23 October 2026

Get In Touch

Meta Cetak Rekor Pendapatan Rp 1.151 Triliun, Umumkan Split Saham 2:1

CEO Meta Mark Zuckerberg memperkenalkan Muse Charm, perangkat mungil ala Tamagotchi yang khusus dibuat untuk mengobrol dengan agen AI Muse (Bloomberg)
CEO Meta Mark Zuckerberg memperkenalkan Muse Charm, perangkat mungil ala Tamagotchi yang khusus dibuat untuk mengobrol dengan agen AI Muse (Bloomberg)

SURABAYA (Lentera) -Meta (META) mengawali musim laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa (Big Tech) dengan kinerja pendapatan yang melampaui ekspektasi analis. 

Perusahaan mencatat pendapatan kuartalan sebesar 64 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.151 triliun, lebih tinggi dari perkiraan analis sebesar 63,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.139 triliun.

Namun, laba per saham (EPS) berdasarkan prinsip akuntansi GAAP tertekan biaya hukum terkait penyelesaian kasus kesehatan mental remaja.

EPS GAAP Meta tercatat sebesar 3,83 dollar AS atau sekitar Rp 68.900 per saham, masih di atas ekspektasi analis sebesar 3,56 dollar AS atau sekitar Rp 64.000 per saham.

Tanpa memperhitungkan beban biaya hukum tersebut, EPS Meta diperkirakan mencapai 7,40 dollar AS atau sekitar Rp 133.100 per saham.

Sebagai perbandingan, pada kuartal III tahun lalu Meta membukukan EPS sebesar 1,05 dollar AS atau sekitar Rp 18.900 per saham dengan pendapatan 51,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 921 triliun.

Meta Umumkan Stock Split 2:1

Bersamaan dengan laporan keuangan tersebut, Meta mengumumkan pemecahan saham (stock split) dengan rasio 2:1. 

Melalui aksi tersebut, setiap pemegang saham Meta Kelas A akan menerima satu saham Kelas C yang tidak memiliki hak suara.

Struktur tersebut memungkinkan Meta memberikan tambahan saham kepada pemegang saham tanpa mengurangi kendali CEO Mark Zuckerberg atas perusahaan.

Langkah ini juga memberikan ruang bagi Meta untuk terus mendanai pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Selain itu, Meta menaikkan batas bawah proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) tahunannya.

Perusahaan sebelumnya memproyeksikan belanja modal sebesar 130 miliar-145 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.338-Rp 2.608 triliun.

Kini, batas bawah proyeksi tersebut dinaikkan menjadi 135 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.428 triliun, sementara batas atas tetap 145 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.608 triliun (*)

Editor: Arifin BH/Kompas

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.