MALANG (Lentera) - Upaya menghidupkan kawasan Kayutangan sisi utara yang dinilai masih sepi pengunjung terus didorong Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, melalui sejumlah opsi pengembangan.
Mulai dari rencana menghadirkan hiburan musik hingga usulan pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) baru, yang secara khusus berfokus pada pengembangan kawasan tersebut.
"Kalau memang harus ditambah untuk musik yang ada di sana, nanti teman-teman band binaan dari Disporapar kami tampilkan juga untuk bisa menarik wisatawan hadir di sebelah utara," ujar Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, upaya menghidupkan kawasan utara sebelumnya telah dilakukan melalui kegiatan Pasar Srampat yang digagas pengelola Hotel Trio. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi pemantik aktivitas wisata sekaligus mendorong persebaran kunjungan agar tidak hanya terkonsentrasi di Kayutangan sisi selatan atau yang dikenal dengan Kayutangan Heritage.
Arif menilai, dominasi pertokoan di kawasan utara membuat aktivitas cenderung berkurang pada sore hingga malam hari. Akibatnya, pilihan tempat untuk bersantai maupun menikmati hiburan pada malam hari masih terbatas.
Di sisi lain, Penasihat Arsitektur Tata Kota sekaligus penggagas Kampung Kayutangan Heritage, Ir. Budi Fathony mengusulkan pembentukan Pokdarwis Skabrom Heritage. Nama tersebut merupakan singkatan dari Jalan Semeru, kawasan Kayutangan, dan Jalan Bromo, yang menurut Budi telah dikenal sejak dahulu.
Usulan tersebut dimaksudkan agar pengembangan wisata Kayutangan sisi utara memiliki fokus tersendiri. Meski saat ini telah terdapat Pokdarwis Kampoeng Heritage Kajoetangan, Budi menilai penguatan kelembagaan masyarakat diperlukan untuk mendorong pengelolaan potensi wisata di kawasan tersebut.
Disebutkannya, Kayutangan sisi utara memiliki sejumlah potensi sejarah yang belum tergarap optimal. Di antaranya pintu air bersejarah, rumah-rumah tempo dulu, bangunan cagar budaya, pernak-pernik pecah belah, hingga monumen Stadsklok yang dinilai memiliki daya tarik tersendiri.
Lebih lanjut, menurut Budi, pengembangan kawasan tidak cukup hanya dengan menghadirkan keramaian di koridor jalan. Karakter heritage perlu tetap dipertahankan, sementara potensi ekonomi warga dapat dikembangkan melalui pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Gagasan pengembangan Kayutangan sisi utara itu sebenarnya sudah dibahas sejak sebelum pandemi Covid-19. Namun, upaya tersebut belum berjalan optimal karena pengurus di wilayah belum cukup proaktif," paparnya.
Selain mengembangkan UMKM, Budi menilai penyelenggaraan berbagai kegiatan atau event dapat menjadi alternatif untuk menarik pengunjung. Kegiatan tersebut bisa digelar di dalam kampung maupun di area koridor luar, dengan memanfaatkan potensi yang sudah tersedia.
Namun, Budi mengingatkan, agar pengembangan Kayutangan sisi utara tidak hanya berorientasi pada keramaian di sepanjang koridor luar. Menurutnya, aktivitas wisata justru perlu diarahkan hingga ke dalam kampung agar potensi sejarah dan kehidupan masyarakat setempat menjadi bagian dari daya tarik kawasan.
"Menurut saya, tinggal bagaimana untuk menciptakan UMKM, dengan harus dibimbing dulu misalnya. Termasuk membentuk Pokdarwis Skabrom. Semangat saja, tinggal sekarang bagaimana yang (utara) ini biarkanlah tumbuh," katanya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)