SURABAYA (Lentera) — Kondisi Kali Surabaya yang menjadi salah satu sumber air baku Perumda Air Minum (PDAM) Surya Sembada ternyata selama ini berada dalam kategori tercemar berat. Perum Jasa Tirta (PJT) I bahkan harus melakukan langkah darurat berupa penggelontoran air untuk mengantisipasi dampak pencemaran yang sempat ditandai dengan munculnya busa limbah di aliran sungai.
Pengakuan tersebut disampaikan Direktur Operasional Perum Jasa Tirta I, Milfan Rantawi, saat memberikan penjelasan dalam rapat bersama Komisi C DPRD Surabaya, Rabu (9/9/2026).
Milfan mengatakan, kondisi kualitas air Kali Surabaya dipantau PJT I melalui sistem monitoring yang bekerja secara berkala setiap satu jam. Sistem tersebut dapat memberikan gambaran mengenai tingkat pencemaran air secara real time.
“Jadi Jasa Tirta itu kita punya alat monitoring. Monitoring itu setiap satu jam. Yang keluar itu adalah tercemar berat, tercemar ringan, tercemar sedang,” ujarnya.
Meski demikian, sistem monitoring tersebut belum dapat menunjukkan secara detail jenis zat maupun sumber pencemaran. Untuk mengetahui penyebab pencemaran, PJT I harus mengambil sampel air dan melakukan pemeriksaan di laboratorium.
Menurut Milfan, berdasarkan data monitoring selama ini, kondisi Kali Surabaya memang berada pada kategori tercemar berat.
“Seperti yang saya bilang, alat-alat yang real time itu yang keluar adalah tercemar berat, tercemar ringan, tercemar sedang. Nah, selama ini memang kondisinya tercemar berat. Jadi kalau kita melihat data itu, ya memang tercemar berat,” katanya.
Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian setelah muncul busa dalam jumlah banyak di aliran Kali Surabaya. Milfan menyebut fenomena tersebut berkaitan dengan limbah yang memengaruhi kondisi air sungai. “Nah, jadi Kali Surabaya-nya terpengaruh. Karena banyak busa, busa limbah,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi agar kondisi tersebut tidak berdampak lebih jauh terhadap sejumlah intake milik PDAM Surya Sembada, PJT I kemudian melakukan penggelontoran atau pengenceran air.
Milfan menjelaskan, air dari wilayah Mlirip dilepas dengan debit sekitar 25 meter kubik per detik selama dua hari. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu memperbaiki kondisi air yang mengalir menuju titik pengambilan air baku PDAM.
“Yang bisa kita lakukan adalah kita melakukan penggelontoran, pengenceran air. Jadi kita lepas dari atas, dari Mlirip, 25 m³ per detik selama dua hari. Sehingga dengan demikian airnya menjadi bagus,” jelasnya.
Namun, penggelontoran dalam jumlah besar tidak dapat dilakukan secara rutin. Sebab, pelepasan air juga berkaitan dengan alokasi untuk kebutuhan lain, termasuk irigasi.
“Kalau kita sering-sering lepas air seperti itu, alokasi yang lain untuk irigasi segala macam kan terganggu. Jadi memang itu hanya kita lakukan kalau force majeure seperti ini saja,” katanya.
Di sisi lain, Milfan menegaskan pembagian kewenangan antara PJT I dan instansi terkait dalam persoalan air baku. Menurut dia, tanggung jawab PJT I lebih berfokus pada kuantitas dan kontinuitas pasokan air, sedangkan persoalan kualitas serta penanganan sumber pencemaran menjadi kewenangan instansi lingkungan hidup.
“Tanggung jawab kualitas Dinas Lingkungan setahu saya, ya. Jadi PJT I tidak bertanggung jawab terhadap kualitas. PJT itu adalah kuantitas dan kontinuitas,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus merespons keluhan PDAM Surya Sembada mengenai kualitas air baku yang diterima. Milfan mengatakan, kerja sama antara PJT I dan PDAM selama ini tidak secara spesifik mengatur aspek kualitas air.
“Perjanjian kami dengan PDAM itu hanya bicara kuantitas dan kontinuitas, tidak bicara kualitas. Jadi nanti kalau mau dicek silakan ke Surya Sembada juga cek, tapi perjanjian kita tidak pernah bicara kualitas,” ujarnya.
Milfan menilai persoalan kualitas Kali Surabaya merupakan masalah kompleks yang tidak dapat dilepaskan dari berbagai aktivitas di sepanjang daerah aliran sungai. Selama sungai masih menerima berbagai jenis limbah, persoalan kualitas air dinilai akan terus muncul.
“Karena kalau bicara kualitas itu kompleks banget. Sepanjang sungai ini menjadi tanda petik tempat sampahnya kita-kita ini, ya kualitasnya akan buruk,” pungkasnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi






.jpg)