08 September 2026

Get In Touch

Dispusip Surabaya Ajak Orangtua Biasakan Anak Membaca 10–15 Menit Sehari

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, Yusuf Masruh.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, Yusuf Masruh.

SURABAYA (Lentera) – Membangun budaya literasi anak tidak cukup hanya dengan menyediakan buku. Kebiasaan membaca perlu diperkenalkan sejak usia dini dan dilakukan secara konsisten, termasuk melalui peran aktif orang tua di rumah.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, mengatakan pembiasaan membaca sejak kecil dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi sekaligus memperkaya perbendaharaan kata anak.

Menurutnya, kegiatan membaca perlu dikemas secara menyenangkan agar anak tidak menganggap membaca sebagai aktivitas yang membosankan. Salah satunya melalui dongeng serta penyediaan bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan minat anak.

“Kalau ibu dan bapak di rumah minimal menyediakan waktu 10 sampai 15 menit untuk membaca, insyaallah anak-anak juga akan ikut membaca,” kata Yusuf, Selasa (8/9/2026).

Ia menilai keterlibatan keluarga menjadi penting karena budaya literasi tidak hanya dibangun di sekolah maupun perpustakaan. Orangtua dapat menjadi contoh sekaligus menciptakan suasana yang mendorong anak terbiasa membaca dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, Dispusip Surabaya terus mengembangkan layanan perpustakaan digital untuk memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Pengembangan tersebut juga diarahkan agar dapat terintegrasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan lembaga lainnya.

Yusuf mengatakan perkembangan teknologi memberikan peluang bagi anak untuk mengakses koleksi bacaan tanpa harus datang langsung ke perpustakaan. “Sekarang sudah era digital. Anak-anak bisa mengakses berbagai koleksi tanpa harus pergi ke mana-mana. Mereka juga bisa bertukar pengalaman dan memanfaatkan berbagai koleksi yang tersedia,” tuturnya.

Selain kemudahan akses, keberagaman koleksi juga menjadi perhatian. Yusuf menyebut anak berpotensi kehilangan minat membaca jika terus-menerus disuguhi buku yang sama. 

Untuk itu, bahan bacaan perlu dibuat lebih beragam dan diperbarui agar anak memiliki banyak pilihan sesuai ketertarikan mereka.

“Kalau yang dibaca hanya itu-itu saja, tentu bisa membuat mereka bosan. Ibaratnya, kalau setiap hari kita makan mi, lama-lama pasti jenuh juga,” ucapnya.

Meski pengadaan buku baru belum dapat dilakukan dalam jumlah besar, Dispusip Surabaya tidak ingin upaya peningkatan literasi berhenti pada aktivitas membaca. Anak-anak juga didorong untuk menjadi pencipta karya melalui kegiatan menulis.

Dorongan tersebut menyasar anak-anak hingga pelajar SMP. Dispusip Surabaya berencana mengembangkan kegiatan dan lomba penulisan yang dapat menjadi ruang bagi anak untuk menuangkan gagasan dan pengalaman mereka.

Karya yang dihasilkan nantinya dapat berupa cerita pendek, puisi, komik, maupun cerita pengalaman yang memuat pesan positif dan motivasi. “Literasi itu bukan hanya membaca, tetapi juga menulis. Anak-anak perlu diberikan ruang untuk berkarya,” ujar Yusuf.

Untuk mendekatkan bahan bacaan kepada masyarakat, khususnya anak-anak, Dispusip Surabaya juga mengoptimalkan layanan perpustakaan keliling. Mobil perpustakaan keliling dijadwalkan menyambangi sekolah, taman, hingga komunitas-komunitas pegiat literasi.

Layanan tersebut diharapkan tidak hanya memudahkan anak memperoleh bahan bacaan, tetapi juga memperluas pilihan koleksi yang dapat mereka baca di luar lingkungan sekolah dan rumah. “Ada mobil keliling yang kita jadwal ke sekolah, ke taman, juga ke komunitas-komunitas,” tambahnya.

Melalui kombinasi pembiasaan membaca di rumah, penguatan koleksi digital, pengembangan kegiatan menulis, serta perluasan layanan perpustakaan keliling, Dispusip Surabaya berupaya membangun budaya literasi yang lebih dekat dengan keseharian anak.

"Langkah tersebut sekaligus menempatkan anak bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pembaca aktif dan calon pencipta karya yang mampu menuangkan gagasan melalui tulisan," tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.