01 September 2026

Get In Touch

Ketua DPRD Trenggalek Ungkap Pesan Leluhur di Balik Jamasan Pusaka

Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi menjamas salah satu pusaka bersama Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin dalam rangkaian jamasan pusaka menjelang Hari Jadi ke-832 Trenggalek di Pendopo Kabupaten Trenggalek.
Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi menjamas salah satu pusaka bersama Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin dalam rangkaian jamasan pusaka menjelang Hari Jadi ke-832 Trenggalek di Pendopo Kabupaten Trenggalek.

TRENGGALEK (Lentera) - Jamasan pusaka yang digelar menjelang Hari Jadi ke-832 Trenggalek tidak sekadar menjadi tradisi untuk membersihkan benda-benda peninggalan masa lalu. Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi menilai berbagai pusaka yang dijamas menyimpan filosofi dan pesan moral dari para leluhur yang masih relevan bagi para pemimpin saat ini.

Doding mengatakan, pusaka yang dijamas memiliki beragam bentuk, mulai dari tombak, payung, hingga Prasasti Kamulan. Seluruhnya merupakan bagian dari peninggalan pemerintahan dan sejarah Trenggalek yang mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan akar sejarah serta leluhurnya.

"Artinya kita membersihkan pusaka-pusaka yang ada di Trenggalek. Pusaka-pusaka itu bermacam-macam dari tombak, payung dan sebagainya, peninggalan-peninggalan dari pemerintahan kita Trenggalek yang dahulu. Terus ada juga Prasasti Kamulan," ujar Doding usai mengikuti jamasan pusaka di Pendopo Trenggalek, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Doding, salah satu pusaka yang memiliki filosofi kuat adalah Tombak Korowelang. Ia menjelaskan, nama Korowelang dimaknai sebagai pesan kepada pemimpin agar mampu memperhatikan dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

"Koro itu perkara. Perkara-perkara rakyat itu tugasnya pemimpin harus menyelesaikan permasalahan di rakyat. Juga welang itu piwulang," jelasnya.

Filosofi tersebut, lanjut Doding, juga mengandung pesan agar pemimpin tidak hanya menyelesaikan persoalan masyarakat, tetapi turut memberikan pembelajaran dan pelayanan yang baik, termasuk dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

"Sebagai pemimpin juga harus memberi pembelajaran, memberi pendidikan, kesehatan kepada masyarakat yang baik. Jadi pesan leluhur kita, sebagai pemimpin di Trenggalek kita harus bisa benar-benar bekerja menyelesaikan permasalahan yang ada di Trenggalek," katanya.

Selain Tombak Korowelang, Doding juga menyoroti filosofi payung atau songsong yang menurutnya menggambarkan tanggung jawab seorang pemimpin dalam menaungi seluruh kepentingan masyarakat.

Ia menilai seorang pemimpin harus mampu memberikan perlindungan dan kemaslahatan bagi masyarakat dalam berbagai aspek, mulai dari kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan, hingga kelestarian alam.

"Seorang pemimpin harus memayungi seluruh kemaslahatan Trenggalek, baik itu secara kehidupan rakyatnya, secara ekonomi, secara kesehatan, secara alam. Kita harus memberi sumbangsih yang baik pada masyarakat," ungkapnya.

Doding menegaskan, jamasan pusaka menjadi momentum untuk kembali memahami nilai-nilai yang diwariskan para leluhur. Menurutnya, filosofi yang terkandung dalam pusaka tersebut bukan sekadar bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi dan para pemimpin Trenggalek untuk menjalankan tanggung jawab kepada masyarakat.

"Ini adalah pesan moral yang ditinggalkan oleh para leluhur kita yang harus kita jaga bersama," pungkasnya. (Adv)

 

Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.