01 October 2026

Get In Touch

Periode Kelam NKRI, PKI Gagal Mengganti Dasar Negara Pancasila

Yunus Supanto, Wartawan Senior
Yunus Supanto, Wartawan Senior

OPINI (Lentera) -Kejayaan PKI bertahan hanya sampai bulan Oktober 1965. Musuh utama PKI, golongan Islam tradisional, khususnya NU bangkit. Walau tanpa Masyumi (yang dibubarkan Presiden Soekarno pada Agustus 1960). Kyai-kyai kampung Nahdlatul Ulama (NU) bangkit bersama santri. Karena jika terus mengalah, akan menjadi target utama serangan pembantaian oleh PKI, yang didukung oleh kekuasaan. Bahkan PKI sudah terang-terangan menyerang akidah Islam (dan agama lain). Sekaligus bertujuan mengganti dasar negara Pancasila.

PKI menghasut Presiden supaya membubarkan Masyumi. Dengan berbagai dalih, termasuk rekam jejak pimpinan Masyumi terlibat pemberontakan PRRI tahun 1958 (dan Permesta tahun 1957). Namun sepanjang decade 1960-an segenap organisasi masyarakat dan parpol, berbasis muslim, juga mengusulkan pembubaran PKI. Khususnya Nahdlatul Ulama (NU), sebagai parpol terbesar ketiga (setelah PNI, dan Masyumi) hasil Pemilu 1955. Tetapi usulan NU tidak direspons Presiden (tidak bersedia membubarkan PKI).

NU tampil mengemuka menggantikan peran Masyumi. Memiliki dukungan rakyat hasil Pemilu 1955, hampir 7 juta suara (18,41%). Berbeda tipis dengan PKI yang memperoleh hampir 6,2 juta suara (16,36%). Walau NU lebih besar, namun PKI memiliki “pendukung lain” yang menyebabkan tidak dibubarkan. Bahkan PKI menjadi jumawa, mulai melaksanakan terror melalui seni budaya sejak awal dekade 1960-an. Khususnya melalui organisasi sayap Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).    

Serangan terhadap akidah agama-agama dilakukan melalui atraksi seni budaya. Berdalih kebebasan budaya. Karena tidak dibubarkan, PKI semakin mengembangkan diri, menjadi salahsatu dari 4 besar partai politik hasil Pemilu 1955. Melalui Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), dipentaskan seni tradisional. Lakon drama paling terkenal bertema “Matine Gusti Allah,” yang mengolok-olok agama Islam. Serta lakon “Pernikahan Paus,” yang menista ajaran Nasrani. Kedua lakon dipentaskan melalui seni kethoprak (di Yogya), serta ludruk di Jawa Timur.

PKI Menista agama

 Beberapa judul pementasan yang tercatat memicu kemarahan umat beragama, memicu tawur sosial. Antara lain "Gusti Allah Telah Mati" (dipentaskan di Kediri pada tahun 1964), "Gusti Allah Dadi Manten", dan "Gusti Allah Bingung". Perang saudara berlangsung cukup lama, sampai mendekati hari Pahlawan 10 November 1965. Ratusan dokumen, dan kesaksian pelaku sejarah, menyatakan kader PKI yang mendahului aksi pembantaian terhadap warga, terutama kalangan santri dan ulama.

Penistaan agama melalui pentas seni budaya oleh PKI, bukan isapan jempol. Melainkan diabadikan oleh pelaku sejarah “perang” budaya. Misalnya, Taufik Ismail, mengabadikannya dalam “Tirani dan Banteng: Dua Kumpulan Puisi” (yayasan Ananda, 1993). Puisinya yang berjudul “Catatan Tahun 1965,” menulis, “... genjer-genjer jadi nyanyian // ... // Matine Gusti Allah dipentaskan ... .” 

Dokumentasi olok-olok penistaan agama juga dinyatakan oleh Profesor RM Soedarsono (guru besar Ilmu Budaya UGM). Dalam buku berjudul “Teater Tradisional Indonesia: Indonesia Indah Jilid 6,” ditulis, lakon penistaan ajaran agama dipentaskan di Gunung Kidul (DIY) pada 14 Juli 1964 oleh Lekra. Menurut Profesor Soedarsono, dua lakon tersebut bersifat agitatif, dan provokatif menebar kebencian.

Begitu pula sastrawan Ajip Rosidi, men-dokumentasi-kan dalam bukunya “Anak Tanah Air, Secercah Kisah” (1985). Dinyatakan, bahwa lakon yang menistakan agama dipentaskan oleh kelompok ludruk di Jawa Timur. Di beberapa daerah, pementasan ludruk dengan lakon penistaan agama berhasil dibubarkan oleh kelompok pemuda NU (Nahdlatul Ulama) GP Ansor. Disertai tawur sosial kedua kelompok.

Sebelumnya, peristiwa September 1948 (Pemberontakan PKI di Madiun), juga meng-geger-kan pulau Jawa. Basis PKI memang berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Terutama menyusup pada ajaran spiritual non-agama. Sejalan dengan keinginan PKI untuk menumpas semua kyai. Salahsatu korban yang di-incar PKI, adalah ulama pimpinan pesantren Termas, Pacitan. Yakni, KH Hamid Dimyathi, diculik, dan dibantai Front Demokrasi Rakyat. PKI juga menyiksa dan membunuh dengan keji, Gubernur Jawa Timur pertama (pemerintahan pribumi), RMT Soerjo. Jenazahnya dibuang di hutan Gedunghalar, Ngawi.

Namun segera terbit dokumentasi sejarah paling “monumental.” Yakni, TAP MPRS Nomor XXV tahun 1966 yang membubarkan PKI. Sekaligus melarang ajaran komunisme di seluruh Indonesia. Berlaku hingga saat ini. Tetapi selama satu dekade dicoba secara konsisten rekonsiliasi persatuan nasional tanpa syarat. Saling memaafkan. Namun dengan tetap melarang PKI, dan ajaran komunisme (*)

Penulis: Yunus Supanto, Wartawan Senior, meraih Penghargaan Piala Adinegoro, Penghargaan Tertinggi Karya Jurnalistik Tingkat Nasional 2015|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Kebal
Previous News
Kebal
Lentera Today.
Lentera Today.