS. (Foto, humas ITS)
Prof Dr Eng Ardyono Priyadi ST MEng saat berdiskusi dengan tim peneliti terkait pengembangan sistem tenaga listrik di Departemen Teknik Elektro ITS. (Foto, humas ITS)

SURABAYA (Lentera) - Guru Besar ke-252 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Eng Ir Ardyono Priyadi ST MEng meneliti dinamika stabilitas sistem tenaga listrik agar tetap andal dan tangguh menghadapi gangguan untuk menjawab tantangan transisi menuju energi baru terbarukan turut mengubah karakter sistem kelistrikan modern di Indonesia.

Profesor dari Departemen Teknik Elektro ITS tersebut menjelaskan bahwa meningkatnya penetrasi pembangkit energi terbarukan berbasis inverter menyebabkan inersia sistem menurun, sehingga sistem kelistrikan lebih rentan terhadap gangguan. Menurut Ardyono, kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui pemantauan dan pengendalian otomatis berbasis smart grid. "Sistem tenaga listrik dituntut merespons gangguan secara cepat, tepat, dan tetap andal," ujarnya, Rabu (29/7/2026).

Kebaruan utama dari riset Kepala Departemen Teknik Elektro ITS periode 2015-2019 ini terletak pada metode perhitungan critical clearing time (CCT), yakni batas waktu yang dimiliki sistem untuk mengatasi gangguan sebelum kehilangan kestabilan. Menurut Ardyono, semakin panjang nilai CCT, semakin besar peluang sistem mengisolasi gangguan sehingga jaringan tetap beroperasi. 

Untuk memperpanjang CCT, Ardyono bersama tim mengembangkan berbagai pendekatan. Mulai dari pemanfaatan superkapasitor sebagai peredam energi, Superconducting Fault Current Limiter (SFCL) untuk membatasi arus gangguan, hingga integrasi Virtual Synchronous Generator (VSG) pada sistem microgrid berbasis energi terbarukan. “Berbagai pendekatan tersebut mampu memperpanjang toleransi sistem sebelum kehilangan sinkronisasi,” imbuhnya. 

Ardyono juga mengembangkan metode koordinasi relai proteksi berbasis analisis stabilitas transien yang mengintegrasikan relai arus lebih dan relai daya terbalik (reverse power relay). Sejak diterapkan pada sistem kelistrikan industri pada 2016, metode tersebut mampu menjaga generator tetap beroperasi saat jaringan utama terganggu. “Koordinasi relai ini dapat meningkatkan stabilitas dan keandalan sistem, terutama saat energi terbarukan berbasis inverter masuk secara masif,” jelasnya. 

Diungkapkan Ardyono, rangkaian hasil penelitiannya telah diaplikasikan dan berjalan baik di berbagai industri besar, di antaranya di PT PLN, PT Pupuk Kaltim, PT Kaltim Daya Mandiri, hingga Medco Energi. Penerapan tersebut menunjukkan bahwa hasil risetnya tidak hanya berhenti sebagai kajian akademik, tetapi juga menjadi solusi yang dimanfaatkan di dunia industri.  

Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Pascasarjana ITS tersebut turut menitipkan pesan bagi generasi peneliti muda agar terus mengembangkan inovasi di bidang sistem tenaga listrik. “Jangan mudah menyerah dalam mengembangkan algoritma atau metode untuk menjawab persoalan sistem tenaga listrik demi kemandirian bangsa,” pesannya memotivasi.

Melalui penelitian tersebut, Ardyono berharap Indonesia semakin siap menghadapi transisi menuju sistem kelistrikan yang modern, andal, dan berkelanjutan. Kontribusi ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. (*)


Editor: Lutfiyu Handi
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.