WASHINGTON DC (Lentera) -Amerika Serikat (AS) selama berbulan-bulan terlibat dalam konfrontasi militer, serangan, ancaman, serta negosiasi dengan Iran.
Akan tetapi, berbagai upaya tersebut sejauh ini gagal mengakhiri perang.
Merespons situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan untuk kembali menggunakan salah satu senjata tertua "Negeri Paman Sam": mencekik perekonomian Iran.
Berdasarkan laporan Wall Street Journal, Trump saat ini menerapkan strategi wait and see alias menunggu dan memantau. Dia memilih memberikan waktu lebih bagi sanksi keuangan serta blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran untuk memperdalam kerusakan ekonomi Republik Islam tersebut.
Pergeseran strategi ini terjadi setelah adanya upaya persuasi di internal pemerintahan AS.
Para tangan kanan Trump menyajikan data yang menunjukkan sejauh mana sanksi yang ada telah melumpuhkan perekonomian Teheran.
Berdasarkan asesmen, tekanan ekonomi merupakan cara paling efektif untuk memaksa rezim Iran mundur.
Para pejabat senior dan Gedung Putih pun merekomendasikan untuk memperketat sanksi saat ini serta menjatuhkan sanksi baru.
Untuk saat ini, Trump setidaknya berhasil diyakinkan dan menyampaikan kepada para penasihatnya bahwa dia lebih memilih untuk tidak memerintahkan serangan tambahan.
Trump juga secara terbuka mengumumkan kembalinya pendekatan ini pada Senin (10/8/2026) di hadapan para wartawan.
Dalam kesempatan itu, dia menegaskan bahwa Teheran kini tidak lagi memiliki kemampuan finansial.
"Iran tidak punya uang. Iran bangkrut, benar-benar bangkrut," ujar Trump, dikutip Kompas.
Mata uang terjun bebas
Dampak dari kebijakan tekanan ekonomi Washington ini juga dikonfirmasi oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Bulan lalu, Bessent menyatakan bahwa kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintahannya telah membuat mata uang Iran terperosok tajam.
Bessent menyebutkan, kebijakan ekonomi AS telah mengirim mata uang Iran ke dalam kondisi terjun bebas dan mendorong tingkat inflasi hingga menyentuh angka tiga digit.
Keputusan untuk menempuh jalur sanksi ekonomi diambil saat Trump memiliki keraguan terhadap dua pilihan lain yang tersedia.
Di satu sisi, dia enggan terseret kembali ke dalam perang terbuka secara menyeluruh.
Di sisi lain, dia juga sangat waspada dan ragu untuk memulai babak baru negosiasi dengan Teheran.
Dalam beberapa hari terakhir, pembicaraan mengenai Selat Hormuz kembali mengalami jalan buntu.
Iran mengajukan tuntutan yang sangat berat sebagai syarat untuk membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut secara penuh.
Tuntutan Teheran meliputi pembayaran dana miliaran dollar AS dari Washington, pencabutan blokade laut, serta penarikan seluruh pasukan AS dari kawasan tersebut.
Strategi ruang optimal bagi AS
Dari sudut pandang Gedung Putih, strategi sanksi menawarkan keuntungan strategis tersendiri.
Washington dapat terus menjaga tekanan berat terhadap Teheran tanpa harus segera masuk ke dalam siklus militer baru yang dapat memicu lonjakan harga energi global serta memancing pembalasan Iran terhadap infrastruktur Teluk.
Para mantan pejabat senior mengategorikan posisi ini sebagai optimal space atau ruang optimal bagi AS.
Akan tetapi, dengan catatan bahwa pasokan minyak dalam jumlah yang terus meningkat tetap dapat mencapai pasar di tengah berbagai ancaman.
Menurut salah seorang mantan pejabat senior, kesepakatan yang buruk justru berisiko secara efektif mendanai rekonstruksi Iran.
Sebaliknya, eskalasi militer besar-besaran dapat mengejutkan dan mengguncang pasar minyak jika rezim Iran mampu bertahan dari serangan dan membalas ke fasilitas energi di Teluk.
Peringatan pakar
Kendati demikian, penekanan ekonomi tetap membawa risiko signifikan.
Sejumlah pakar yang pernah mengabdi pada pemerintahan AS sebelumnya memperingatkan, blokade AS dapat memperburuk kondisi ekonomi Iran yang sudah sangat sulit.
Sehingga, hal tersebut dapat meningkatkan potensi tanggapan keras dari Teheran.
"Tidak ada yang boleh berharap Iran hanya akan berdiam diri begitu saja sementara hal ini terjadi," tegas seorang pakar yang pernah bertugas di pemerintahan AS sebelumnya.
Hal ini menjadi titik kerentanan utama dari strategi baru Trump.
Pendekatan ini sangat bergantung pada asumsi bahwa penderitaan ekonomi akan memaksa Teheran untuk menyerah sebelum negara itu memilih eskalasi militer.
Para pejabat AS menekankan, Trump masih bisa mengubah pikirannya sewaktu-waktu, terutama jika Iran memberikan respons militer yang parah.
Namun untuk saat ini, sang Presiden AS memilih untuk memberikan kesempatan kepada waktu, sanksi finansial, dan blokade laut untuk bekerja, bukan lagi mengandalkan jet tempur dan bom (*)
Editor: Arifin BH





.jpg)