Cerita Guru TK Surabaya Belajar Produksi Video Animasi AI di Workshop Lentera Training Center
SURABAYA (Lentera) - Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai membuka peluang baru bagi guru, untuk menghadirkan media pembelajaran yang lebih kreatif dan menarik.
Salah satunya dirasakan Fransiska Xaveria Pingki Darmadi, seorang guru TK yang mengikuti workshop pelatihan pembuatan video animasi berbasis AI yang digelar Lentera Training Center.
Bagi Fransiska, pelatihan tersebut tidak sekadar mengenalkan berbagai perangkat AI, tetapi memberikan pengalaman praktik secara langsung dari awal hingga menghasilkan sebuah video animasi yang dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran.
Dalam workshop tersebut, Fransiska mempelajari sejumlah tahapan produksi video animasi. Mulai dari menyusun naskah, membuat scene atau adegan, memasukkan scene ke dalam website berbasis AI, hingga melakukan proses editing video.
“Workshop pelatihan pembuatan video animasi berbasis AI ini luar biasa dan sangat membantu saya sebagai seorang guru dalam menyiapkan media pembelajaran,” ujar Fransiska kepada Lentera, Minggu (9/8/2026).
Ia menilai, konsep kelas berukuran kecil menjadi salah satu keunggulan pelatihan. Menurutnya, suasana tersebut membuat peserta lebih nyaman untuk mengikuti materi sekaligus leluasa bertanya ketika menghadapi kendala selama praktik.
Dukungan fasilitas dari tim Lentera Training Center serta respons narasumber yang cepat saat peserta mengalami kesulitan juga dinilai membantu proses belajar. Materi yang diberikan, kata Fransiska, relatif mudah dipahami karena peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan teori, tetapi langsung mempraktikkannya.
“Konsep kelas kecil yang dirancang membuat peserta sangat nyaman, ditambah fasilitas langsung dari tim Lentera Training Center dan narasumber yang cepat tanggap membantu saat ada kendala. Materinya mudah dipahami,” katanya.
Salah satu karya yang dibuat Fransiska dalam pelatihan berupa video pengenalan huruf untuk anak-anak. Konten tersebut disiapkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran anak usia dini agar materi yang disampaikan dapat dikemas dalam bentuk visual dan animasi yang lebih menarik.
Menariknya, hasil pembelajaran dari workshop tersebut tidak berhenti di ruang pelatihan. Fransiska berencana sekaligus mengimplementasikan kemampuan membuat video animasi berbasis AI dalam kelas private membaca yang dilakukannya secara daring.
Pemanfaatan video animasi dalam pembelajaran dapat menjadi alternatif bagi pendidik untuk menjelaskan materi yang bersifat abstrak atau membutuhkan rangsangan visual. Bagi anak usia dini, penggunaan gambar bergerak, karakter, suara, dan alur cerita juga dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif.
Namun, Fransiska menilai, teknologi AI tetap perlu ditempatkan sebagai alat bantu bagi guru. Kreativitas dan kemampuan pendidik dalam menentukan materi, menyusun naskah, serta menyesuaikan konten dengan kebutuhan peserta didik tetap menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Ia juga mengapresiasi, adanya penghargaan terhadap karya peserta selama workshop. Menurutnya, apresiasi tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya-karya baru.
“Apresiasi terhadap karya peserta benar-benar memotivasi saya untuk terus berkreasi membuat video animasi AI selanjutnya. Terima kasih banyak,” tuturnya.
Pengalaman Fransiska menunjukkan, bahwa penguasaan teknologi AI bagi guru tidak harus berhenti pada pemahaman tentang tools. Dengan pelatihan yang berbasis praktik, guru dapat belajar mengubah ide pembelajaran menjadi konten visual yang lebih kontekstual dan sesuai dengan karakter peserta didik.
Ke depan, keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu semakin banyak pendidik memanfaatkan AI secara kreatif, sekaligus tetap mempertahankan peran guru sebagai pihak yang menentukan tujuan, nilai, dan arah pembelajaran.
Reporter: Amanah/Editor: Ais





.jpg)