MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menggalakkan gerakan tanam cabai untuk membantu mengendalikan inflasi, terutama saat harga komoditas tersebut mengalami kenaikan di pasaran.
Bekerja sama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Rejeki di Kelurahan Merjosari, Pemkot Malang menanam sekitar 4.000 bibit cabai di lahan seluas 6.000 meter persegi.
"Ini dalam rangka pengendalian inflasi juga. Karena komoditas cabai ini sangat berpengaruh terhadap inflasi. Kita tahu sendiri, kalau harga cabai melambung, masyarakat menjerit," ujar Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Malang, Dandung Djulharjanto, Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, lahan yang digunakan bukan merupakan lahan baru, melainkan bagian dari kebun jeruk yang dimanfaatkan untuk penanaman cabai dengan sistem tumpangsari. Tanaman cabai ditempatkan di sela-sela tanaman jeruk agar pemanfaatan lahan dan kegiatan pemeliharaan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Dandung berharap, hasil panen dalam 2-3 bulan mendatang dapat menambah pasokan cabai dan membantu menjaga stabilitas harga di pasar.
Lebih lanjut dijelaskannya, bibit cabai yang ditanam berasal dari pengadaan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang melalui APBD 2025. Benih tersebut terlebih dahulu disemai hingga menjadi bibit yang siap ditanam.
Sementara itu, Ketua Gapoktan Sumber Rejeki, Heni Mariana menyebut penanaman cabai pada musim kemarau menghadapi tantangan ketersediaan air. Menurutnya, petani berpotensi mengalami kekurangan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Gapoktan Sumber Rejeki mengaku terbantu dengan dukungan 9 unit pompa air dari Bank Indonesia (BI). Bantuan itu dinilai mendukung pengairan lahan sehingga kegiatan penanaman dapat dilakukan meski belum memasuki musim hujan.
Terpisah, Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan mengatakan potensi lahan untuk komoditas cabai dan tomat di Kota Malang tersebar di dua wilayah. Di Kelurahan Merjosari, potensinya mencapai sekitar 30 hektare. Sementara itu, di wilayah Baran, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, luasnya sekitar 41,25 hektare.
"Total potensi lahan di kedua wilayah tersebut mencapai 71,25 hektare," katanya.
Sebagian besar lahan pertanian untuk komoditas cabai dan tomat di Kota Malang, menurutnya merupakan lahan tadah hujan. Sehingga petani yang tidak memiliki sumber air atau tandon umumnya baru memulai penanaman saat awal musim hujan.
Namun, kondisi berbeda terjadi di Merjosari. Ketersediaan air dari tandon memungkinkan petani memulai penanaman cabai pada musim kemarau, sehingga kegiatan budidaya tidak sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
"Tanaman cabai dapat dipanen sekitar 10 hingga 12 kali dalam satu musim tanam. Jarak antara panen pertama dan panen berikutnya berkisar satu hingga dua minggu," katanya.
Slamet menyebut, potensi hasil produksi cabai mencapai sekitar 1.000 kilogram per hektare dalam satu masa tanam. Jika potensi tersebut dikalikan dengan luas lahan 71,25 hektare, produksi secara teoritis dapat mencapai sekitar 71.250 kilogram atau 71,25 ton dalam satu masa tanam.
Di sisi lain, Slamet mengaku, potensi produksi dari lahan cabai di Kota Malang belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Pasalnya, Kota Malang bukan merupakan daerah produsen cabai utama sehingga masih bergantung pada pasokan dari daerah lain.
"Selama ini, pasokan cabai yang masuk ke Kota Malang antara lain berasal dari Kabupaten Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Banyuwangi," katanya.
Karena itu, ia menegaskan, gerakan tanam cabai diposisikan sebagai salah satu upaya untuk memperkuat produksi lokal, bukan sebagai satu-satunya sumber pemenuhan kebutuhan cabai masyarakat.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)