17 August 2026

Get In Touch

Unair Terjunkan Tim Aju Garda Ksatria Airlangga Bantu Korban Gempa NTT

Pemberangkatan tim aju tanggap darurat Garda Ksatria Airlangga ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu penanganan korban gempa.
Pemberangkatan tim aju tanggap darurat Garda Ksatria Airlangga ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu penanganan korban gempa.

SURABAYA (Lentera) - Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menerjunkan tim aju tanggap darurat Garda Ksatria Airlangga ke Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk membantu penanganan korban gempa.

Tim diberangkatkan dari Balai RUA, Lantai 4 Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, Senin (17/8/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.

Tim awal yang dipimpin Koordinator Bantuan Medis Garda Ksatria Airlangga, dr Teddy Wardhana Sp OT memiliki tugas penting pada fase awal penanganan bencana. Selain memberikan dukungan medis bagi korban yang membutuhkan pertolongan segera, tim akan melakukan asesmen kondisi lapangan, memetakan kebutuhan layanan kesehatan, serta berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan dan tim penanggulangan bencana setempat.

Rektor Unair, Prof Muhammad Madyan mengatakan penerjunan tim aju merupakan bentuk kepedulian sekaligus tanggung jawab perguruan tinggi, dalam merespons persoalan kemanusiaan.

Menurutnya, kampus tidak hanya memiliki peran dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga dapat mengerahkan sumber daya keilmuan dan tenaga profesional untuk membantu masyarakat ketika terjadi bencana.

“Kami sebagai institusi pendidikan tinggi juga turut berbelasungkawa atas bencana yang melanda NTT. Penerjunan ini menjadi wujud kontribusi dan respons Unair. Kami berharap tim bisa memberi manfaat bagi penanganan pascabencana di lokasi,” ujarnya, Senin (17/8/2026).

Prof Madyan juga meminta, anggota tim menjalankan tugas secara profesional dan menjaga nama baik Unair selama memberikan pelayanan kemanusiaan.

“Saya mengapresiasi tim yang siap berangkat ke lokasi bencana. Selalu jaga nama baik Unair di mana pun. Selamat bertugas,” tuturnya.

Tim aju Garda Ksatria Airlangga diperkuat tenaga medis dengan kompetensi yang relevan terhadap kondisi kegawatdaruratan akibat bencana. Selain dr Teddy, tim terdiri atas tiga PPDS, dokter senior spesialis anestesi dan orthopedi, seorang PPDS yang merupakan putra daerah setempat, serta perawat anestesi dan orthopedi.

Komposisi tersebut disiapkan untuk mendukung asesmen sekaligus penanganan medis, khususnya terhadap korban yang mengalami trauma dan membutuhkan tindakan segera.

Dr Teddy mengatakan, tim akan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan tim kesehatan setempat untuk mengetahui kebutuhan yang benar-benar diperlukan di lapangan.

Rencana awal, tim akan menuju rumah sakit umum yang membutuhkan dukungan. Unair juga membawa sejumlah perlengkapan operasi, anestesi, dan kebutuhan medis pendukung agar tim dapat bekerja secara lebih mandiri selama berada di lokasi terdampak.

“Prioritas kami adalah korban-korban yang membutuhkan penanganan segera. Jumlah dokter bedah dan anestesi di sana tidak banyak, sehingga kami berharap bisa membantu fase akut dari trauma ini,” katanya.

Selain berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan, pihaknya juga menggandeng Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi & Traumatologi Indonesia (PABOI) untuk memperkuat jejaring penanganan medis di wilayah terdampak.

Keberadaan tim aju tidak hanya diarahkan untuk memberikan pelayanan medis dalam fase awal, juga akan melakukan pendataan dan identifikasi kebutuhan yang ditemukan di lapangan.

Langkah tersebut penting, agar bantuan berikutnya dapat diberikan secara lebih tepat sasaran.

"Dalam situasi bencana, kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada penanganan luka fisik, tetapi dapat berkembang menjadi kebutuhan pemulihan kesehatan, dukungan psikologis, hingga pendampingan pascabencana," ucapnya.

Dr Teddy mengatakan, hasil asesmen tim pertama akan menjadi bahan pertimbangan bagi Unair untuk menentukan bentuk dukungan lanjutan, termasuk kemungkinan mengirimkan tenaga dari bidang lain.

“Harapannya, dengan adanya tim aju ini mendata dan mengidentifikasi, tim berikutnya bisa menyusul dengan kebutuhan yang komprehensif. Misalnya kebutuhan PTSD, kita bisa mengirimkan teman-teman dari Psikologi,” pungkasnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.