MALANG (Lentera) – Pencatatan data kesehatan secara manual masih menjadi tantangan bagi kader Posyandu, dalam mengelola informasi kesehatan masyarakat.
Untuk mengurangi beban administrasi sekaligus meningkatkan ketepatan pengelolaan data, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mulai merancang sistem digital untuk Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) RW 15, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Tahap awal program tersebut ditandai dengan pengumpulan kebutuhan sistem sekaligus sosialisasi manfaat digitalisasi data kesehatan kepada para kader Posyandu ILP RW 15.
Kegiatan ini merupakan bagian dari hibah Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula Tahun 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program bertajuk "Digitalisasi Sistem Manajemen Data Keluarga Guna Membentuk Layanan Terpadu pada Posyandu ILP RW 15 Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang" tersebut diketuai Monica Cinthya, S.Kom., M.Kom., dengan anggota Ersha Aisyah Elfaiz, S.Si., M.T.I., dan Tri Puspa Rinjeni, A.Md., S.Kom., M.Kom.
Petakan Kebutuhan Kader
Pengumpulan kebutuhan sistem di lapangan dipimpin Ersha Aisyah Elfaiz bersama mahasiswa Unesa, Bima. Tim melakukan diskusi terarah dan wawancara mendalam dengan para kader untuk mengetahui persoalan yang muncul dalam pengelolaan administrasi dan data kesehatan.
Dari proses tersebut, tim menemukan kebutuhan untuk mengubah pola pencatatan yang selama ini dilakukan secara manual melalui berbagai buku register menjadi sistem berbasis digital.
Digitalisasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menggantikan pencatatan di atas kertas. Sistem dirancang agar data kesehatan masyarakat dapat terintegrasi, lebih mudah diperbarui, serta dapat digunakan sebagai dasar pemantauan kondisi kesehatan warga.
Berdasarkan hasil analisis, terdapat empat komponen utama yang akan dikembangkan.
Pertama, database keluarga terintegrasi yang memungkinkan data kesehatan anggota keluarga dalam berbagai kelompok usia dihimpun dalam satu identitas keluarga. Data tersebut mencakup ibu hamil, bayi dan balita, anak usia sekolah, usia produktif hingga lansia.
Kedua, digitalisasi skrining dan kunjungan rumah. Kader nantinya dapat mencatat berbagai indikator kesehatan secara digital, antara lain data antropometri balita, tekanan darah, gula darah, hingga pemantauan penyakit tidak menular (PTM).
Ketiga, otomatisasi rekapitulasi dan pelaporan. Data yang telah dimasukkan dapat diolah menjadi rekapitulasi secara lebih cepat sehingga kader tidak perlu melakukan penghitungan dan penyalinan data secara berulang untuk kebutuhan pelaporan kepada Pustu maupun Puskesmas Pakis.
Keempat, desain antarmuka yang sederhana dan adaptif. Sistem dirancang agar dapat digunakan melalui smartphone dengan tampilan yang mudah dipahami oleh kader dari berbagai kelompok usia.
Kurangi Beban Administrasi
Ketua Tim PkM Unesa, Monica Cinthya mengatakan, hasil pemetaan kebutuhan menjadi dasar untuk memastikan sistem yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kader di lapangan.
Menurutnya, salah satu persoalan yang ditemukan adalah tingginya beban administrasi karena kader harus melakukan pencatatan data secara berulang pada sejumlah buku register.
"Sebagian besar kendala mitra adalah high administrative burden akibat pencatatan berulang di berbagai buku register. Melalui sosialisasi ini, kami menunjukkan bagaimana arsitektur sistem yang dirancang mampu meningkatkan efisiensi waktu input data, menjamin validitas data kesehatan warga, serta menyajikan Dasbor Pemantauan Kesehatan secara real-time," ujar Monica, Rabu (19/8/2026).
Digitalisasi juga diharapkan dapat membantu kader bekerja lebih efisien. Dengan data yang tersimpan dalam satu sistem, informasi kesehatan keluarga dapat lebih mudah ditelusuri dan diperbarui ketika diperlukan.
Bagi layanan Posyandu ILP, ketersediaan data yang lebih terstruktur juga penting untuk mendukung pendekatan layanan kesehatan sepanjang siklus hidup.
"Data yang dikumpulkan tidak berhenti pada kegiatan penimbangan atau pemeriksaan rutin, tetapi dapat menjadi bagian dari pemantauan kesehatan keluarga secara berkelanjutan," tuturnya.
Berpotensi Jadi Pilot Project
Ketua ILP RW 15 Desa Mangliawan, Anjasmoro Hestuti, mengapresiasi kontribusi akademisi Unesa dalam menghadirkan solusi teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Ia berharap sistem tersebut dapat membantu kader dalam menjalankan tugas administrasi sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan data kesehatan di Posyandu ILP RW 15.
Pihaknya juga optimistis Posyandu ILP RW 15 dapat menjadi pilot project digitalisasi Posyandu ILP di wilayah Kecamatan Pakis apabila sistem yang dikembangkan nantinya dapat berjalan dengan baik.
Setelah tahap sosialisasi dan penyusunan spesifikasi sistem selesai, tim dosen dan mahasiswa Unesa akan melanjutkan program ke tahap prototyping, pengujian sistem melalui black-box testing dan usability testing, serta pelatihan teknis bagi para kader.
Melalui tahapan tersebut, sistem diharapkan tidak hanya mampu mempercepat pekerjaan administrasi, tetapi juga menghasilkan data kesehatan keluarga yang lebih tertata, mudah diakses, dan dapat mendukung pengambilan keputusan layanan kesehatan di tingkat masyarakat.(ADV)
Reporter: Amanah





.jpg)