NEPAL (Lentera) - Korban tewas akibat banjir yang melanda perbatasan Nepal-Tibet meningkat menjadi 626 orang dan jumlah orang hilang mendekati angka 3.000 pada Sabtu (29/8/2026) berdasarkan data Kepolisian Nepal.
Sementara otoritas penanggulangan bencana negara itu melaporkan total 2.426 orang hilang di wilayah perbatasan sisi Nepal, di mana 517 di antaranya adalah warga negara asing—yang bisa mencakup wisatawan maupun pekerja asing.
Otoritas Tiongkok melaporkan bahwa jumlah korban tewas di Tibet telah meningkat menjadi setidaknya tujuh orang, dengan 554 orang dinyatakan hilang.
Melansir Al Jazeera banjir awalnya terjadi pada Rabu pagi ketika sebagian gletser runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter di pegunungan Himalaya, meluncur jatuh sejauh sekitar 1.200 meter sambil menyeret bebatuan dan puing-puing sebelum akhirnya menghantam Sungai Lende.
Lonjakan air yang diakibatkannya menyapu ke arah selatan melintasi distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading di Nepal; pada satu titik, ketinggian air Sungai Trishuli naik hingga 9 meter hanya dalam waktu 30 menit. Survei Geologi AS (USGS) merevisi temuan awal mereka mengenai pemicu gempa bumi, dan menyimpulkan bahwa sinyal seismik tersebut justru berasal dari peristiwa longsor itu sendiri.
Peristiwa itu juga menyebabkan sebuah danau baru terbentuk di lokasi keruntuhan dan permukaan airnya mulai naik setelahnya, sehingga memicu penghentian sementara upaya pencarian karena kekhawatiran akan banjir susulan.
Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang mengunjungi lokasi bencana di Gyirong pada hari Kamis, (27/8/2026) sementara Presiden Xi Jinping memimpin rapat yang menginstruksikan para pejabat untuk "menyusun rencana pencarian dan penyelamatan secara ilmiah" serta memperketat pemantauan terhadap danau-danau glasial, menurut laporan media pemerintah.
Bantuan internasional telah tiba dari India, PBB, Federasi Palang Merah, Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Para pejabat memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan akan terus bertambah seiring upaya tim penyelamat menjangkau wilayah-wilayah yang masih terisolasi akibat lumpur dan jalan yang hancur diterjang air. (*)
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)