21 September 2026

Get In Touch

FJTT 2026 Masuk KEN, Kementerian Pariwisata Dorong Festival Jaranan Trenggalek Go Internasional

Penampilan seni jaranan memeriahkan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) 2026 di Alun-Alun Trenggalek, Minggu (20/9/2026). FJTT tahun ini menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Penampilan seni jaranan memeriahkan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) 2026 di Alun-Alun Trenggalek, Minggu (20/9/2026). FJTT tahun ini menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.

TRENGGALEK (Lentera) – Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) 2026 mendapat perhatian dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Festival yang telah memasuki penyelenggaraan ke-30 tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis budaya hingga tingkat internasional.

Hal itu disampaikan Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata RI Raden Wisnu Sindhutrisno saat menghadiri pembukaan FJTT 2026 di Alun-Alun Trenggalek, Minggu (20/9/2026).

Menurut Wisnu, perjalanan panjang FJTT selama 30 tahun menjadi salah satu modal penting dalam pengembangan festival tersebut. Konsistensi para seniman dan budayawan Trenggalek dinilai telah menjaga keberlangsungan kesenian jaranan sehingga memiliki peluang untuk diperkenalkan lebih luas.

"Ini festival yang luar biasa. Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 memiliki sejarah yang sangat panjang setelah 30 tahun penyelenggaraan. Konsistensi para seniman dan budayawan di Trenggalek juga sangat luar biasa," ujar Wisnu.

Atas potensi tersebut, Kementerian Pariwisata memasukkan FJTT 2026 ke dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) mulai tahun ini. Masuknya FJTT dalam kalender event nasional diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan sekaligus memperluas jangkauan promosi.

"Kita akhirnya melihat bahwa ini bisa kita angkat dan harus kita angkat ke level nasional dan juga ke level internasional," katanya.

Wisnu berharap pengembangan FJTT tidak hanya berhenti pada peningkatan kualitas pertunjukan. Regenerasi juga menjadi perhatian agar kesenian jaranan tetap memiliki pelaku dan penonton dari kalangan generasi muda.

"Kami berharap ke depannya event ini semakin diperkuat dan semakin ditingkatkan kualitasnya, serta semakin menggalang lebih banyak generasi muda sehingga bisa menciptakan regenerasi budaya yang dapat kita tampilkan ke forum internasional," jelasnya.

Selain sebagai agenda budaya, Kementerian Pariwisata melihat event seperti FJTT memiliki peran strategis dalam menggerakkan kunjungan wisatawan di luar musim liburan. Festival yang digelar pada September dinilai dapat menjadi pemicu perjalanan wisata pada periode yang biasanya masuk kategori low season.

Wisnu menjelaskan, Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadi daya tarik wisata. Namun, kunjungan wisata berbasis alam maupun budaya cenderung meningkat pada musim liburan. Karena itu, event pariwisata dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong wisatawan melakukan perjalanan pada waktu tertentu.

"Event pariwisata seperti ini menghasilkan efek travel now. Ketika event diselenggarakan pada September, orang datang ke sini pada September. Begitu juga kalau event diselenggarakan pada Januari atau Maret," tuturnya.

Konsep tersebut, lanjut Wisnu, akan terus didorong melalui pengembangan event berbasis budaya di berbagai daerah. Dengan demikian, agenda wisata tidak hanya terpusat pada musim liburan, tetapi dapat tersebar sepanjang tahun.

Potensi FJTT juga dinilai semakin kuat karena karakter kesenian jaranan memiliki kekhasan yang tidak dimiliki seluruh daerah. Wisnu menyebut setiap daerah mempunyai identitas budaya masing-masing yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.

"Trenggalek ini dengan Festival Jaranannya, dengan keunikannya, akan menjadi magnet dan daya tarik tersendiri. Ponorogo punya Reog, Pacitan punya Ronthek, sedangkan Trenggalek punya Festival Jaranan," ungkapnya.

Kementerian Pariwisata juga melihat peluang untuk menghubungkan berbagai event budaya di kawasan sekitar Trenggalek. Konsep tersebut diarahkan agar kalender event antardaerah dapat disusun secara berkesinambungan sehingga wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk memperpanjang masa tinggalnya.

Menurut Wisnu, wisatawan yang datang ke Trenggalek nantinya dapat diarahkan untuk melanjutkan perjalanan ke daerah lain seperti Ponorogo maupun Pacitan. Sebaliknya, wisatawan dari daerah tersebut juga dapat diarahkan berkunjung ke Trenggalek.

"Jadi nanti setelah dari Trenggalek mereka bisa misalnya ke Ponorogo atau sebaliknya dari Ponorogo ke Trenggalek, ke Pacitan, dan ke mana saja. Dengan begitu wisatawan yang datang bisa lebih lama tinggalnya dan spending mereka lebih besar," katanya.

Pola perjalanan antardaerah tersebut dinilai dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta masyarakat yang berada di sekitar destinasi dan lokasi penyelenggaraan event.

Untuk penyelenggaraan FJTT selanjutnya, Kementerian Pariwisata menilai masih terdapat ruang untuk melakukan penguatan. Salah satunya melalui kurasi, penguatan narasi festival, serta promosi yang lebih masif.

"Ini sudah sangat bagus, ini penyelenggaraan yang ke-30. Tetapi ke depannya pasti masih ada ruang untuk dilakukan penguatan-penguatan," ujar Wisnu.

Kementerian Pariwisata juga berencana membantu penguatan promosi FJTT agar jangkauan informasinya semakin luas. Promosi tidak hanya ditujukan kepada wisatawan nusantara, tetapi juga diarahkan untuk menjangkau pasar wisatawan mancanegara.

"Kami akan terus mendorong promosinya secara masif sehingga bisa mengundang lebih banyak wisatawan nusantara dari seluruh Indonesia untuk datang ke sini. Kami juga mulai mempromosikannya ke luar negeri," katanya.

Aspek konektivitas juga menjadi bagian yang akan diperkuat. Kementerian Pariwisata menyatakan akan menjalin keterhubungan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk agen perjalanan, operator tur, media, serta jaringan promosi pariwisata.

"Untuk konektivitas nanti kita akan menjahit dengan semua pemangku kepentingan terkait. Dengan travel agent, tour operator kami akan engage, dengan media kami juga akan engage," jelas Wisnu.

FJTT juga disebut akan mendapatkan ruang promosi melalui media milik Kementerian Pariwisata maupun kanal promosi berbayar. Festival tersebut bahkan berpeluang dibawa dalam berbagai pameran pariwisata internasional yang diikuti pemerintah Indonesia.

"Kementerian Pariwisata akan memasukkan ini dalam own media dan paid media kami sehingga promosinya bisa lebih masif. Kami juga akan membawa event FJTT ini ke pameran-pameran internasional untuk bisa dipromosikan kepada wisatawan mancanegara," pungkasnya. (*)

 

Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.