SLEMAN (Lentera) - Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran (APG) sejauh 2 kilometer ke arah barat daya dalam dua hari berturut-turut.
Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut, status aktivitas Gunung Merapi masih berada di Level III atau Siaga, mengutip Kompas.com, Minggu (30/8/2026).
Dengan suplai magma yang masih intensif, BPPTKG merekomendasikan, masyarakat tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya.
Potensi bahaya saat ini, meliputi sejumlah sungai yang berada di sektor selatan-barat daya dan sektor tenggara Gunung Merapi.
Pada sektor selatan-barat daya, potensi bahaya mencakup Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer.
Selain itu, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng masuk dalam daerah potensi bahaya dengan jarak maksimal 7 kilometer. Sektor ini menjadi arah luncuran awan panas guguran yang terjadi pada Jumat (28/8/2026) malam dan Sabtu (29/8/2026) pagi.
Luncuran pertama terjadi, pada Jumat (28/8/2026) pukul 21.22 WIB dengan estimasi jarak luncur 2.000 meter, amplitudo maksimum 87,74 milimeter, dan durasi 116,97 detik.
Luncuran kedua kembali terjadi, pada Sabtu (29/8/2026) pukul 09.18 WIB dengan estimasi jarak luncur 2.000 meter, amplitudo maksimum 31,9 milimeter, dan durasi 142,28 detik.
Rangkaian luncuran awan panas tersebut mengarah ke sektor barat daya, yakni ke hulu Kali Sat dan Kali Putih.
Selain sektor selatan-barat daya, BPPTKG juga menetapkan, potensi bahaya di sektor tenggara Gunung Merapi. Potensi bahaya di sektor ini meliputi Sungai Woro dengan jarak maksimal 3 kilometer.
Sementara itu, Sungai Gendol masuk dalam daerah potensi bahaya sejauh maksimal 5 kilometer. Dengan demikian, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di daerah-daerah yang masuk dalam rekomendasi potensi bahaya tersebut.
Selain bahaya yang berkaitan dengan aliran di sejumlah sungai, BPPTKG juga mengingatkan, adanya potensi lontaran material vulkanik. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Masyarakat diminta mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan BPPTKG dan tidak melakukan kegiatan di daerah potensi bahaya.
Sementara itu, luncuran awan panas guguran yang terjadi dua kali berturut-turut tidak memberikan dampak signifikan di wilayah Sleman.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan, kondisi tersebut karena arah luncuran lebih dominan ke barat daya menuju Kali Sat dan Kali Putih yang masuk wilayah Kabupaten Magelang.
"Tidak ada (dampaknya di Sleman)," kata Bambang, dikutip dari Tribun Jogja, Sabtu (29/8/2026).
Kepala Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Heri Wibowo juga memastikan wilayah tersebut terpantau aman, berdasarkan pemantauan petugas di Pos Karhut Srumbung.
"Hasil pantauan kawan di pos karhut Srumbung aman. Asap tadi pagi ada, namun dari guguran lava panas, kalau didekati juga membahayakan petugas. Sekarang petugas juga masih memantau," ungkap Heri.
Sementara itu, BPPTKG memastikan status aktivitas Gunung Merapi masih berada di Level III atau Siaga. Dengan suplai magma yang masih intensif mendorong kubah lava, masyarakat tetap diminta tidak beraktivitas di zona-zona yang masuk daerah bahaya.
Editor: Arief Sukaputra




.jpg)