22 September 2026

Get In Touch

Bulan Menjauhi Bumi, Sehari Bisa 25 Jam

Bulan Menjauhi Bumi, Sehari Bisa 25 Jam

SURABAYA ( LENTERA ) - Bulan ternyata perlahan bergerak menjauhi Bumi. Jarak rata-rata Bumi dan Bulan bertambah sekitar 3,8 sentimeter per tahun akibat interaksi gravitasi keduanya.

Fenomena tersebut merupakan proses alamiah yang berlangsung sangat lambat. Dampaknya pun tidak akan dirasakan manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam waktu dekat.

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN Thomas Djamaluddin menjelaskan, Bumi dan Bulan terus berinteraksi secara gravitasi. Interaksi tersebut memengaruhi rotasi Bumi sekaligus orbit Bulan.
Rata-rata jarak Bumi dan Bulan saat ini mencapai sekitar 384.000 kilometer. Menurut Thomas, gravitasi Bumi juga memengaruhi rotasi Bulan melalui gaya pasang surut.

"Gravitasi bumi menyebabkan efek gaya pasang surut pada bulan yang menyebabkan rotasi bulan diperlambat dan akhirnya terkunci pada periode 27,3 hari, sama dengan periode revolusinya," kata Thomas dalam keterangan di kanal YouTube miliknya.

Di sisi lain, gravitasi Bulan menimbulkan gaya pasang surut di Bumi. Gaya tersebut secara perlahan mengerem rotasi Bumi sehingga panjang hari bertambah.

"Dalam 200 juta tahun diperkirakan rotasi Bumi diperlambat 1 jam, panjang hari di bumi menjadi 25 jam," ujar Thomas.

Ia menjelaskan, perlambatan rotasi Bumi dan perubahan jarak Bulan merupakan bagian dari proses interaksi gravitasi yang berlangsung sangat panjang.

"Interaksi Bumi dan Bulan tersebut yang menyebabkan Bulan menjauhi Bumi walau dampaknya baru terasa setelah ratusan juta tahun," tambahnya.

Mengapa Menjauh?

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan menjelaskan, fenomena terkait jarak Bulan dan Bumi juga perlu dipahami dari bentuk orbit Bulan yang elips.

"Efek Bulan menjauh dari Bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi Bulan terhadap Bumi yang berupa elips. Ada saat Bulan berada pada jarak terdekat (perigee) dan jarak terjauh (apogee) dalam setiap periode revolusi Bulan," jelas Sonni, melansir laman resmi IPB.

Dengan orbit berbentuk elips, jarak Bulan terhadap Bumi tidak selalu sama. Dalam setiap periode revolusinya, Bulan mencapai titik terdekat yang disebut perigee dan titik terjauh yang disebut apogee.

Dalam jangka panjang, interaksi gravitasi Bumi dan Bulan membuat jarak rata-rata keduanya terus bertambah.

Gravitasi Bulan menarik air laut di Bumi dan menghasilkan pasang surut. Karena Bumi berputar lebih cepat daripada pergerakan Bulan, rotasi Bumi ikut menyeret tonjolan air pasang ke depan.

Proses tersebut secara perlahan mengurangi kecepatan rotasi Bumi. Pada saat yang sama, tarikan air pasang memberikan energi kepada Bulan melalui transfer momentum sudut akibat gaya pasang surut.

Transfer energi tersebut membuat Bulan secara perlahan bergerak menjauh dari Bumi sekitar 3,8 sentimeter setiap tahun.

Tidak Berdampak Langsung bagi Manusia
Sonni mengatakan, Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi merupakan proses alamiah dan tidak perlu dikhawatirkan karena berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang.

Perubahan jarak sekitar 3,8 sentimeter per tahun terlalu kecil untuk menimbulkan perubahan yang dapat dirasakan manusia secara langsung.

Bulan memang berperan penting terhadap pasang surut air laut melalui gaya gravitasinya. Pasang surut kemudian memengaruhi berbagai aktivitas di wilayah pesisir, termasuk kegiatan nelayan.

Namun, pasang surut bukan fenomena baru yang muncul karena Bulan sedang menjauh. Pasang surut merupakan proses alamiah yang telah berlangsung akibat interaksi gravitasi Bumi, Bulan, dan Matahari.

"Fenomena Bulan menjauh dari Bumi tidak berdampak langsung terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya baru terasa melalui mekanisme lain," tuturnya.

Meskipun terus menjauh, Bulan tidak akan begitu saja lepas dari gravitasi Bumi dalam waktu dekat.

Dalam skenario yang sangat jauh di masa depan, rotasi Bumi akan terus melambat hingga akhirnya terkunci secara pasang surut dengan Bulan.
Pada kondisi tersebut, satu sisi Bumi akan selalu menghadap Bulan dan Bulan tidak lagi terus menjauh.

Skenario itu diperkirakan baru terjadi dalam rentang waktu yang jauh lebih panjang dibandingkan usia peradaban manusia.
Sebelum kondisi tersebut tercapai, Bumi diperkirakan akan menghadapi perubahan kosmik yang jauh lebih besar.

Dalam sekitar satu miliar tahun, Matahari diperkirakan semakin terang sehingga Bumi kehilangan air dan tidak lagi layak dihuni oleh kehidupan seperti sekarang.

Beberapa miliar tahun setelahnya, Matahari diperkirakan mengembang menjadi raksasa merah. Pada tahap tersebut, Bumi beserta Bulan kemungkinan menghadapi kehancuran.
Dengan demikian, meski Bulan saat ini memang perlahan menjauh dari Bumi, perubahan tersebut berlangsung sangat lambat. 

Dalam skala kehidupan manusia, jaraknya nyaris tidak terasa, sementara perubahan panjang hari hingga menjadi 25 jam baru diperkirakan terjadi sekitar 200 juta tahun mendatang.(far,ist/dya)
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.