SURABAYA (Lentera) -Penutupan total Jembatan Pajarakan di Desa Sukokerto, Kabupaten Probolinggo, selama 81 hari berdampak pada mobilitas masyarakat di jalur Pantura.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Mahdi, menegaskan rekayasa lalu lintas selama masa perbaikan tidak sampai mengganggu aktivitas dan roda perekonomian warga.
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali resmi memulai proyek rehabilitasi menyeluruh Jembatan Pajarakan. Perbaikan dilakukan untuk memperkuat struktur jembatan yang sempat mengalami penurunan kapasitas pada beberapa bagian.
Mahdi mengungkapkan perbaikan jembatan sudah sangat mendesak mengingat fungsi jalan nasional tersebut yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat di kawasan Pantura.
”Memang proses pengerjaannya akan berdampak pada mobilitas dan kelancaran lalu lintas harian warga, tetapi ini adalah langkah preventif yang tidak boleh ditunda agar tidak terjadi risiko yang lebih besar di kemudian hari,” ungkap Mahdi, Minggu (04/10/1016).
Pria yang akrab dipanggil Habib Mahdi ini juga berpesan kepada instansi berwenang dan kontraktor pelaksana agar dapat merampungkan proyek tepat waktu sesuai target 81 hari yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, Politisi PPP tersebut mengimbau masyarakat, khususnya para sopir angkutan barang dan pengguna jalan harian, untuk bersabar serta memaklumi ketidaknyamanan selama masa pengalihan arus berlangsung.
”Kami meminta kepada aparat kepolisian dan pemerintah daerah untuk terus mengevaluasi rekayasa lalu lintas di lapangan secara berkala. Jika ada titik kemacetan baru yang merugikan aktivitas warga, harus segera dicarikan solusi cepatnya agar roda perekonomian tetap berputar dengan baik,” pungkasnya.
Reporter: Pradhita|Editor: Arifin BH




.jpg)