Tim PkM FIKK Unesa dan UTM Edukasi Gizi Seimbang serta Skrining Kebugaran Komunitas B40 di Johor
MALAYSIA (Lentera) — Menjaga kesehatan tidak selalu membutuhkan biaya besar. Pengaturan porsi makanan, pemilihan bahan pangan yang terjangkau, serta kebiasaan aktif bergerak dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun pola hidup sehat.
Pesan tersebut menjadi bagian utama dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tim Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Universiti Teknologi Malaysia (UTM) bagi Komunitas B40 Larkin, Johor Bahru, Malaysia, Minggu (9/8/2026).
Kegiatan bertajuk “Sosialisasi Gizi Seimbang dan Skrining Kebugaran Jasmani Berbasis Komunitas di Johor Bahru, Malaysia” tersebut memadukan edukasi mengenai pola makan seimbang dengan aktivitas fisik dan pemeriksaan kebugaran.
Pendekatan ini dirancang agar masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang kesehatan, tetapi juga memahami cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Jo Zumba (Johor Zumba) yang diikuti warga. Aktivitas tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan pentingnya aktivitas fisik secara menyenangkan sekaligus mendorong masyarakat agar menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas.
Setelah itu, peserta mengikuti skrining kebugaran jasmani untuk memperoleh gambaran awal mengenai kondisi kebugaran masing-masing. Pemeriksaan tersebut juga menjadi momentum edukasi bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh makanan yang dikonsumsi, tetapi juga oleh aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin.
Edukasi kemudian dilanjutkan melalui tema “Harmonisasi Gizi Indonesia–Malaysia: dari Isi Piringku ke Suku-Suku-Separuh untuk Keluarga Lebih Sehat.” Konsep tersebut mempertemukan dua pendekatan edukasi gizi yang digunakan di Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia dikenal panduan Isi Piringku, sedangkan Malaysia menggunakan konsep Suku-Suku-Separuh.
Meski memiliki istilah berbeda, keduanya menekankan prinsip yang sama, yakni mengatur komposisi makanan agar lebih seimbang dan mendukung kebutuhan tubuh.
Dalam praktiknya, masyarakat diajak memperhatikan proporsi makanan dalam satu kali makan dengan tidak hanya berfokus pada sumber karbohidrat, tetapi juga memastikan adanya sumber protein serta sayur dan buah.
Pola makan yang beragam dan proporsional menjadi salah satu dasar penting dalam menjaga kesehatan keluarga.
Peserta juga diberikan pemahaman bahwa menerapkan gizi seimbang tidak harus identik dengan makanan mahal. Pemanfaatan bahan pangan lokal, pemilihan makanan sesuai kemampuan ekonomi, pengaturan porsi, serta keberagaman menu dapat menjadi strategi sederhana untuk memperbaiki pola makan keluarga.
Wakil Dekan I FIKK Unesa, Prof. Dr. Or. Gigih Siantoro, S.Pd., M.Pd., mengatakan edukasi gizi perlu disampaikan dengan pendekatan yang praktis agar mudah diterapkan masyarakat.
“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah bahwa hidup sehat dapat dimulai dari hal yang sederhana, yaitu bagaimana kita mengatur isi piring dan tetap aktif bergerak. Indonesia memiliki konsep Isi Piringku, sedangkan Malaysia memiliki Suku-Suku-Separuh. Prinsip dasarnya sejalan, sehingga sangat menarik untuk mempertemukan keduanya dalam kegiatan bersama masyarakat,” ujarnya, dikutip Sabtu (22/8/2026).
Menurut Gigih, pemilihan Komunitas B40 Larkin sebagai sasaran kegiatan juga menjadi bagian penting dalam mengembangkan edukasi kesehatan yang mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
B40 merupakan istilah yang digunakan di Malaysia untuk merujuk kelompok rumah tangga yang berada pada 40 persen terbawah dalam distribusi pendapatan. Karena itu, edukasi kesehatan bagi kelompok tersebut perlu mempertimbangkan aspek keterjangkauan pangan, kebiasaan makan keluarga, akses informasi kesehatan, serta kemudahan penerapan rekomendasi.
“Gizi seimbang harus dapat diterapkan oleh semua keluarga. Karena itu, edukasi tidak hanya berbicara mengenai makanan apa yang sehat, tetapi juga bagaimana memilih makanan yang tersedia, terjangkau, dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan UTM, Dr. Shahrin bin Hashim, menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, kegiatan berbasis komunitas menjadi bentuk kerja sama internasional yang memungkinkan pengetahuan akademik memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat.
“Usaha sama sebegini menggabungkan pengetahuan akademik dengan keperluan sebenar masyarakat. Kami berharap kerjasama antara Indonesia dan Malaysia dapat terus diperkembangkan pada masa hadapan,” katanya.
Kolaborasi tersebut juga menunjukkan adanya kedekatan budaya pangan antara Indonesia dan Malaysia. Kesamaan bahan pangan, pola konsumsi, hingga sejumlah tantangan kesehatan masyarakat menjadi peluang bagi perguruan tinggi kedua negara untuk saling bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam mengembangkan promosi kesehatan yang sesuai dengan konteks masyarakat.
Melalui kombinasi Jo Zumba, skrining kebugaran, dan edukasi gizi, masyarakat mendapatkan pengalaman langsung mengenai pentingnya keseimbangan antara pola makan dan aktivitas fisik. Skrining juga dapat menjadi langkah awal bagi individu untuk lebih mengenali kondisi kebugarannya dan meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan secara berkelanjutan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi implementasi Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat, melalui kerja sama internasional.
Program ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 17 atau Partnerships for the Goals, serta mendukung SDGs 3 atau Good Health and Well-being melalui upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
Kolaborasi Unesa dan UTM diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat dikembangkan menjadi program berkelanjutan di bidang gizi, kebugaran jasmani, serta pencegahan penyakit tidak menular. (ADV)
Reporter: Amanah





.jpg)