Oktober Awal Terjadi 277 Kebakaran di Surabaya, DPKP Ungkap Kebiasaan yang Bisa Memicu Kebakaran
SURABAYA (Lentera) -Sampai dengan 7 Oktober 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya mencatat 277 kejadian kebakaran, dengan 146 di antaranya terjadi di area nonbangunan seperti lahan kosong, alang-alang, dan tumpukan sampah.
Kondisi tersebut salah satunya terlihat dari kebakaran lahan di Jalan Gununganyar Tambak Utara, Selasa (6/10/2026) malam. Lahan dengan luas keseluruhan sekitar tiga hektare itu terbakar sekitar 500 meter persegi.
Kepala DPKP Kota Surabaya Laksita Rini Sevriani mengatakan, kondisi cuaca yang panas dan kering membuat rumput serta alang-alang di sejumlah lahan terbuka mudah terbakar. Kondisi serupa ditemukan di sejumlah wilayah, mulai Surabaya Barat, Timur termasuk Gununganyar, hingga kawasan utara.
Karena itu, masyarakat juga diminta tidak membakar sampah maupun semak di lahan kosong. Bara api yang tidak sepenuhnya padam dapat terbawa angin dan menyulut rumput atau alang-alang yang mengering.
Begitu pula dengan puntung rokok. Material kering di tepi jalan atau lahan terbuka dapat menjadi media yang mudah terbakar sehingga sumber panas kecil sekalipun berpotensi memicu kebakaran.
"Jangan membakar sampah atau putung rokok sembarangan. Karena itu bisa jadi pemicu terjadinya kebakaran. Kemudian kami juga mengantisipasi bukan hanya karena cuaca panas, tetapi juga terkait kelistrikan," ujar Laksita ketika dihubungi Lentera, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, sebagian besar kebakaran dapat dipicu hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa dicegah. Salah satunya penggunaan instalasi listrik yang sudah tidak layak.
Laksita mengimbau warga segera mengganti kabel listrik yang sudah retak atau terkelupas dengan kabel berstandar SNI. Penggunaan steker bertumpuk juga perlu dihindari karena dapat memicu panas berlebih dan korsleting.
"Jangan menumpuk steker. Cukup satu, jangan ditumpuk untuk kulkas, TV, dan lainnya. Itu juga akan memacu terjadinya korsleting listrik sehingga menimbulkan kebakaran," jelasnya.
Selain instalasi listrik, kebiasaan mengisi daya telepon seluler juga perlu diperhatikan. Laksita mengingatkan masyarakat tidak meletakkan ponsel yang sedang di-charge di atas kasur, bantal, atau benda yang mudah terbakar.
Menurutnya, panas yang muncul saat pengisian daya dapat terakumulasi, terutama jika perangkat diletakkan di tempat yang tidak memiliki sirkulasi udara. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan asap hingga api.
"Kalau ngecas HP biasanya di kamar, jangan ditaruh di atas kasur atau bantal. Itu panas dan lama-lama bisa menimbulkan asap, kemudian api dan akhirnya merambat menjadi kebakaran," tuturnya.
Kewaspadaan juga diperlukan saat menggunakan LPG. Jika warga mencium bau gas yang tidak biasa, Laksita meminta regulator segera dilepas dan tabung dibawa ke tempat terbuka yang aman, dengan tetap menghindari sumber api atau percikan listrik.
"Apabila ada bau LPG, mungkin LPG-nya ngowos, segera dicopot regulatornya dan dibawa keluar," ujarnya.
Kebiasaan meninggalkan kompor saat memasak juga menjadi salah satu hal yang perlu dihindari. Laksita meminta warga memastikan kompor benar-benar dimatikan ketika meninggalkan rumah, meskipun hanya sebentar.
Ia mengingatkan, selama kondisi panas, kering dan berangin masih terjadi, masyarakat perlu mengurangi aktivitas yang berpotensi menjadi sumber api untuk menjaga Kota Surabaya tetap aman dari bahaya kebakaran.
“Kami berharap ditengah cuaca ekstrem yang panas dan berangin ini, masyarakat bisa lebih berhati-hati dan meninggalkan kebiasaan yang bisa memicu kobakaran api,” pungkasnya.
Pihaknya juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan api, termasuk pembakaran sampah yang berpotensi merembet. Laporan dapat disampaikan melalui Command Center 112 agar petugas bisa melakukan penanganan sedini mungkin.
"Alhamdulillah, warga Surabaya sekarang sudah sangat tanggap. Kalau ada pembakaran sampah atau api kecil, mereka langsung melapor ke Command Center 112 sehingga petugas bisa bertindak cepat sebelum api merambat luas," tutupnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH




.jpg)