Dies Natalis ke-13, Magister Psikologi Ubaya Dorong Literasi Kesehatan Mental di Era Digital
SURABAYA (Lentera) – Kemudahan berkomunikasi melalui media sosial dan berbagai platform digital, tidak selalu membuat seseorang merasa memiliki hubungan sosial yang bermakna.
Di balik tingginya konektivitas, individu tetap dapat menghadapi kesepian dan tekanan untuk mendapatkan validasi, hingga masalah kesehatan mental.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Magister Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) dalam Talkshow dan Workshop bertajuk “CONNECTED FOR LIFE: Mental Health & Suicide Prevention in the Digital Society”, Sabtu (26/9/2026) lalu.
Kegiatan yang diikuti ratusan peserta itu digelar dalam rangka Dies Natalis ke-13 Magister Psikologi Ubaya sekaligus memperingati momentum Hari Pencegahan Bunuh Diri yang diperingati setiap September.
Ketua Program Studi Magister Psikologi Ubaya, Dr. Mary Philia Elisabeth, Psikolog, mengatakan perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, membangun relasi, belajar, bekerja, hingga memperoleh dukungan sosial.
Menurutnya, tingginya intensitas interaksi di ruang digital tidak otomatis menghasilkan kedekatan secara emosional. “Meningkatnya konektivitas digital tidak selalu berbanding lurus dengan hadirnya hubungan sosial yang bermakna,” kata Mary dikutip Rabu (30/9/2026).
Mary menuturkan, kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan masyarakat dalam mengenali dan merespons persoalan kesehatan mental serta risiko bunuh diri di tengah kehidupan yang semakin terhubung secara digital.
Mary menjelaskan, ruang digital juga membuat individu semakin sering membangun dan menampilkan identitas dirinya di hadapan publik. Jumlah likes, komentar, views, hingga respons dari pengguna lain dapat memengaruhi pengalaman sosial dan cara seseorang menilai dirinya.
Kondisi tersebut dapat menjadi persoalan ketika validasi dari ruang digital terlalu dominan dalam membentuk harga diri. Keinginan untuk menampilkan kehidupan yang dianggap ideal juga dapat membuat seseorang merasa harus menyembunyikan sisi rentan atau persoalan yang sedang dihadapi.
“Tekanan untuk menampilkan versi diri yang sempurna membuat seseorang cenderung menyembunyikan sisi rapuhnya,” tuturnya.
Tekanan emosional yang tidak tertangani, lanjut Mary, dapat berkembang menjadi distress atau tekanan psikologis yang lebih berat. Pada individu dengan berbagai faktor risiko yang saling berinteraksi, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan munculnya pikiran maupun perilaku bunuh diri.
Karena itu, pengenalan terhadap tanda-tanda tekanan psikologis sejak awal menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. “Semakin dini tanda-tanda distress dikenali, semakin besar peluang untuk memberikan dukungan dan mencegah kondisi berkembang menjadi krisis yang lebih berat,” jelasnya.
Dalam talkshow bertema “Connected Yet Alone: Understanding Mental Health and Suicide Prevention in the Digital Society”, peserta juga mendapatkan materi mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi seseorang yang sedang mengalami tekanan emosional.
Materi tersebut disampaikan Dosen Fakultas Kedokteran Ubaya sekaligus Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Katharina Merry Apriliani Angkawidjaja, Sp.KJ., M.H.
Pembahasan kemudian dilanjutkan Dosen Program Studi Teknik Informatika Ubaya, Mikhael Ming Khosasih, M.M., M.Kom., yang membahas peran teknologi dalam membentuk koneksi, perhatian, paparan informasi, serta aspek keamanan di ruang digital.
Perspektif teknologi menjadi penting karena interaksi digital tidak hanya memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, tetapi juga menentukan informasi yang diterima, seberapa lama perhatian seseorang terserap, serta bagaimana jejak dan aktivitas digital dapat berdampak terhadap kehidupan sosial.
Selain talkshow, kegiatan dilengkapi workshop yang membahas kesehatan mental dari berbagai sudut pandang.
Workshop “RESPOND - Psychological First Response in Digital and Educational Settings” dibawakan Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog Ubaya, Dr. Andrian Pramadi, Psikolog.
Sementara itu, workshop “PROTECT - Digital Footprints: Understanding Legal Risks and Responsibility” disampaikan Dekan Fakultas Hukum Ubaya, Dr. Hwian Christianto.
Adapun aspek kesehatan psikologis di lingkungan kerja dibahas melalui workshop “CONNECT - Building Psychologically Healthy Workplaces in the Digital Era” oleh Dr. Artiawati, Psikolog.
Rangkaian materi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental di era digital tidak hanya berkaitan dengan aspek psikologis individu. Faktor medis, teknologi, hukum, pendidikan, lingkungan kerja, keluarga, dan komunitas juga memiliki keterkaitan dalam membangun lingkungan yang lebih aman.
Pendekatan multidisipliner tersebut sekaligus menekankan bahwa pencegahan masalah kesehatan mental dan risiko bunuh diri tidak hanya menjadi tanggung jawab individu.
Dukungan keluarga, komunitas, institusi pendidikan dan tempat kerja, tenaga profesional, serta lingkungan sosial turut berperan dalam memberikan ruang yang aman bagi seseorang yang sedang menghadapi tekanan.
Mary berharap, Dies Natalis ke-13 Magister Psikologi Ubaya dapat menjadi momentum untuk memperluas literasi dan keterampilan masyarakat dalam membangun relasi yang sehat di tengah perkembangan teknologi.
“Kami harap, perayaan Dies Natalis tahun ini tidak hanya menjadi kegiatan perayaan institusional, tetapi juga menjadi ruang akademik dan profesional untuk meningkatkan literasi, kompetensi praktis, serta kesadaran kolektif mengenai pentingnya membangun koneksi yang sehat dan lingkungan yang mendukung kesehatan mental serta keselamatan individu, terutama generasi muda,” pungkasnya. (ADV)
Reporter: Amanah







.jpg)


.jpg)






.jpg)