Raisya Bawazier Digugat Cerai Usai 8 Bulan Menikah, Mengapa Pasangan Bisa Cepat Berpisah?
JAKARTA (Lentera) -Pernikahan yang baru berjalan beberapa bulan tidak selalu berujung pada kehidupan rumah tangga yang panjang.
Hal tersebut kembali menjadi perhatian setelah artis peran dan model Raisya Bawazier digugat cerai talak oleh suaminya, Muhammad Zidan, setelah sekitar delapan bulan menikah.
Gugatan cerai tersebut didaftarkan Zidan di Pengadilan Agama Jakarta Pusat pada 21 Agustus 2026. Perkara dengan nomor 1440/Pdt.G/2026/PA.JP itu kemudian memasuki sidang perdana pada 1 September 2026.
Dalam sidang perdana, Zidan menyebut ketidakcocokan dan perbedaan pendapat sebagai alasan pengajuan cerai. Namun, alasan spesifik dalam sebuah perceraian merupakan persoalan personal masing-masing pasangan dan tidak dapat digeneralisasi.
Fenomena pernikahan yang berakhir dalam waktu singkat sebenarnya bukan hal baru.
Pada awal 2026, komedian Boiyen juga menggugat cerai Rully Anggi Akbar setelah baru sekitar dua bulan menikah. Gugatan tersebut didaftarkan di Pengadilan Agama Tigaraksa pada 20 Januari 2026.
Lantas, mengapa pasangan yang baru menikah bisa memutuskan untuk berpisah?
Pacaran dan pernikahan memiliki dinamika berbeda
Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa dari Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.K.J., MSc, lamanya hubungan sebelum menikah tidak otomatis membuat pasangan siap menghadapi seluruh dinamika kehidupan rumah tangga.
“Seringkali kan jawaban gampangnya bilangnya enggak cocok. Tapi, dinamikanya enggak sesederhana itu,” ujar dr. Leonita, Rabu (2/9/2026).
Menurut dia, pacaran dan pernikahan merupakan dua fase hubungan dengan tantangan yang berbeda.
“Pacaran mau selama apa pun itu, enggak akan pernah sama dengan kehidupan pernikahan, yang hidupnya benar-benar bersama-sama di dimensi fisik dan emosi, dan berbagi tanggung jawab,” lanjutnya.
Saat berpacaran, pasangan memang dapat saling mengenal karakter, kebiasaan, nilai, hingga cara berkomunikasi.
Namun, keduanya belum tentu menghadapi seluruh konsekuensi dari keputusan yang dibuat bersama.
Kondisinya dapat berubah setelah menikah karena pasangan mulai menjalani kehidupan yang lebih terintegrasi.
Pembagian tugas rumah tangga, pengelolaan keuangan, kebiasaan sehari-hari, hubungan dengan keluarga besar, hingga keputusan mengenai masa depan menjadi bagian dari kehidupan bersama.
Perbedaan yang dulu terasa sederhana bisa menjadi lebih kompleks
Leonita mencontohkan persoalan mengenai keuangan atau hobi pasangan.
Ketika masih berpacaran, ketidaksetujuan mengenai cara pasangan menggunakan uang mungkin belum memberikan dampak langsung terhadap kehidupan satu sama lain karena keuangan keduanya masih terpisah.
Namun setelah menikah, keputusan tersebut dapat berpengaruh terhadap kestabilan rumah tangga. “Pas nikah, kalau kita enggak setuju pasangan kita punya hobi, misalnya, itu jadi lebih rumit karena dampaknya, konsekuensinya, dan pengaruhnya, itu enggak cuma ke pasangan,” tutur dr. Leonita.
Artinya, perbedaan yang sebenarnya sudah ada sejak masa pacaran dapat terasa berbeda ketika pasangan mulai berbagi tanggung jawab dan kehidupan sehari-hari.
Bukan berarti perbedaan tersebut pasti berujung pada perceraian. Namun, cara pasangan menghadapi dan menyelesaikan perbedaan menjadi lebih penting ketika keduanya telah terikat dalam kehidupan rumah tangga.
Pernikahan menguji realitas hidup bersama
Dikutip Kompas, Psikolog klinis dari NALA Mindspace, Shierlen Octavia, M.Psi., Psikolog, juga melihat adanya perbedaan antara tantangan dalam masa pacaran dan pernikahan.
“Pacaran biasanya menguji perasaan, sementara pernikahan menguji realitas hidup bersama, misalnya tentang membagi peran, tanggung jawab, keuangan, atau aktivitas keseharian lainnya,” tutur Shierlen.
Menurut Shierlen, pernikahan membuat pasangan berhadapan dengan kehidupan bersama secara lebih konkret.
Jika saat pacaran seseorang masih dapat menjalani kehidupannya secara terpisah, setelah menikah berbagai keputusan mulai memiliki konsekuensi terhadap pasangan.
Karena itu, kehidupan sehari-hari dapat memperlihatkan sisi hubungan yang sebelumnya belum sepenuhnya muncul.
Masalah dalam pernikahan tidak selalu bisa ditunda
Shierlen mengatakan, pasangan yang masih berpacaran terkadang memiliki lebih banyak ruang untuk menunda penyelesaian persoalan.
Ketika terjadi konflik, misalnya, pasangan dapat mengambil jarak dan kembali ke kehidupan masing-masing.
Situasi tersebut berbeda setelah menikah, terlebih jika keduanya sudah tinggal bersama dan berbagi berbagai tanggung jawab.
“Setelah menikah, pasangan tidak lagi bisa menghindar tanpa konsekuensi, sehingga, bisa jadi perbedaan yang selama ini tertutup karena pacaran, baru bisa terlihat saat sudah tinggal bersama,” jelas Shierlen (*)
Editor: Arifin BH




.jpg)