BRUNAI (Lentera) - Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah, mencabut gelar putri dan sebutan kehormatan "Yang Mulia" dari menantunya, Pengiran Raabi’atul Adawiyyah. Dekret kerajaan tentang pencabutan gelar bangsawan tersebut karena sang menantu berperilaku tidak pantas.
Sebagaimana lazimnya di negara otokratis ini, informasi dikontrol ketat oleh aparat negara, sehingga tidak ada informasi mengenai alasan yang mendorong Sultan Bolkiah mencabut gelar kehormatan Raabi’atul Adawiyyah (33) yang merupakan istri dari putra kedua sultan, Pangeran Malik, yang menempati posisi keempat dalam garis suksesi takhta.
Tidak dijelaskan secara rinci peristiwa apa yang memicu tindakan Sultan Bolkiah tersebut. Mengutip laporan dari ara, Senin (10/8/2026) yang dilansir sindonews, kerajaan hanya mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa tindakan ini berlaku segera, disebabkan oleh tindakan yang dianggap tidak pantas bagi istri seorang anggota keluarga kerajaan karena mencoreng reputasi dan merupakan bentuk ketidakhormatan serius terhadap Baginda.
Namun, rumor yang beredar mengarah pada kemungkinan perceraian pasangan tersebut dalam waktu dekat. Perceraian sebenarnya bukanlah hal asing dalam riwayat pribadi Sultan Bolkiah, yang saat ini tengah menikmati perayaan nasional untuk memperingati hari ulang tahunnya—tahun ini mencapai angka genap: 80 tahun.
Jika perceraian antara Malik dan Raabi'atul Adawiyyah pada akhirnya terjadi, maka usia pernikahan mereka tercatat sedikit lebih dari sepuluh tahun. Pasangan ini telah dikaruniai empat orang anak selama masa pernikahan tersebut.
Sultan Bolkiah termasuk salah satu penguasa monarki terkaya di dunia, dengan kekayaan senilai USD28 miliar atau lebih dari Rp450 triliun. Sultan Bolkiah sendiri telah menikah tiga kali, meskipun pernah bercerai dua kali. Kini, penguasa monarki absolut Brunei itu hanya terikat dalam pernikahan dengan istri pertamanya yang juga merupakan sepupu dekatnya, Ratu Saleha dan memiliki enam orang anak.
Enam anak tersebut termasuk Malik dan putra lainnya—Pangeran sekaligus pewaris takhta Al-Muhtadee Billah. Kemudian empat putri dan tidak memiliki hak takhta karena status mereka sebagai perempuan. Sehingga, kedua putranya yang memiliki hak atas takhta, mengingat keempat
Selain itu, terdapat pula sejumlah saudara tiri, termasuk pangeran Brunei yang paling sering menjadi sorotan media, Abdul Mateen, yang merupakan anak dari pernikahan kedua Sultan Bolkiah. (*)
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)