24 August 2026

Get In Touch

Bambang DH Ajak Generasi Muda Lestarikan Reog di Tengah Ancaman Globalisasi

Pagelaran Reog dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Perumahan Pondok Tanjung Permai 1, Semampir Barat, Sukolilo, Surabaya
Pagelaran Reog dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Perumahan Pondok Tanjung Permai 1, Semampir Barat, Sukolilo, Surabaya

SURABAYA (Lentera)– Mantan Wali Kota Surabaya Bambang DH mengajak generasi muda mengenal dan melestarikan kesenian Reog Ponorogo. Ajakan itu disampaikan saat pagelaran Reog dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Perumahan Pondok Tanjung Permai 1, Semampir Barat, Sukolilo, Surabaya.

Bambang DH menilai Reog bukan sekadar hiburan. Kesenian tradisional tersebut memiliki nilai sejarah, identitas lokal, serta pesan sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

Menurut dia, generasi muda perlu memahami makna di balik pertunjukan Reog. Apalagi, kesenian tradisional menghadapi tantangan besar di tengah perkembangan budaya modern dan globalisasi.

"Saya tiap tahun menanggap Reog untuk ajak anak-anak tahu tentang Reog. Apalagi mengajak mereka langsung berinteraksi dengan personel Reog," kata Bambang DH saat ditemui di tengah-tengah warga, Senin (17/8/2026).

Bambang DH mengatakan upaya melestarikan Reog membutuhkan keterlibatan masyarakat. Ia menyebut Surabaya memiliki sekitar 60 kelompok Reog. Namun, keberlangsungan kelompok seni tersebut sangat bergantung pada adanya ruang pertunjukan dan masyarakat yang bersedia menggunakan jasa mereka.

"Memang perlu upaya keras kita. Padahal Surabaya sendiri ada 60 grup Reog. Tapi siapa yang peduli terhadap mereka? Kalau tidak ada yang nanggap, bagaimana bisa lestari?" ujarnya.

Karena itu, Bambang memilih menghadirkan pertunjukan Reog sekaligus mengajak anak-anak berinteraksi langsung dengan para seniman.

Menurutnya, momentum peringatan kemerdekaan juga harus menjadi ruang untuk merefleksikan persoalan bangsa. Salah satunya korupsi.

"Di momen ini, saya prihatin yang marak itu korupsinya. Bukan lagi miliar, tapi triliun. Ayo kita kembalikan aset negara yang dicuri," katanya.

Bambang juga mengaitkan Reog dengan pesan kritik terhadap kekuasaan. Dalam narasi sejarah dan legenda yang berkembang, Reog dikaitkan dengan kisah Ki Ageng Kutu pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.

Tokoh tersebut dipercaya menggunakan kesenian sebagai media kritik terhadap kondisi pemerintahan pada masa itu. Salah satu simbol yang dikenal adalah kepala harimau dengan burung merak di atasnya.

Dalam tafsir yang berkembang, simbol tersebut menggambarkan kekuatan penguasa yang berada di bawah pengaruh kelompok tertentu. Pesan itu kemudian dipandang sebagai kritik terhadap lemahnya kekuasaan ketika berhadapan dengan kepentingan kelompok.
Bagi Bambang, nilai kritik tersebut masih relevan untuk dibaca generasi muda. 

Kemerdekaan, menurut dia, tidak cukup dimaknai melalui perayaan dan euforia, tetapi juga melalui keberanian melihat persoalan bangsa secara kritis.

Ia menilai maraknya kasus korupsi harus menjadi perhatian masyarakat, terutama generasi muda.

Melalui pertunjukan Reog, Bambang berharap anak-anak muda tidak hanya mengenal kesenian tradisional sebagai tontonan. Mereka juga dapat memahami nilai sosial dan kritik yang terkandung di dalamnya.

Pegiat seni Reog Ponorogo di Surabaya, Wandi, mengatakan Bambang DH sejak lama memiliki perhatian terhadap kesenian tradisional Jawa.
Menurut Wandi, kelompok seni Mangkuyaja yang digelutinya pernah mendapatkan banyak kesempatan tampil ketika Bambang menjabat Wali Kota Surabaya pada periode 2002-2010.

"Pak Bambang DH itu memang pecinta seni budaya Jawa sejak dulu. Selama menjadi wali kota kami selalu diperhatikan. Nah, sekarang hanya beliau yang bertahan memberi ruang pertunjukan. Yang lain saya kira sudah beralih ke seni modern," ujar Wandi.

Wandi mengatakan kelompok seni Reog kini harus beradaptasi agar tetap diminati masyarakat. Materi pertunjukan dikembangkan dengan unsur hiburan interaktif tanpa menghilangkan karakter utama Reog.

"Harus berjibaku memodifikasi materi seni Reog dengan hiburan interaktif agar masih membuat masyarakat berminat," katanya.

Ia menilai keberadaan panggung pertunjukan menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan kelompok seni tradisional.
Tanpa pertunjukan, para seniman kesulitan mendapatkan penghasilan sekaligus mempertahankan regenerasi kelompok.

Pagelaran Reog di kawasan Perumahan Pondok Tanjung Permai 1 mendapat sambutan dari warga. Pertunjukan tersebut menarik perhatian berbagai kelompok usia, dari anak-anak hingga orang dewasa.

Sementara itu, kelompok Reog yang tampil dalam kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mengundang mereka untuk berbagai acara.

Biaya pertunjukan dipatok sekitar Rp5 juta. Menurut penyelenggara, angka tersebut relatif terjangkau jika dibandingkan dengan sejumlah pilihan hiburan modern seperti organ tunggal, orkes dangdut, maupun pertunjukan sound horeg.

Ketua RW 04 Medokan Semampir, Abdul Kholiq, mengapresiasi inisiatif Bambang DH menghadirkan kesenian tradisional dalam perayaan kemerdekaan.

"Warga senang dan gembira karena mendapatkan hiburan Reog Ponorogo di Hari Kemerdekaan," ujar Abdul Kholiq saat menyampaikan sambutan.

Menurut dia, kegiatan semacam itu tidak hanya memberikan hiburan kepada warga. Kehadiran pertunjukan juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

"Warga yang memiliki usaha juga bisa terbantu karena ada peningkatan transaksi," katanya.

Editor:Widyawati


 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.