OPINI (Lentera) -Pernahkah Anda membayangkan, sebuah peristiwa yang terjadi di tengah laut antar-pulau dampaknya bisa terhampar langsung di atas kap mobil atau teras rumah Anda?
Kabar menyebarnya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga ke lima provinsi tiba-tiba menjadi trending di awal pekan ini. Yang kemudian membawa kenyataan itu tepat ke hadapan kita: melihat debu tipis kecokelatan hinggap di dedaunan halaman rumah tentu memicu sejuta tanya—dan tak jarang, sedikit rasa cemas.
Namun, alih-alih membayangkan skenario terburuk atau sibuk bertanya-tanya mengapa hal ini harus terjadi, ada cara yang lebih tenang dan bijak bagi kita dalam memandang fenomena ini?
Memaknai Fenomena Alam
Sebagai warga yang lahir dan besar di Indonesia, kita sebenarnya hidup di atas tanah yang sangat aktif. Pegunungan berapi bukanlah hiasan latar belakang di kalender, melainkan bagian dari ekosistem tempat kita berpijak.
Ketika Anak Krakatau meletus dan melepaskan abunya ke udara, itu bukanlah tanda bumi sedang murka atau nasib buruk sedang melanda. Dari kacamata paling sederhana, itu adalah tanda bahwa bumi tempat kita tinggal ini hidup dan sedang menjalankan siklus alaminya.
Abu yang terbang melintasi lima provinsi juga menjadi pengingat lembut bagi kita semua: batas wilayah di peta hanyalah buatan manusia. Di hadapan alam, kita semua terhubung di bawah langit yang sama. Apa yang terjadi di suatu daerah, efeknya sangat mungkin sampai ke depan pintu rumah kita.
Mengubah Rasa Takut Menjadi Rasa Waspada
Naluri pertama manusia saat berhadapan dengan fenomena alam biasanya adalah rasa takut. Sayangnya, rasa takut yang berlebihan sering kali mematikan logika. Kita jadi mudah percaya pada potongan video dramatis di grup percakapan, ikut menyebarkan pesan berantai yang belum jelas kebenarannya, atau bahkan borong bahan pokok karena panik.
Di sinilah kita perlu mengubah rasa takut menjadi rasa waspada
Ketakutan membuat kita panik dan hilang arah. Sementara itu, waspada membuat kita tetap tenang sembari mengambil tindakan nyata yang logis. Menjadi warga yang waspada sebenarnya sangat sederhana dan tidak butuh teori yang rumit. Untuk itu, saya merekomendasikan beberapa hal yang bisa kita lakukan bersama:
1. Saring Sebelum Sharing
Saat menerima video atau berita tentang letusan gunung di media sosial, tahan jempol untuk tidak langsung membagikannya. Pastikan dulu informasi tersebut berasal dari sumber resmi seperti BMKG, PVMBG, atau lembaga pemerintah terkait.
2. Siapkan Langkah Kecil di Rumah
Mitigasi bencana tidak selalu berarti simulasi besar-besaran. Buat masyarakat awam, tindakan sederhana seperti memastikan stok masker mencukupi, menutup tempat penampungan air bersih, dan mengelap kaca jendela secara berkala sudah menjadi bentuk perlindungan diri yang luar biasa.
3. Jaga Lingkungan Sekitar
Saling mengingatkan tetangga atau kerabat untuk memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan ketika ada sebaran abu tipis.
Tenang adalah Kunci
Pada akhirnya, kita memang tidak bisa menghentikan arah angin atau mengatur kapan gunung berapi harus berhenti beraktivitas. Namun, kita memegang kendali penuh atas bagaimana cara kita meresponsnya.
Abu Krakatau yang melintasi lima provinsi tidak hadir untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak kita untuk lebih mengenali lingkungan tempat tinggal sendiri. Dengan pikiran yang jernih, informasi yang benar, dan persiapan kecil di rumah masing-masing, kita bisa tetap menjalani aktivitas harian dengan tenang —tanpa perlu menyerahkan kedamaian pikiran kita pada rasa panik yang tidak perlu.
Tetap Semangat!
Penulis: Suhardiman Eko, Business Development Lentera Media|Editor: Arifin BH




.jpg)