Kepala Mossad sempat melakukan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Suriah pekan lalu, beberapa hari sebelum Israel menyerang pangkalan udara Damaskus
Menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut, dikutip dari Reuters, Kamis (20/8/2026), mereka membahas kehadiran militer Turkiye di Suriah.
Percakapan telepon yang terjadi pada Jumat (14/8/2026) antara kepala badan intelijen Mossad, Roman Gofman dan Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani itu adalah salah satu kontak tingkat tertinggi antara kedua negara.
Kantor perdana menteri Israel, yang menangani pertanyaan terkait Mossad, tidak segera menanggapi permintaan komentar, begitu pula juru bicara Shaibani.
Israel tolak kehadiran militer Turkiye di Suriah
Setelah Israel menyerang pangkalan udara Abu al-Duhur pada Selasa (18/8/2026), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Damaskus hampir mengizinkan pasukan Turkiya untuk ditempatkan di sana.
Hal itu sekaligus mengabaikan peringatan berulang Israel bahwa penempatan tersebut akan menimbulkan ancaman terhadap keamanan Tel Aviv.
Sumber-sumber tersebut mengatakan bahwa isu dukungan militer Turkiye untuk Suriah mendominasi percakapan telepon Gofman dengan Shaibani empat hari sebelumnya.
"Percakapan telepon tersebut berpusat pada pertanyaan Israel tentang apa yang dilakukan Turkiye dalam hal meningkatkan kehadiran militer mereka, serta penjualan senjata, penyediaan drone, dan masalah lainnya," kata salah satu sumber.
Sumber kedua, seorang pejabat senior mengatakan, Gofman menggunakan panggilan tersebut untuk menanyakan tentang penyediaan senjata oleh Turkiye kepada tentara Suriah.
Sumber ketiga yang mengetahui masalah ini membenarkan bahwa panggilan telepon tersebut memang terjadi dan membenarkan bahwa mereka membahas kehadiran militer Turkiye di Suriah.
Kementerian Pertahanan Turkiye menolak berkomentar dan Kementerian Luar Negeri tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Bantahan Turkiye
Kepresidenan Turkiye pada Rabu menolak tuduhan yang tidak dapat diterima oleh Israel mengenai posisi militernya di Suriah.
Mereka menegaskan, Israel bertujuan untuk melegitimasi serangan udara ilegal yang menargetkan kedaulatan dan integritas wilayah Suriah.
"Turkiye akan terus bekerja sama dengan Pemerintah Suriah atas dasar yang sah untuk mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran," bunyi pernyataan itu, tanpa menyebutkan rencana pengerahan pasukan potensial apa pun.
Duta besar AS untuk Turkiye dan utusan khusus untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack mengatakan, serangan Israel merupakan eskalasi yang tidak perlu dan tidak memajukan stabilitas regional.
Dalam komentar terpisah pada Selasa, Barrack menyebut Washington sedang berupaya untuk membangun mekanisme dekonflik antara Israel, Turkiye, dan Suriah.
Ia menambahkan, AS telah memfasilitasi mekanisme berbagi informasi dan dialog di antara pihak-pihak tersebut.
Intelijen Wanita Yahudi
Wartawan Harian Kompas untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika, Musthafa Abd Rahman menulis: publik Israel dibuat kagum oleh program investigasi stasiun televisi Israel saluran 12 awal Februari 2021 dengan tema “Menengok Peran Kaum Wanita dalam Operasi Mossad” (9/2/2021)..
Hasil investigasi tersebut menunjukkan betapa besar kaum wanita Yahudi di balik suksesnya operasi senyap dinas intelijen luar Israell (Mossad) dalam sejarah di berbagai di berbagai negara. Bahkan, merupakan peran terbaik kaum wanita di balik suksesnya operasi Mossad mewujudkan kesepakatan Ibrahim -Abraham Accord.
Abraham Accord adalah kesepakatan damai Israel dengan sejunlah negara Arab yang meliputi: Uni Emirat Arab/UEA, Bahrain, Sudan dan Maroko dengan mediator mantan Presiden Donald Trump (2020).
Bagi Israel dan AS, Abraham Accord merupakan prestasi diplomasi terbesar hubungannya dengan dunia Arab, setelah kesepakatan Oslo antara Israel dan Palestina (1993) dan kesepakatan damai Israel-Mesir di Camp David (1979).
Menurut investigasi stasiun televisi Israel saluran 12, ada operasi senyap sekelompok wanita yang melakukan komunikasi rahasia cukup intensif dengan sejumlah pemimpin negara Arab Teluk (UEA dan Bahrain) beberapa bulan sebelum tercapainya Abraham Accord.
Sekelompok wanita yang merupakan agen elite Mossad melakukan lobi tingkat tinggi secara rahasia untuk membujuk para pemimpin negara Arab Teluk menerima tawaran Israel: membuka hubungan diplomatik resmi dengan iming-iming imbalan menggiurkan!
Berkat andil agen perempuan Mossad tersebut, akhirnya UEA bersedia membuka hubungan resmi dengan Israel pada Agustus 2020, Bahrain membuka hubungan pada September 2020, dan Sudan-Israel pada Oktober 2020. Terakhir, Maroko-Israel pada Desember 2020.
Direktur Mossad, Yossi Cohen memberi penghargaan khusus kepada delapan wanita jajaran elite Mossad atas jasa-jasa mereka ikut mewujudkan Abraham Accord. Tidak diungkap identitas delapan agen itu dengan alasan keamanan.
Namun, masih banyak negara di Timur Tengah, termasuk Irak dan Palestina yang mengecam keras Abraham Accord.
Dalam sejarah operasi Mossad, kaum wanita memegang peranan besar dalam menyukseskan operasi dinas intelijen -yang disebut-sebut sebagai salah satu terbaik di dunia.
Investigasi stasiun televisi Israel saluran 12 itu mengungkapkan, salah seorang wanita tangguh dari agen Mossad dengan nama sandi “Yael” telah sukses melakukan operasi dengan sandi “Musim Semi Pemuda” di kota Beirut, Lebanon pada 1970-an.
Pada operasi tersebut, Mossad berhasil membunuh salah seorang pemimpin Palsetina, Hassan Salamah, di Beirut pada 1979. Hassan Salamah seorang pendiri satuan elite 17 yang merupakan andalan militer Palestina saat itu.
Cerita lain. Agen elite perempuan Mossad sukses menyamar dan menembus Gurun Sinai, lalu mencapai posisi pasukan Mesir. Wanita itu berhasil memetakan posisi tank pasukan Mesir.
Agen wanita tersebut lalu memberi informasi rahasia kepada kantor pusat Mossad dan kementerian pertahanan Israel.
Bisa ditebak hasilnya!
Penulis: Arifin BH, Pemimpin Redaksi




.jpg)