Lama Menginap Wisatawan di Kota Malang Hanya 1-2 Hari, Pemkot Genjot Eksistensi Wisata Malam
MALANG (Lentera) - Rata-rata lama menginap wisatawan di Kota Malang masih berada di kisaran 1 hingga 2 hari, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang kini menggenjot eksistensi wisata malam melalui berbagai event sehingga lebih banyak pilihan aktivitas dan alasan untuk memperpanjang kunjungan.
"Kami menginginkan di Kota Malang ini ada hiburan atau wisata bagi warga di malam hari. Kami sediakan bukan hanya untuk warga Kota Malang tetapi juga untuk wisatawan, baik nusantara maupun luar negeri," ujar Arif, Senin (5/10/2026).
"Artinya, tujuan kami dengan mendatangkan wisatawan ini mereka bisa menginap lebih lama di Kota Malang," imbuhnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang yang diperbarui pada 1 Oktober 2026, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di Kota Malang pada Agustus 2026 tercatat 1,31 hari. Angka tersebut turun dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 1,38 hari.
Pada periode yang sama, rata-rata lama menginap tamu hotel di Kota Malang masih lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur yang mencapai 1,22 hari. Namun, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 1,50 hari.
Kondisi tersebut, menurut Arif, menjadi salah satu alasan bagi Pemkot Malang untuk memperkuat aktivitas pariwisata pada malam hari. Salah satunya melalui event Padang Bulan yang digelar di Alun-Alun Merdeka Kota Malang pada Minggu (4/10/2026) malam.
Dalam konsep Padang Bulan, Pemkot Malang ingin menghadirkan ruang publik yang dapat menjadi tempat masyarakat maupun wisatawan menikmati beragam aktivitas pada malam hari. Mulai dari pertunjukan musik, tari-tarian, budaya Malangan hingga kuliner khas Kota Malang.
Arif menyebut, penyelenggaraan perdana Padang Bulan mendapat animo cukup tinggi. Menurutnya, hal ini menjadi indikasi event malam dapat dikembangkan sebagai salah satu daya tarik tambahan bagi wisatawan.
Lebih lanjut Arif mengatakan, semakin lama wisatawan menginap, semakin besar pula peluang terjadinya multiplier effect terhadap berbagai sektor yang berkaitan dengan pariwisata.
"Ketika wisatawan menginap lebih lama di Kota Malang, artinya multiplier effect dari kedatangan wisatawan itu pasti akan berdampak ke kuliner, UMKM, kafe, hotel-restoran juga jalan," jelasnya.
Perputaran ekonomi tersebut, lanjut Arif, pada akhirnya diharapkan turut memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kota Malang.
Setelah penyelenggaraan perdana Padang Bulan, pihaknya mengaku akan melakukan pemetaan terhadap dampak ekonomi event tersebut. Pemetaan itu mencakup sejumlah sektor yang dinilai ikut bergerak selama kegiatan berlangsung.
"Kami petakan kira-kira dengan event yang baru pertama berjalan ini berapa perputaran ekonomi di Kota Malang, baik dari parkir, hotel, kafe, dan UMKM. Itu juga akan kami laporkan ke Pak Wali Kota," kata Arif.
Hasil pemetaan tersebut akan menjadi bagian dari laporan kepada Wali Kota Malang. Termasuk untuk melihat sejauh mana penyelenggaraan event memberikan dampak yang sebanding atau bahkan lebih besar dibandingkan anggaran yang dikeluarkan.
Menurut Arif, konsep dan lokasi event juga perlu dipetakan secara jelas agar penyelenggaraan kegiatan berikutnya dapat dilakukan secara terukur.
Jika mendapat persetujuan Wali Kota, konsep tersebut akan ditindaklanjuti untuk mendukung pengembangan pariwisata Kota Malang.
"Sehingga ini bisa menjadi barometer ke depannya bagaimana Pemkot Malang membelanjakan anggarannya untuk kemudian mendapatkan impact yang lebih besar dari apa yang dikeluarkan," tuturnya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)