04 October 2026

Get In Touch

Pertama dalam Sejarah! Insinyur Lokal Angkat Jembatan Raksasa di Ketinggian 117 Meter

Rendering menara kembar Indonesia 1, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat (Media Group)
Rendering menara kembar Indonesia 1, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat (Media Group)

JAKARTA (Lentera) -Langit Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, bakal menjadi saksi sejarah baru dalam dunia rekayasa sipil dan konstruksi Indonesia pada akhir Oktober 2026.

Dua menara pencakar langit kategori supertall milik PT Surya Indonesia Satu Property, Indonesia 1, yang menjulang setinggi 306 meter memasuki fase paling penting sekaligus spektakuler dalam proses pembangunannya.

Hal ini menyusul pengangkatan struktur jembatan penghubung atas (upper skybridge) seberat puluhan ton menuju elevasi +117,6 meter dari lantai dasar.

Proses teknis berisiko tinggi dengan metode high-altitude truss hoisting ini menjadi yang pertama kali diterapkan dalam sejarah rekayasa struktur gedung bertingkat di Tanah Air.

Dua skybridge, dua metode berbeda

Proyek gedung Indonesia 1 dirancang terhubung oleh dua unit skybridge berkonstruksi baja. Masing-masing dirancang setinggi dua lantai:

Skybridge bawah terletak di antara Lantai 3 hingga Lantai 5. Pengerjaannya telah diselesaikan menggunakan metode konvensional, di mana seluruh perakitan dilakukan di atas perancah (platform) yang ditopang langsung dari lantai dasar.

Sementara skybridge atas terletak di antara Lantai 21 hingga Lantai 23 dengan posisi atap berada pada ketinggian puncak elevasi +117,6 meter.

Karena tingginya posisi skybridge atas, penggunaan perancah konvensional dari darat menjadi hal yang tidak memungkinkan secara teknis maupun ekonomis.

Oleh karena itu, para insinyur merancang skema pengangkatan terkoordinasi langsung di udara.

Sinkronisasi 12 strand jack

Saat ini, struktur rangka baja untuk skybridge atas sedang dirakit persis di atas atap skybridge bawah.

Setelah dua bagian bentang cantilever tersambung sementara, tahap pengangkatan yang membutuhkan akurasi ekstrem akan segera dimulai.

Rangka baja berukuran raksasa tersebut akan diangkat menggunakan tali-tali baja khusus yang ditarik secara tersinkronisasi oleh 12 unit hydraulic heavy strand jack.

Pakar rekayasa struktur kenamaan Indonesia, Davy Sukamta, menjelaskan, proses pengangkatan ini membutuhkan kecermatan dan keandalan sistem pengontrol jarak jauh yang sangat presisi agar beban terbagi secara merata pada kedua menara utama.

"Perakitan rangka baja saat ini sedang berlangsung di atas atap skybridge bawah. 'Aksi spektakuler' pengangkatannya dijadwalkan berlangsung sekitar akhir Oktober 2026 dan dapat disaksikan langsung dari sepanjang Jalan MH Thamrin," ungkap Davy menguti Kompas, Minggu (4/10/2026).

Keunggulan 100 persen karya insinyur lokal

Hal yang paling membanggakan dari pencapaian teknologi konstruksi ini adalah seluruh proses analisis, perancangan struktur, kalkulasi pembebanan, hingga metode eksekusi pengangkatan skybridge sepenuhnya dirancang oleh insinyur dan tenaga ahli Indonesia. 

"Keberhasilan pengangkatan rangka baja skybridge pada posisi +117,6 meter ini tidak hanya menandai pencapaian arsitektural Indonesia 1, tetapi juga membuktikan kapabilitas dan penguasaan teknologi tingkat tinggi para insinyur nasional dalam membangun pencakar langit berstandar internasional," pungkas Davy (*)

Editor: Arifin BH|Kompas

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.