SURABAYA (Lentera) – Fenomena brain rot yang kerap dilekatkan pada kebiasaan anak-anak Generasi Alpha mengonsumsi konten viral di media sosial ternyata tidak selalu berdampak negatif. Riset mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menunjukkan, tren digital justru dapat menjadi bagian dari hiburan sekaligus ruang interaksi sosial bagi anak-anak.
Temuan tersebut terungkap dalam tesis Leni Wijayanti yang mengkaji dinamika budaya digital dan fenomena brain rot pada anak-anak usia sekolah, khususnya dalam mengonsumsi dan merespons tren di media sosial TikTok.
Penelitian yang dilakukan melalui persiapan hingga pengumpulan data selama sekitar enam bulan itu berfokus pada anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai bagian dari Generasi Alpha.
Leni mengatakan, gagasan penelitian tersebut berawal dari pengamatannya ketika beraktivitas di lapangan. Ia menemukan percakapan anak-anak yang begitu akrab dengan istilah, tarian, dan berbagai tren yang viral di media sosial.
Beberapa di antaranya seperti Six Seven Dance, Dance Brazil, hingga tarian yang belakangan viral, yakni Tarian Semut.
“Sebenarnya judul awal proposal itu bukan ini. Tapi karena saya menemukan fenomena anak-anak Generasi Alpha ngobrolin tren viral saat bekerja di lapangan, saya pikir ini sangat menarik untuk dijadikan penelitian. Ditambah lagi, riset komunikasi itu memang harus selalu up-to-date agar seru,” kata Leni, Kamis (13/8/2026).
Dalam penelitiannya, Leni melakukan wawancara mendalam terhadap enam informan dari kalangan Gen Alpha. Hasilnya menunjukkan bahwa respons anak terhadap tren digital tidak seragam.
Menurut Leni, istilah brain rot yang selama ini kerap digunakan untuk menggambarkan dampak buruk konsumsi konten digital perlu dilihat secara lebih kritis. Fenomena tersebut tidak selalu menunjukkan pendangkalan budaya atau perilaku destruktif.
Sebaliknya, tren viral dapat menjadi bentuk interaksi sosial baru yang turut dipengaruhi algoritma media sosial, terutama fitur FYP (For You Page) di TikTok.
Anak-anak terdorong mengikuti tren karena konten serupa terus muncul di linimasa mereka. Selain itu, tren tersebut kemudian menjadi bahan obrolan dan aktivitas bersama teman sebaya.
Namun, tidak semua anak merespons tren dengan cara yang sama. Sebagian memilih menirukan tarian dan mengunggahnya ke media sosial, sementara lainnya hanya menjadi penikmat konten karena merasa malu atau menganggap gerakan tersebut berlebihan.
Leni juga menemukan bahwa motivasi utama anak-anak mengikuti tren tersebut bukan semata-mata untuk mengejar popularitas atau menjadi kreator konten profesional. “Motivasinya lebih kepada hiburan dan interaksi dengan teman sebaya,” jelasnya.
Karena itu, Leni berharap masyarakat, khususnya orang tua dan pendidik, tidak terburu-buru memberikan label negatif terhadap perilaku anak di media sosial.
Menurutnya, memahami konteks dan makna di balik perilaku digital anak menjadi hal penting agar komunikasi antara generasi dapat tetap terjalin dengan baik.
“Harapan saya, jangan langsung terburu-buru menghakimi bahwa tren itu negatif tanpa tahu meaning mendalam dari maksud anak-anak tersebut. Perkembangan dunia digital menuntut kita dari lintas generasi untuk lebih adaptif dan tidak ‘kudet’, agar komunikasi antara orang tua dan anak bisa terus bersinergi,” tutup Leni. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)