JAKARTA (Lentera) -Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan tangkapan layar yang beredar di media sosial dan mengesankan akun resmi Instagram @infobmkg tidak responsif terhadap unggahan akun Sekretariat Kabinet (Setkab), tidak benar dan merupakan hasil rekayasa suntingan.
Sekretaris Utama BMKG Guswanto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengklarifikasi gambar yang beredar luas di tengah publik tersebut disunting (crop/combine) secara tidak bertanggung jawab hingga memicu mispersepsi di masyarakat.
"Perlu kami tegaskan tangkapan layar komentar dari admin @infobmkg merupakan jawaban atas pertanyaan spesifik salah satu warganet mengenai aktivitas vulkanik. Komentar tersebut bukan bentuk bantahan atau koreksi resmi BMKG terhadap unggahan Sekretariat Kabinet," kata dia.
Guswanto menjelaskan imbauan Setkab mengenai potensi dampak sebaran debu vulkanik dan keselamatan penerbangan pada dasarnya tetap menjadi bagian dari ranah operasional analisis meteorologi penerbangan atau volcanic ash advisory yang dipantau oleh BMKG.
Dalam kesempatan tersebut, BMKG turut memperjelas pembagian wewenang institusional dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi KESDM untuk meluruskan pemahaman publik.
Guswanto memaparkan PVMBG berwenang penuh memantau aktivitas vulkanik internal gunung api, menetapkan status kebencanaan (Waspada/Siaga/Awas), serta mengeluarkan peringatan awal erupsi.
Melansir Antara, BMKG berwenang memantau cuaca, iklim, gempa bumi tektonik, tsunami, serta mengelola sumber data sebaran abu vulkanik di atmosfer demi mendukung keselamatan penerbangan.
Masyarakat yang ingin memperoleh informasi terbaru mengenai sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dapat mengakses laman resmi BMKG pada bmkg.go.id/cuaca/satelit/citra-sebaran-abu-vulkanik, sedangkan perkembangan status aktivitas gunung api dapat dipantau melalui kanal PVMBG pada magma.esdm.go.id.
Dengan demikian BMKG mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati, teliti, dan menyaring semua informasi di ruang publik guna mencegah timbulnya kesalahpahaman dan menjaga kekondusifan informasi kebencanaan.
BMKG juga mengajak rekan media dan pembuat konten untuk menyelaraskan narasi serta judul yang beredar agar masyarakat mendapatkan gambaran informasi yang utuh, jujur, dan tidak terpecah belah oleh persepsi keliru.
"Langkah sederhana ini sangat berarti agar masyarakat mendapatkan gambaran informasi yang utuh, jujur, dan tidak terpecah belah oleh persepsi yang keliru," kata Guswanto (*)
Editor: Arifin BH






.jpg)