UKWMS Kukuhkan 3 Guru Besar, Targetkan Miliki 20 Profesor untuk Perkuat Riset dan Inovasi
SURABAYA (Lentera) – Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) mengukuhkan tiga guru besar baru dari Fakultas Teknologi Pertanian, Teknik, dan Farmasi dalam Sidang Senat Terbuka, Selasa (4/8/2026). Penambahan profesor tersebut menjadi langkah strategis kampus untuk memperkuat kapasitas akademik dan riset sekaligus mengejar target memiliki sekitar 20 guru besar guna mendukung pengembangan 40 program studi.
Tiga guru besar yang dikukuhkan ialah Prof. Dr. Ignatius Srianta, S.TP., M.P. sebagai Guru Besar Bidang Mikrobiologi Pangan dari Fakultas Teknologi Pertanian, Prof. Ir. Dian Retno Sari Dewi, S.T., M.T., Ph.D., IPM sebagai Guru Besar Bidang Supply Chain Engineering dari Fakultas Teknik, serta Prof. Dr. apt. Lannie Hadisoewignyo, S.Si., M.Si. sebagai Guru Besar Bidang Teknologi Farmasi Sediaan Solida dari Fakultas Farmasi.
Rektor UKWMS, apt. Sumi Wijaya, S.Si., Ph.D., mengatakan pengukuhan tiga guru besar baru merupakan bagian dari komitmen universitas dalam memperkuat kualitas akademik sekaligus meningkatkan kontribusi riset bagi masyarakat. Menurutnya, penambahan profesor tidak hanya menjadi indikator kualitas perguruan tinggi, tetapi juga diharapkan melahirkan inovasi yang mampu menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat.
"Tahun ini, dengan tambahan tiga guru besar, jumlah profesor di UKWMS kembali bertambah. Dalam masa kepemimpinan saya sejak 2025 hingga 2026, kami telah menambah lima guru besar," ujar Sumi.
Ia mengakui pertumbuhan jumlah profesor di UKWMS masih perlu terus ditingkatkan. Karena itu, kampus menargetkan memiliki sekitar 20 guru besar dalam beberapa tahun mendatang.
"Kami memiliki 40 program studi. Harapannya, setiap program studi nantinya memiliki guru besar sehingga mampu memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat," katanya.
Untuk mencapai target tersebut, UKWMS menyiapkan berbagai strategi penguatan kapasitas dosen. Di antaranya melalui coaching clinic penyusunan proposal penelitian agar lebih kompetitif memperoleh hibah nasional maupun internasional, subsidi article processing charge (APC) bagi publikasi di jurnal internasional bereputasi, serta insentif bagi dosen yang berhasil meraih jabatan profesor.
"Kami memberikan berbagai bentuk dukungan, mulai dari pendampingan memperoleh hibah penelitian, subsidi biaya publikasi di jurnal internasional, hingga penghargaan bagi dosen yang berhasil menjadi profesor," ujarnya.
Menurut Sumi, perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Persaingan antaruniversitas semakin ketat, sementara pertumbuhan jumlah calon mahasiswa relatif terbatas. Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat riset, dan menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Harapan kami karya-karya besar para guru besar ini dapat memberikan dampak yang luas, tidak hanya bagi dunia pendidikan, tetapi juga bagi lingkungan, masyarakat, dan kemajuan bangsa," katanya.
Riset Jawab Tantangan Masyarakat
Masing-masing guru besar yang dikukuhkan membawa fokus keilmuan yang berbeda dengan orientasi pada penyelesaian persoalan nyata di masyarakat.
Prof. Ignatius Srianta mengembangkan riset di bidang mikrobiologi pangan yang berfokus pada pembangunan sistem pangan berkelanjutan. Penelitiannya memanfaatkan mikroorganisme untuk meningkatkan keamanan pangan, mengurangi food loss, serta mengolah limbah pangan menjadi produk bernilai tambah. Salah satu inovasi yang dikembangkannya ialah pemanfaatan biji durian sebagai bahan pangan fungsional serta teknologi fermentasi yang mendukung ketahanan pangan nasional.
Sementara itu, Prof. Dian Retno Sari Dewi menaruh perhatian pada pengembangan sistem rantai pasok (supply chain) yang tangguh dan berkelanjutan. Risetnya mendorong transformasi model bisnis industri dari sekadar menjual produk menjadi penyedia layanan berbasis teknologi digital. Ia juga mengembangkan kajian mengenai transportasi publik terintegrasi sebagai solusi mobilitas masa depan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Di bidang farmasi, Prof. Lannie Hadisoewignyo mengembangkan inovasi berbasis limbah kulit Pisang Agung Semeru. Penelitiannya yang semula berfokus pada bahan tambahan tablet berkembang hingga menemukan potensi ekstrak kulit pisang sangrai sebagai antidepresan melalui uji praklinis.
Dari penelitian tersebut juga lahir produk minuman berbahan dasar kulit pisang sebagai salah satu bentuk hilirisasi hasil riset kampus.
Pengukuhan tiga guru besar ini diharapkan semakin memperkuat posisi UKWMS sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga aktif menghasilkan riset inovatif yang dapat dihilirkan menjadi solusi bagi kebutuhan industri dan masyarakat. Dengan dukungan peningkatan jumlah profesor, UKWMS optimistis mampu memperkuat daya saing akademik sekaligus memperluas kontribusinya bagi pembangunan nasional.
Reporter:Najwa-MagangUSG/Editor:Widyawati





.jpg)