03 October 2026

Get In Touch

Bukti Teknologi Kota Pelabuhan Surabaya di Jembatan Petekan

Bukti Teknologi Kota Pelabuhan Surabaya di Jembatan Petekan

SURABAYA (Lentera)-Di tengah padatnya lalu lintas Jalan Jakarta, Kota Surabaya, berdiri sebuah rangka besi tua yang tak lagi berfungsi. Banyak orang mungkin melewatinya tanpa menyadari bahwa konstruksi itu pernah menjadi bagian penting dari sistem transportasi Kota  Pahlawan pada masa kolonial.Jembatan Petekan namanya.

Pada masanya, jembatan ini bukan sekadar penghubung dua sisi sungai. Namun bagian dari nadi kota pelabuhan yang tengah tumbuh pesat. 

Dikenal juga dengan nama Ferwerda Brug atau De Admiraal Ferwerdabrug, jembatan bergerak naik dan turun secara mekanis mengikuti irama lalu lintas sungai. Saat kontruksi jembatan terangkat, kapal-kapal besar yang datang dari laut lepas maupun perahu yang menyusuri lekuk Kalimas diberi jalan menuju jantung pedalaman. 

Pada periode tersebut, Surabaya tengah bertransformasi dari pelabuhan regional menjadi salah satu simpul perdagangan internasional yang paling diperhitungkan di Hindia Belanda.

“Jembatan yang disebut Petekan itu merupakan akses yang menghubungkan kawasan di antara Sungai Kalimas dan Pegirian, yang menjadi pusat peradaban kota lama, dengan wilayah barat Kalimas yang menuju pelabuhan,” ujar Nanang Purwono, pegiat sejarah Kota Surabaya.

Diceritakan, pada awal abad ke-20, denyut ekonomi Surabaya terpusat di kawasan yang diapit oleh aliran Sungai Kalimas dan Pegirian. Di wilayah inilah aktivitas komersial dan permukiman tumbuh pesat. Namun, infrastruktur pelabuhan utama justru berada di sisi yang berbeda. Di sebelah barat Sungai Kalimas, terbentang jalur strategis menuju laut yang menjadi gerbang utama keluar-masuknya komoditas dunia.

Kapal-kapal membawa hasil perkebunan dari pedalaman Jawa untuk diekspor, sementara dari arah sebaliknya, berbagai mesin, bahan bangunan, dan barang impor mulai membanjiri kota. Di antara dua sisi ini, sebuah koneksi fisik menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah kolonial Belanda kemudian memprakarsai pembangunan jembatan yang membelah Kalimas di bagian utara kota.

Menurut Nanang, akses primer menuju pelabuhan kala itu memang berpusat di sisi barat sungai, menjadikan jembatan ini sebagai urat nadi mobilitas manusia maupun logistik. 

Nama resminya, Ferwerda Brug, mungkin terdengar asing dan sulit dilafalkan oleh lidah lokal. Namun, warga Surabaya memiliki cara yang jauh lebih praktis dan ikonik untuk menamainya.

Bayangkan suasana pada dekade 1920-an. Ketika sebuah kapal bermastaka tinggi melintas di Sungai Kalimas, lalu lintas darat akan dihentikan sejenak. Seorang operator kemudian memasuki ruang kendali dan menekan sebuah tombol. Secara mekanis, rangka besi jembatan yang masif itu perlahan terangkat ke atas, memberi ruang bagi navigasi air di bawahnya.

Setelah kapal melintas, jembatan akan diturunkan kembali agar mobilitas darat dapat berlanjut. Aktivitas menekan tombol inilah yang kemudian melahirkan julukan "Petekan". Dalam khazanah bahasa Jawa, aktivitas menekan atau memencet tombol disebut dengan istilah memetek.

“Orang Surabaya tahu bahwa untuk membuka jembatan itu operator harus menekan tombol. Dalam bahasa Jawa disebut memetek. Karena itu masyarakat menyebutnya Jembatan Petekan,” tutur Nanang. Nama sederhana ini terbukti jauh lebih melekat dalam ingatan kolektif warga ketimbang nama formalnya.

Secara teknis, teknologi yang diusung Jembatan Petekan pada zamannya tergolong sangat mutakhir. Struktur baja tersebut digerakkan oleh sistem kelistrikan canggih yang memungkinkan geladak jembatan terangkat otomatis tanpa tenaga manusia yang besar. Nanang menjelaskan bahwa ini merupakan lompatan besar dibandingkan infrastruktur lain di Surabaya pada masa itu.

“Jembatan-jembatan lama seperti Jembatan Merah, Bibis, Sonokembang, dan Kayun dulu harus diangkat secara manual oleh petugas dengan rantai atau tuas. Sementara Petekan sudah menggunakan sistem kelistrikan,” jelasnya. 

Di Jawa Timur kala itu, sistem mekanis bertenaga listrik seperti ini adalah simbol kemajuan teknologi yang sangat jarang ditemukan.

Sepanjang periode tersebut, Kalimas berfungsi layaknya "jalan tol" air yang menghubungkan kota dengan pedesaan. Perahu-perahu tradisional membawa hasil bumi menuju pusat perdagangan di sekitar Jembatan Merah. 

Mengingat ukuran perahu yang seringkali cukup tinggi, kemampuan jembatan untuk terbuka menjadi kunci agar transportasi air dan darat dapat berjalan berdampingan secara harmonis.

“Perahu-perahu itu menyusuri Kalimas hingga kawasan Jembatan Merah yang menjadi pusat perdagangan. Karena ukurannya besar, maka jembatan harus bisa diangkat agar perahu bisa lewat,” kata Nanang.

Selain fungsi komersial, kawasan ini juga memiliki nilai strategis militer. Tak jauh dari lokasi jembatan, berdiri pangkalan angkatan laut Hindia Belanda, Marine Establishment, yang kini menjadi markas Komando Armada II TNI AL. Jembatan Petekan menjadi akses penghubung vital antara Jalan Perak dan pusat kota bagi kepentingan mobilitas militer kolonial.

Namun, setiap era memiliki akhir. Memasuki dekade 1980-an, peran Sungai Kalimas sebagai jalur transportasi logistik mulai meredup. Kapal-kapal besar beralih ke Pelabuhan Tanjung Perak yang lebih modern, sementara transportasi darat mulai mendominasi secara absolut. Mekanisme jembatan angkat pun mulai menua dan dianggap kurang praktis untuk beban lalu lintas yang kian padat.

Nanang Purwono masih menyimpan memori personal saat jembatan ini masih beroperasi secara normal. “Sekitar tahun 1970-an jembatan ini masih berfungsi. Saya waktu itu tinggal di kawasan Pengampon. Kalau menuju pelabuhan, kami pasti melewati jembatan Petekan,” kenangnya. 

Namun, tuntutan zaman tak bisa dielakkan. “Masuk tahun 1980-an jembatan ini tidak lagi digunakan karena akses menuju pelabuhan sudah lebih baik melalui jalur darat lainnya,” imbuh Nanang.

Hari ini, Jembatan Petekan berdiri diam di antara riuhnya modernitas. Meski tak lagi berfungsi secara mekanis, kerangka bajanya tetap menjadi saksi bisu atas kejayaan teknologi masa lalu. 

Nanang berharap ada upaya serius untuk mengembalikan fisik jembatan ini sebagai objek edukasi sejarah yang layak.

“Minimal bentuknya dikembalikan seperti semula, meskipun tidak dioperasikan lagi. Generasi sekarang perlu tahu bahwa teknologi jembatan seperti ini pernah menjadi kebanggaan di Surabaya,” tutupnya.

Jembatan Petekan bukan sekadar tumpukan besi tua. Ia adalah pengingat bahwa di suatu masa, hanya dengan sebuah "petekan" atau tekanan tombol kecil, sebuah struktur raksasa mampu terangkat tinggi untuk memberi jalan bagi kapal-kapal yang mengantarkan Surabaya menuju gerbang dunia internasional.

Reporter: Widyawati/Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.