TRENGGALEK (Lentera) – Satu siswa SDI Luqman Al Hakim berusia 11 tahun harus menjalani rawat inap di RSUD dr. Soedomo Trenggalek setelah mengalami muntah dan diare berulang diduga mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan Trenggalek, Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah.
Pasien berinisial SA tersebut merupakan warga Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Ia dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Soedomo pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Riza Maulina Sp.A, mengatakan SA mengalami muntah dan diare dalam jumlah cukup banyak. Dalam sehari, pasien disebut mengalami diare lebih dari 10 kali dan muntah lebih dari 7 kali.
"Yang kami rawat satu orang perempuan, inisial SA, usia 11 tahun. Karena muntah sama diare. Kemarin diarenya lebih dari 10 kali, kemudian muntahnya juga lebih dari 7 kali," ujar Riza, Kamis (13/8/2026).
Setelah mendapat penanganan awal di IGD, SA kemudian dipindahkan ke ruang Dahlia sekitar pukul 23.00 WIB untuk menjalani perawatan lebih lanjut.
Menurut Riza, banyaknya cairan yang keluar melalui muntah dan diare membuat kondisi pasien lemas. Asupan cairan yang masuk melalui mulut tidak mampu mengimbangi cairan yang hilang sehingga pasien membutuhkan rehidrasi menggunakan infus.
"Antara yang keluar dengan yang masuk tidak sebanding. Banyak sekali yang dikeluarkan lewat muntah sama diarenya, sementara asupan oral atau asupan minumnya tidak banyak," jelasnya.
Berdasarkan keterangan orang tua kepada pihak rumah sakit, SA sebelumnya menghabiskan seluruh menu MBG yang diterimanya. Salah satu lauk dalam menu tersebut adalah sate ayam.
"Katanya dia menghabiskan seluruh menu MBG-nya. Jadi satu porsi itu habis, lauknya ayam bumbu sate. Setelah itu mual, mual muntah," ungkap Riza.
Awalnya, keluarga mengira keluhan tersebut akan membaik. Namun, muntah dan diare justru semakin sering sehingga pasien semakin sulit mendapatkan asupan cairan.
"Awalnya dipikir mual muntah bisa membaik, tetapi lama-lama semakin banyak, kemudian minumnya semakin sedikit sampai akhirnya lemas," katanya.
Setelah mendapatkan terapi cairan melalui infus, kondisi SA kini berangsur membaik. Saat dilakukan visite pada Kamis (13/8/2026), pasien sudah tidak mengalami muntah maupun diare.
"Alhamdulillah kondisi terkini aman. Tadi waktu visite juga sudah tidak pusing lagi, tidak muntah. Yang dirasakan masih mual, nyeri ulu hati masih ada, tetapi diarenya sudah tidak ada," terang Riza.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan SA mengalami gastroenteritis akut. Kondisi dehidrasinya juga telah teratasi setelah mendapatkan rehidrasi melalui infus.
"Hasil pemeriksaan gastroenteritis akut. Sudah terhidrasi. Infusnya lancar, jadi anaknya tidak lemas lagi. Suhunya juga turun," ujarnya.
Sementara itu, pemeriksaan darah menunjukkan adanya peningkatan kadar leukosit. Namun, pihak rumah sakit belum mengetahui bakteri yang berkaitan dengan keluhan tersebut.
"Leukositnya agak meningkat, leukosit darahnya. Tetapi untuk bakterinya belum diketahui," kata Riza.
Selain SA, terdapat satu pasien lain yang datang ke RSUD dr. Soedomo dengan keluhan serupa. Namun, pasien tersebut merupakan siswa SMP dan kondisinya membaik setelah mendapatkan rehidrasi di IGD sehingga tidak perlu menjalani rawat inap.
"Ada satu lagi. Tetapi kondisinya membaik, kita rehidrasi di IGD saja, tidak sampai rawat inap. Usianya lebih besar, anak SMP," jelasnya.
Riza menjelaskan, pasien yang lebih besar masih mampu memenuhi kebutuhan cairan secara mandiri ketika mengalami muntah dan diare. Sementara SA membutuhkan perawatan karena kehilangan cairan cukup banyak dan asupan minumnya tidak mampu menggantikan cairan yang keluar.
Hingga Kamis (13/8/2026), kondisi kedua pasien yang ditangani RSUD dr. Soedomo tersebut dilaporkan membaik.
"Alhamdulillah sudah aman semua. Mudah-mudahan enggak ada kejadian lagi," pungkas Riza. (*)
Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)