MALANG (Lentera) - Pengelola UB Forest memperkuat mitigasi kebakaran hutan selama musim kemarau, dengan memanfaatkan drone termal Matrice 30T.
Teknologi tersebut digunakan untuk mendeteksi titik panas dari udara, sebelum petugas melakukan pengecekan dan penanganan langsung di lapangan.
"Kalau ada titik panas, langsung kami datangi untuk cek. Kalau ada titik api, itu kami segera matikan," ujar Koordinator Bidang Perlindungan dan Pengawasan Kawasan Hutan UB Forest, Dr. Muhammad Yusuf, S.Si., M.Si., Senin (7/9/2026).
Diketahui, dari hasil patroli menggunakan drone pada 25-27 Agustus 2026 menunjukkan adanya titik api di wilayah perbatasan barat UB Forest. Titik tersebut berada di luar kawasan UB Forest, tepatnya di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.
Meski berada di luar kawasan, pengelola tetap melakukan penanganan karena titik api tersebut berpotensi merembet ke kawasan UB Forest apabila tidak segera dikendalikan.
"Setelah titik tersebut terdeteksi, staf lapang kami langsung menuju ke daerah tersebut. Ada titik api, langsung kami padamkan," kata Yusuf.
Titik api tersebut kemudian berhasil dikendalikan sehingga tidak menyebar ke area yang lebih luas. Pengelola juga melakukan pemantauan lanjutan untuk memastikan tidak terdapat titik api susulan.
Hasil pengecekan kembali menunjukkan kawasan UB Forest dalam kondisi aman. Pemantauan menggunakan drone dilakukan untuk memastikan tidak muncul titik panas baru di dalam kawasan.
Sementara itu, Koordinator KJF Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan UB Forest, Rifqi Rahmat Hidayatullah, S.Hut., M.Si menjelaskan drone termal menjadi salah satu alat pendukung, dalam memperluas jangkauan patroli dan mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.
Menurutnya, patroli secara konvensional memiliki keterbatasan jangkauan karena petugas harus menyisir kawasan dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan. Penggunaan drone memungkinkan pemantauan dilakukan dari udara pada area yang lebih luas.
"Drone termal itu kami gunakan untuk patroli deteksi dini kebakaran. Kalau misalkan kita secara konvensional, patroli jalan kaki atau menggunakan motor itu kan jangkauannya terbatas. Kami juga menggunakan drone untuk menjangkau lebih luas dan lebih efektif dan efisien," ujar Rifqi.
Drone termal Matrice 30T dilengkapi sensor yang dapat mendeteksi suhu permukaan. Area dengan suhu lebih tinggi dibandingkan kondisi sekitarnya dapat menjadi indikasi yang kemudian diperiksa lebih lanjut oleh petugas.
Kamera pada drone juga memiliki kemampuan perbesaran, sehingga petugas dapat mengamati kondisi lokasi dengan lebih jelas. Hasil pemantauan tersebut membantu petugas, menentukan apakah titik panas yang terdeteksi merupakan api atau sumber panas lainnya.
Salah satu titik panas yang terdeteksi berada pada koordinat 7.824301° LS dan 112.572614° BT, dengan ketinggian lokasi sekitar 1.247 meter di atas permukaan laut (mdpl). Informasi koordinat tersebut kemudian menjadi acuan staf lapangan untuk menuju lokasi dan melakukan pengecekan secara langsung.
Terpisah, Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) UB Forest, Yulianto Muji Nugroho, S.Si. mengatakan salah satu keunggulan drone termal adalah kemampuannya memberikan informasi koordinat lokasi ketika mendeteksi titik panas.
"Drone termal yang kami gunakan bisa mengetahui langsung koordinatnya di mana kalau terjadi kebakaran," ujar Yulianto.
Informasi tersebut membantu staf lapangan, menentukan lokasi yang perlu segera didatangi untuk melakukan pengecekan maupun pemadaman.
Dalam satu kali penerbangan, Matrice 30T dapat digunakan untuk memantau area sekitar 10 hektare. Jarak pemantauan maksimal disebut mencapai sekitar 500 meter, dengan area jangkauan sekitar 60-80 hektare.
Namun, penggunaan drone termal tetap memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah durasi penerbangan yang bergantung pada kapasitas baterai.
"Drone termal ini memang membantu dalam proses deteksi, tetapi durasi penerbangannya terbatas. Sekali terbang paling sekitar 30 menit, sehingga kalau ingin melakukan patroli dalam waktu yang lebih lama tentu membutuhkan baterai lebih banyak dan untuk pelaksanaan patroli 2 kali dalam seminggu," jelas Yulianto.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais




.jpg)