TRENGGALEK (Lentera) –Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) ke-30 membawa babak baru bagi pelestarian sekaligus promosi kesenian tradisional Trenggalek. Setelah tiga dekade digelar secara konsisten, FJTT 2026 untuk pertama kalinya masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN), sehingga jaranan tidak hanya menjadi warisan budaya yang dipertahankan, tetapi juga berpeluang semakin dikenal sebagai identitas khas Trenggalek di tingkat nasional hingga internasional.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Dapil VII Jawa Timur, Novita Hardini, mengatakan perjalanan panjang FJTT menjadi bukti bahwa kesenian jaranan memiliki akar kuat di tengah masyarakat Trenggalek. Menurutnya, nilai jaranan tidak berhenti pada pertunjukan di atas panggung karena setiap unsur di dalamnya menyimpan cerita dan filosofi yang diwariskan lintas generasi.
"Jaranan memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar sebuah pertunjukan. Setiap gerakan membawa cerita, setiap irama memiliki perjalanan, dan seluruh pertunjukannya menggambarkan semangat masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya," ujar Novita.
Ia menilai usia 30 tahun merupakan perjalanan panjang yang patut diapresiasi. Selama periode tersebut, berbagai bentuk dan jenis jaranan di Trenggalek justru dipertemukan melalui festival, bukan diposisikan untuk saling dibandingkan.
FJTT, lanjut Novita, menjadi ruang bersama bagi para seniman untuk mengekspresikan karya sekaligus memperkenalkan kekayaan jaranan kepada masyarakat. Lebih dari sekadar kompetisi, keberadaan festival dinilai menjadi salah satu cara untuk memastikan kesenian yang diwariskan para pendahulu tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.
"Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat. Berbagai jenis jaranan di Trenggalek bisa bertemu dalam satu wadah dan tumbuh bersama. Yang terpenting bukan hanya soal kompetisi, tetapi bagaimana festival ini menjadi ruang berekspresi sekaligus menjaga warisan budaya tetap hidup," jelasnya.
Masuknya FJTT dalam KEN 2026 menjadi capaian tersendiri dalam penyelenggaraan festival tahun ini. Program KEN merupakan agenda Kementerian Pariwisata yang menghimpun berbagai event unggulan daerah untuk diperkuat dari sisi promosi dan daya tarik pariwisata.
Novita menyebut pencapaian tersebut tidak terlepas dari perjalanan panjang para budayawan dan pelaku seni jaranan di Trenggalek. Ia mengapresiasi seluruh pihak yang selama ini konsisten mempertahankan kesenian tersebut hingga akhirnya mendapat perhatian lebih luas melalui KEN.
Menurutnya, masuknya FJTT dalam kalender event nasional harus dimanfaatkan untuk memperluas pengenalan budaya Trenggalek. Dampaknya diharapkan tidak hanya dirasakan dari sisi pelestarian seni, tetapi juga melalui peningkatan kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
"Ini merupakan perjuangan panjang para budayawan dan pelaku seni jaranan di Trenggalek. Saya melihat potensi budaya Trenggalek sangat besar dan FJTT bisa menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan kekayaan tersebut kepada masyarakat yang lebih luas," katanya.
Novita juga mengingatkan agar penyelenggaraan FJTT tidak semata-mata diukur dari penampilan kelompok maupun hasil perlombaan. Menurutnya, ada nilai kebersamaan, persaudaraan, serta filosofi kehidupan yang ikut dibawa melalui kesenian jaranan.
"Jangan melihat festival ini hanya dari siapa yang tampil atau siapa yang menjadi juara. Di dalamnya ada kebersamaan, persaudaraan, pertemuan, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," ungkapnya.
Ia pun mengajak pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjadikan jaranan sebagai bagian dari kebanggaan Trenggalek. Dukungan terhadap seniman dan keterlibatan generasi muda dinilai penting agar regenerasi kesenian tersebut dapat terus berjalan.
"Jadikan jaranan sebagai kebanggaan bersama. Budayanya harus kita rawat, para senimannya harus kita dukung, dan generasi muda harus diberikan ruang seluas-luasnya untuk meneruskan tradisi ini. Kita ingin Trenggalek siap menjadi rumah jaranan dunia," tegas Novita.
Sementara itu, Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata, Raden Wisnu Sindhutrisno, menilai masuknya FJTT ke dalam KEN 2026 merupakan bentuk apresiasi terhadap konsistensi penyelenggaraan festival selama tiga dekade.
Menurut Wisnu, FJTT memiliki karakter yang kuat sebagai event berbasis budaya. Keunikan tersebut dinilai dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan karena event memungkinkan masyarakat datang ke suatu daerah berdasarkan waktu penyelenggaraan kegiatan, bukan hanya saat musim liburan.
"Masuknya FJTT ke dalam KEN merupakan pengakuan atas konsistensi yang sudah dibangun selama 30 tahun. Bagi kami, ini menunjukkan bahwa event budaya yang diselenggarakan secara berkelanjutan memiliki posisi strategis dalam pariwisata," kata Wisnu.
Ia menambahkan, setiap daerah memiliki destinasi dan kekayaan budaya masing-masing. Namun, event budaya mempunyai karakter berbeda karena mampu menciptakan alasan bagi wisatawan untuk datang pada waktu tertentu ketika kegiatan berlangsung.
"Event berbasis budaya bisa menjadi alasan orang datang sekarang, bukan hanya menunggu musim liburan. Jaranan juga memberikan identitas yang khas bagi Trenggalek. Keunikan seperti ini tidak mudah ditiru oleh daerah atau destinasi lain," tandasnya.
Dengan masuknya FJTT dalam KEN 2026, festival yang telah bertahan selama 30 tahun tersebut kini memiliki ruang lebih besar untuk memperkenalkan jaranan Trenggalek sebagai kekayaan budaya sekaligus daya tarik wisata daerah.
Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH





.jpg)