PANGKALPINANG (Lentera) - Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel memblokir barcode (QR) pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi 1.274 nomor polisi kendaraan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), karena tidak sesuai dengan ketentuan Program Subsidi Tepat.
"Pemblokiran ini bagian dari langkah pengawasan untuk menjaga penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran," kata Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi di Pangkalpinang, Bangka Belitung mengutip Antara, Minggu (20/9/2026).
Ia menjelaskan, hasil pemantauan dan verifikasi Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel hingga September 2026, sebanyak 1.274 nopol kendaraan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diblokir barcode pembelian BBM bersubsidi.
"Karena terindikasi membeli BBM bersubsidi secara berulang, yang tidak sesuai dengan peruntukannya," jelasnya.
Sementara itu, jumlah pemblokiran nopol kendaraan di Sumatera Selatan sebanyak 2.439 unit, 2.793 nopol di Lampung, 1.117 nopol di Jambi, 966 nopol di Bengkulu, sebagai bagian dari langkah pengawasan untuk menjaga penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran.
"Kami terus memperkuat pengawasan dalam penyaluran BBM bersubsidi guna memastikan produk bersubsidi dapat diterima oleh masyarakat yang berhak sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tandasnya.
Ia menyatakan, pengawasan ini dilakukan bersama dengan berbagai pihak terkait untuk mendukung penyaluran BBM bersubsidi yang transparan, tepat sasaran dan sesuai ketentuan.
"Pertamina terus memperkuat koordinasi dan pengawasan di lapangan guna memastikan penyaluran BBM bersubsidi berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," katanya.
Ia mengimbau, masyarakat untuk menggunakan BBM bersubsidi sesuai dengan peruntukan dan ketentuan yang berlaku. Dalam proses pembelian, masyarakat diharapkan memastikan data kendaraan yang digunakan telah sesuai serta tidak melakukan penyalahgunaan QR Code maupun sarana transaksi lainnya.
"Masyarakat yang menemukan indikasi penyalahgunaan BBM bersubsidi dapat menyampaikan laporan melalui Pertamina Contact Center 135," imbuhnya.
Editor: Arief Sukaputra






.jpg)