24 August 2026

Get In Touch

Shrimp Army Cup 2026 Digelar di Tulungagung, Penggagas Ingin Bawa ke Trenggalek

Anjar Priadi Putra, penggagas Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 asal Trenggalek, saat menyampaikan alasan turnamen tahun ini digelar di Tulungagung.
Anjar Priadi Putra, penggagas Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 asal Trenggalek, saat menyampaikan alasan turnamen tahun ini digelar di Tulungagung.

TRENGGALEK (Lentera) – Turnamen sepak bola senior Shrimp Army Bupati Tulungagung Cup 2026 yang digagas putra asli Trenggalek, Anjar Priadi Putra mendapat antusiasme tinggi hingga, Sabtu (22/8/2026), sebanyak 31 tim telah mendaftar dari total kuota 32 peserta.

Turnamen antarklub se-Eks Karesidenan Kediri tersebut akan berlangsung di Stadion Rejoagung, Tulungagung, mulai 26 September 2026. Selain memperebutkan total hadiah Rp50 juta, peserta juga akan memperebutkan trofi yang disiapkan khusus dengan nilai sekitar Rp4 juta.

Rincian hadiah yang disediakan cukup besar, dimana juara pertama akan membawa pulang Rp25 juta, juara kedua mendapatkan Rp15 juta, sedangkan dua tim yang terhenti di babak semifinal masing-masing memperoleh Rp5 juta.

Di balik pelaksanaan turnamen tersebut, terdapat keinginan Anjar untuk sebenarnya membawa kompetisi serupa ke tanah kelahirannya, Trenggalek. Namun, rencana itu belum bisa diwujudkan tahun ini, karena sejumlah pertimbangan mengenai kondisi dan mekanisme penyelenggaraan sepak bola di daerah tersebut.

“Sebagai orang Trenggalek tentu saya punya keinginan turnamen ini bisa dilaksanakan di daerah sendiri. Tetapi setelah melihat situasi yang berkembang, untuk tahun ini kondisinya memang belum memungkinkan,” kata Anjar.

Menurut Anjar, kesiapan sebuah turnamen tidak hanya ditentukan oleh keberadaan klub dan stadion. Prosedur pertandingan, termasuk rekomendasi dari pihak terkait, juga menjadi bagian penting yang harus dipastikan sebelum kompetisi digelar.

“Kami tidak ingin hanya mengejar terlaksananya pertandingan, tetapi kemudian muncul persoalan karena ada tahapan yang belum terpenuhi. Jadi semuanya harus benar-benar dipastikan terlebih dahulu,” ujarnya.

Ia menyebut, pengalaman turnamen antarsekolah di Trenggalek menjadi salah satu pertimbangan. Saat itu, kegiatan disebut tidak mendapatkan rekomendasi dan berujung pada sanksi terhadap sembilan perangkat pertandingan selama satu tahun.

“Dari pengalaman itu, kita bisa melihat bahwa penyelenggaraan pertandingan harus mengikuti mekanisme yang ada. Ketika rekomendasi belum diperoleh tetapi pertandingan tetap berjalan, akhirnya perangkat pertandingan juga terkena dampaknya,” jelasnya.

Karena itu, Anjar memilih tidak memaksakan penyelenggaraan turnamen di Trenggalek, sebelum kondisi dan sistem sepak bola setempat benar-benar siap.

Meski demikian, peluang membawa Shrimp Army Cup ke Trenggalek pada masa mendatang masih terbuka. Ia mengaku, akan terus mempelajari perkembangan sepak bola di daerah asalnya tersebut.

“Kalau nanti kondisinya sudah memungkinkan, tentu saya ingin membawa turnamen ini ke Trenggalek. Bagi saya, menggelar kompetisi di tanah kelahiran sendiri akan menjadi kebanggaan tersendiri,” ungkapnya.

Anjar berharap, kondisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperkuat pembinaan sepak bola Trenggalek. Menurutnya, diperlukan perubahan secara sistem agar perkembangan sepak bola daerah tidak semakin tertinggal.

“Kita perlu duduk bersama dan melihat apa yang masih kurang dari sistem sepak bola di Trenggalek. Kalau ada yang perlu dibenahi, saya kira harus ada keberanian untuk melakukan perubahan,” tegasnya.

Ia juga melihat, adanya perbedaan perkembangan pembinaan sepak bola antara Trenggalek dan Tulungagung. Padahal, kedua wilayah tersebut secara geografis berdekatan.

“Kalau dibandingkan, perkembangan pembinaan sepak bola di Tulungagung dan Trenggalek memang masih memiliki jarak. Padahal kedua daerah ini letaknya berdekatan,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut semestinya menjadi perhatian bersama agar pembinaan pemain dan kompetisi di Trenggalek dapat berkembang lebih baik.

Sementara itu, Tulungagung dinilai, memiliki kesiapan yang lebih mendukung untuk penyelenggaraan turnamen tahun ini. Anjar menyebut pihaknya mendapat sambutan positif dari berbagai unsur, mulai dari KONI, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Asosiasi Provinsi (Asprov), hingga pemerintah daerah.

“Di Tulungagung kami mendapat respons yang sangat positif. Dukungan datang dari KONI, Dispora, Asprov, bahkan bupati juga menyambut baik rencana kegiatan ini. Itu menjadi salah satu alasan kami akhirnya memutuskan turnamen tahun ini digelar di Tulungagung,” pungkasnya.

 

Reporter: Herlambang/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.