14 October 2026

Get In Touch

NUNI 2026 di Ubaya, 21 Kampus Perkuat Riset Kolaboratif dan Mobilitas Akademik

Kegiatan Nationwide University Network in Indonesia (NUNI) yang berlangsung di Ubaya. (Amanah/Lentera)
Kegiatan Nationwide University Network in Indonesia (NUNI) yang berlangsung di Ubaya. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera) – Kolaborasi antar perguruan tinggi dinilai menjadi salah satu kunci untuk memperkuat daya saing akademik Indonesia di tingkat internasional. Melalui Nationwide University Network in Indonesia (NUNI), 21 perguruan tinggi berupaya memperluas kerja sama, mulai dari mobilitas mahasiswa dan dosen, riset bersama, hingga peningkatan reputasi global.

Upaya tersebut menjadi pembahasan dalam Presidential Forum dan Annual Meeting NUNI 2026 yang digelar di Perpustakaan Lantai 5 Kampus Universitas Surabaya (Ubaya), Tenggilis, Surabaya, Selasa (13/10/2026). Dalam kegiatan ini, Ubaya menjadi tuan rumah NUNI 2026 bersama Universitas Kristen Petra (UK Petra) sebagai co-host.

Ketua Dewan Kemitraan NUNI, Dr Nelly, S.Kom., M.M., mengatakan, konsorsium tersebut dibentuk untuk mendorong perguruan tinggi mengembangkan program bersama sekaligus memperkuat kapasitas masing-masing institusi.

Menurutnya, kerja sama melalui konsorsium memungkinkan perguruan tinggi mencapai target yang lebih besar dibandingkan jika setiap kampus berjalan sendiri.

"Kalau sendiri-sendiri, banyak program yang harus dikerjakan oleh universitas, pencapaian-pencapaian untuk meraih reputasi global. Kalau sendiri akan berat. Jadi, dengan adanya konsorsium NUNI ini, capaiannya jadi sinergis, makin lama makin banyak," kata Nelly.

Ia menjelaskan, NUNI memiliki empat pilar kolaborasi, yakni mobilitas mahasiswa (student mobility), mobilitas staf atau dosen (staff mobility), riset kolaboratif, dan reputasi global.

Keempat pilar tersebut menjadi landasan bagi perguruan tinggi anggota untuk memperluas pertukaran pengalaman akademik, meningkatkan peluang riset lintas institusi, serta membuka akses kerja sama internasional.

Kolaborasi juga dilakukan dalam memperkenalkan potensi perguruan tinggi Indonesia di luar negeri. Dengan membawa nama konsorsium, kampus-kampus anggota dapat memperluas jangkauan promosi akademik dan peluang kemitraan.

"Sehingga ketika pameran di luar, kita selalu bersama-sama. Karena itu dampaknya jauh lebih besar ketimbang sendiri-sendiri universitas pergi ke luar," ujarnya.

Selain membahas penguatan jejaring akademik, NUNI 2026 menyoroti kegiatan Student Camp yang melibatkan mahasiswa dari 15 universitas. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diajak berinteraksi langsung dengan masyarakat di kawasan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Rektor Ubaya, Dr Benny Lianto, mengatakan, kegiatan yang dimulai pada Sabtu (10/10/2026) itu memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenali persoalan masyarakat sekaligus menyusun alternatif solusi berdasarkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah.

Para mahasiswa menjalani aktivitas di sejumlah desa sekitar Trawas dan Kampus III Ubaya. Mereka mengamati kondisi masyarakat, mengidentifikasi persoalan yang dihadapi, serta merumuskan gagasan yang kemudian dipresentasikan dalam rangkaian NUNI 2026.

"Sejak hari Sabtu, para mahasiswa ini sudah kita minta untuk beraktivitas di masyarakat di desa-desa, di daerah Trawas, di Kampus 3 Ubaya, dan mereka bisa langsung melihat permasalahan langsung yang dihadapi oleh masyarakat di desa," kata Benny.

Menurut Benny, Student Camp menjadi salah satu upaya mendorong mahasiswa menerapkan pengetahuan akademik untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar di lingkungan kampus, tetapi juga memperoleh pengalaman memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.

Benny menjelaskan, rangkaian kegiatan tahunan NUNI meliputi Presidential Forum, Annual Meeting, dan Student Camp. Presidential Forum menjadi ruang bagi pimpinan perguruan tinggi untuk membahas arah pengembangan konsorsium, sedangkan Annual Meeting difokuskan pada perumusan program kerja selanjutnya.

"Dalam pertemuan tersebut, para pimpinan kampus juga mendiskusikan peluang pengembangan kegiatan mahasiswa dan dosen, riset kolaboratif, serta program internasionalisasi yang dapat dijalankan bersama," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua NUNI, Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si., M.Si., Apt., mengatakan, pertemuan tahunan NUNI telah berlangsung sejak penandatanganan kerja sama pada 2022 di Jakarta. Penyelenggaraan kegiatan kemudian dilakukan secara bergiliran di sejumlah daerah dan perguruan tinggi anggota.

"Kita memang gilir, ya. Karena tersebar di beberapa provinsi, dan dua tahun sebelumnya ada di Sumatera Utara, kemudian di Sumatera Barat, kali ini kita pilihnya ke timur," katanya.

Menurut Poppy, kolaborasi antarkampus tidak hanya berlangsung dalam pertemuan tahunan. Kegiatan lain, seperti riset bersama dan Student Camp, juga dapat dilaksanakan beberapa kali dalam setahun, baik secara daring maupun luring.

Ia berharap, keterlibatan 21 perguruan tinggi dalam NUNI dapat memperluas program kolaborasi yang memberikan manfaat bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat.

"Dengan menggabungkan keahlian, keunikan, dan kapasitas masing-masing institusi, kerja sama antarkampus diharapkan tidak berhenti pada pertukaran akademik, tetapi juga menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat," tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.