Gubernur Khofifah Bersama Forkopimda, FKUB, dan Ormas Jatim Teken Komitmen Bersama Jaga Jatim Damai
SURABAYA (Lentera) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Kapolda serta jajaran Forkopimda Jatim, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jatim dan berbagai Organisasi Pemuda dan Masyarakat Jatim bersama-sama menandatangani Pakta Kesepahaman dan Komitmen Bersama tentang Menjaga Jatim Damai di Resto Nine Surabaya, Senin (3/8/2026).
Penandatanganan tersebut juga didahului dengan pembacaan Deklarasi Surabaya 2026 oleh Ketua FKUB Jatim Hamid Syarif. Deklarasi tersebut menyatakan komitmen bersama seluruh elemen untuk terus menjaga persatuan, memperkuat kohesi sosial, serta mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, damai, harmonis, dan bermartabat.
Di dalamnya juga terkandung kesepakatan untuk terus menjadikan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan utama bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini dirasa penting untuk bisa melindungi persatuan dan kesatuan dari ancaman informasi hoax, ujaran kebencian, intoleransi dan radikalisme, dan segala bentuk perpecahan.
Gubernur Khofifah menekankan pentingnya peran ruang digital dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di era saat ini. Dialog semacam ini disebutnya juga sangat penting karena tidak sekedar membicarakan perkembangan teknologi, tetapi juga membicarakan masa depan dan persatuan bangsa.
"Menjaga persatuan hari ini tentu tidak cukup hanya fisik, tapi bahwa diseminasi informasi ini menjadi sangat penting untuk kita lakukan secara digital," ucap Khofifah.
Bukan tanpa alasan, berdasarkan data APJII tahun 2026, tingkat penetrasi internet di Jawa Timur telah mencapai 83,41 persen. Angka ini bahkan lebih tinggi daripada rata-rata nasional sebesar 81,72 persen. Ini artinya, mayoritas masyarakat Jawa Timur telah terhubung dengan ekosistem digital.
Di ruang digital itu masyarakat memperoleh informasi, menyampaikan aspirasi, membangun jejaring, melakukan kegiatan ekonomi, hingga membentuk cara pandang terhadap berbagai persoalan sosial dan kebangsaan.
"Betapa sangat penting membangun positif thinking. Kritik itu dibutuhkan untuk membangun demokrasi yang sehat, tetapi membangun kebersamaan dan persatuan itu jauh lebih penting," ujar Gubernur Jatim.
Untuk itu, di momen Bulan Kemerdekaan kali ini Gubernur Khofifah secara khusus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling bergandengan tangan bersama-sama membangun kekuatan kebhineka-an lewat rasa syukur mendalam akan anugerah keindahan yang dimiliki bangsa Indonesia.
Ia mencontohkan, bagaimana Indonesia memiliki keberagaman budaya yang bisa terjalin satu dalam Bhineka Tunggal Ika. Kemudian betapa banyaknya kekayaan hasil alam yang dimiliki Indonesia melebihi negara lain. Hingga perhatian pemerintah kepada masyarakat miskin lewat berbagai program salah satunya Sekolah Rakyat.
"Oleh karena itu, untuk masuk ke ruang bagaimana membangun harmoni, persatuan, semangat kegotong royongan serta menguatkan semangat heroisme dan nasionalisme di bulan kemerdekaan ini sangat penting sekali," ajak Khofifah.
Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat di tengah masyarakat jangan sampai berubah menjadi permusuhan. Perbedaan itu harus diolah sebagai bagian dari proses menyampaikan aspirasi. Jika tidak dikelola dengan bijak, maka ruang digital dapat memperlebar jarak sosial dan bisa melemahkan persatuan.
"Kita ini sudah terbiasa membangun tepo seliro, kegotongroyongan, dan harmoni. Serta semua tetap di dalam semangat membangun NKRI sekaligus membangun demokrasi yang sehat," tuturnya.
Kerukunan yang kuat dan demokrasi yang sehat diyakininya sebagai modal sosial utama untuk menjaga persatuan, memperkuat kepercayaan dan membangun Jawa Timur yang damai dan inklusif.
Kondisi ini juga tercermin dari Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) Provinsi Jawa Timur Tahun 2025 yang mencapai 78,31. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 77,89.
Sementara, Indeks Demokrasi Indonesia di Jawa Timur Tahun 2025 mencapai 84,05 lebih tinggi daripada rata-rata nasional sebesar 78,19.
Kerukunan umat beragama ini disadari Khofifah sebagai sebuah fondasi sosial yang sangat penting untuk menjaga persatuan. Fondasi itu dianggap penting seperti dalam hal penyelesaian konflik secara damai hingga kolaborasi menjaga kekondusifan hari besar agama di Jatim.
"Kerukunan bukan sekadar tidak adanya konflik, tetapi hadirnya rasa saling menghormati saling menjaga dan saling menguatkan. Kerukunan adalah modal utama Jawa Timur dalam merawat Bhinneka Tunggal Ika," tegas Khofifah.
Oleh sebab itu, Gubernur Khofifah kembali mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menghidupkan tag line 'Jogo Jatim' adalah sebagai tugas bersama, dengan leading sector dari jajaran Kepolisian.
Dengan menjaga kekondusifan di Jawa Timur, maka sekaligus akan menjaga ekosistem ekonomi dan investasi yang aman dan semakin berkembang.
“Investasi akan masuk kalau kita bersama-sama menjaga Jawa Timur. Jika tidak maka kemungkinan terjadinya pengangguran itu berpotensi di banyak sektor dan bisa berdampak pada hal yang kita tidak inginkan," terang Gubernur Khofifah.
"Dengan semangat kebersamaan inilah, kita optimistis Jawa Timur akan semakin kuat, harmonis, dan sejahtera. Sebab, menjaga kerukunan di Jawa Timur sesungguhnya adalah menjaga persatuan Indonesia. Jogo Jawa Timur berarti Jogo Indonesia," pungkasnya.
Senada Gubernur Khofifah, Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto meyakini bahwa masyarakat Jawa Timur adalah masyarakat yang cerdas, dewasa dan mampu memfilter berbagai tantangan di ruang digital.
Hal ini akan menjadi modal penting untuk menjaga Jawa Timur dari isu-isu perpecahan.
"Saya meyakini bahwa masyarakat Jatim adalah masyarakat cerdas yang tidak mudah terprovokasi. Mari Jogo Jatim, mari Jogo Indonesia," ungkapnya.
Turut hadir Ketua DPRD Jatim M. Musyafak, Ketua Pengadilan Tinggi Surabaya Sujatmiko serta berbagai perwakilan Organisasi masyarakat dan kepemudaan di Jawa Timur. (*)
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)