21 August 2026

Get In Touch

3,7 Liter Minuman Fermentasi Berusia 2.300 Tahun Ditemukan di Dekat Tembok China

3,7 Liter Minuman Fermentasi Berusia 2.300 Tahun Ditemukan di Dekat Tembok China

SURABAYA ( LENTERA ) - Sebuah botol perunggu yang terkubur selama lebih dari dua milenium menyimpan petunjuk tentang bagaimana masyarakat China kuno membuat minuman beralkohol.

Arkeolog menemukan sekitar 3,7 liter cairan di dalam wadah perunggu dari makam M39 di kompleks pemakaman Shanjiabao, Guyuan, Ningxia, China. Lokasi tersebut hanya sekitar 2 kilometer dari peninggalan Tembok Besar Qin.
Cairan itu diperkirakan berasal dari periode Negara-Negara Berperang (475–221 SM). 

Wadahnya masih tersegel ketika ditemukan.
Yang membuat temuan ini istimewa bukan hanya usianya. Cairan tersebut masih berada dalam bentuk cair setelah sekitar 2.300 tahun.

Menurut laporan, cairan dalam wadah itu tampak jernih dengan warna biru kehijauan dan tidak menunjukkan aroma yang terdeteksi.
Laporan media internasional juga menggambarkan cairan tersebut sebagai berwarna biru-hijau pucat, bening, dan tidak berbau. Analisis kemudian menunjukkan bahwa cairan itu bukan air tanah yang merembes ke dalam makam, melainkan minuman beralkohol yang sengaja dibuat. 

Wadah tersebut memiliki leher menyerupai bentuk bawang putih. Bagian mulutnya ditutup menggunakan material tekstil dan lapisan penutup organik. Kondisi tersebut diduga membantu mencegah masuknya udara maupun cairan dari lingkungan sekitar.

Kondisi makam yang relatif kering serta karakter wadah perunggu juga diperkirakan ikut membantu mengawetkan cairan.

Ternyata bukan wine

Meski sejumlah laporan populer menyebutnya sebagai “wine”, penelitian menunjukkan bahwa minuman tersebut bukan wine berbahan anggur.Minuman itu merupakan alkohol berbasis serealia.

Bahan utamanya adalah broomcorn millet atau millet jenis Panicum miliaceum. Peneliti juga menemukan jejak kelompok gandum atau jelai dari keluarga Triticeae. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu telah memanfaatkan serealia untuk menghasilkan minuman fermentasi. 

Karena bahan dasarnya serealia dan bukan anggur, sejumlah media internasional menyebut minuman tersebut lebih dekat dengan beer atau minuman fermentasi sejenis bir ketimbang wine.

History, misalnya, menyebut temuan tersebut sebagai beer dan mencatat bahwa minuman berbasis millet itu kemungkinan ditempatkan di makam sebagai bekal bagi orang yang meninggal.

Namun, menyebutnya “bir” juga perlu diberi konteks. Minuman itu tentu tidak identik dengan bir modern yang biasa ditemukan di pasaran.

2.400 senyawa ditemukan

Para peneliti menggunakan berbagai metode analisis untuk mengidentifikasi isi wadah. Di antaranya spektroskopi inframerah transformasi Fourier atau FTIR, spektrometri massa, kromatografi cair resolusi tinggi, metabolomik, serta analisis mikrofosil. 

Hasilnya menunjukkan komposisi kimia yang sangat kompleks.

Peneliti menemukan lebih dari 2.400 senyawa organik dalam cairan tersebut. Senyawa itu mencakup asam amino, peptida, gula, karbohidrat, asam organik, asam lemak, alkohol, ester, serta berbagai senyawa lain yang berkaitan dengan bahan dan proses fermentasi. 

Komposisi tersebut memperkuat kesimpulan bahwa cairan tersebut merupakan minuman yang sengaja difermentasi, bukan cairan yang masuk ke dalam wadah selama ribuan tahun.

Penelitian juga menemukan jejak mikrofosil, termasuk pati dan sisa tumbuhan, yang mendukung identifikasi bahan serealia.
Jejak teknik fermentasi masyarakat Qin
Penemuan tersebut bukan sekadar soal minuman beralkohol kuno.

Bagi arkeolog, isi botol memberikan gambaran tentang teknologi pangan masyarakat Qin pada masa Negara-Negara Berperang.

Penulis pertama penelitian, Ruru Chen dari Northwest University, mengatakan:“Studi ini memberikan pemahaman yang jelas tentang pemanfaatan serealia dan teknik pembuatan minuman masyarakat Qin.”

Analisis terhadap bahan menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki pengetahuan mengenai pemilihan bahan dan proses fermentasi.

Penelitian bahkan menemukan indikasi penggunaan qu, yakni starter fermentasi tradisional China yang masih memiliki peran penting dalam pembuatan sejumlah minuman beralkohol China hingga kini. Jejak gandum atau jelai diduga berkaitan dengan pembuatan starter tersebut. 

Artinya, minuman tersebut bukan sekadar hasil serealia yang dibiarkan mengalami fermentasi secara kebetulan. Komposisinya menunjukkan adanya pengetahuan teknis mengenai bagaimana bahan diolah menjadi minuman.

Sebagian besar temuan minuman beralkohol kuno biasanya hanya berupa residu yang menempel pada permukaan wadah. Dalam kasus Shanjiabao, peneliti justru menemukan ribuan mililiter cairan yang masih tersimpan di dalam wadah.

Teknik penyegelan menjadi salah satu faktor penting.

Botol tersebut menggunakan lapisan penutup yang membantu mengisolasi bagian dalam dari lingkungan luar. Kondisi makam yang kering juga kemungkinan mengurangi risiko kontaminasi.

Dengan kombinasi wadah, penyegelan, dan lingkungan makam, cairan tersebut mampu bertahan dalam kondisi yang sangat tidak biasa.

Pemakaman Shanjiabao bukan situs kecil.
Kompleks tersebut memiliki 183 makam dari periode Negara-Negara Berperang. Sebanyak 179 makam berkaitan dengan masyarakat Qin, termasuk kelompok yang tinggal di kawasan pertahanan perbatasan. 

Makam M39 menjadi salah satu yang paling menarik karena menyimpan botol perunggu berisi minuman tersebut.(far,ist/dya)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.