13 January 2026

Get In Touch

Presiden Prabowo Akan Resmikan Kilang Minyak Terbesar di Indonesia, Jalan Bebas dari Impor BBM

Ilustrasi kilang minyak. (Dok: Pertamina)
Ilustrasi kilang minyak. (Dok: Pertamina)

SURABAYA (Lentera) - Indonesia akan memiliki proyek kilang minyak terbesar di Indonesia yakni Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan. Proyek jumbo tersebut digadang-gadang akan membuat Indonesia terbebas dari impor Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya jenis Solar. Presiden RI, Prabowo Subianto, akan meresmikan proyek kilang tersebut, pada hari ini, Senin (12/1/2026).

Melansir instagram @sekretariat.kabinet, rencana peresmian RDMP Balikpapan merupakan salah satu pembahasan dalam Rapat Terbatas (Ratas) Prabowo dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di kediaman pribadi di Hambalang, Bogor, Minggu (11/1/2026).

"Rencana peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan pada esok hari, Senin, 12 Januari 2026," ujar Teddy dilansir dari Instagram Sekretariat Kabinet @sekretariat.kabinet, dikutip Senin (12/1/2026).

Melansir CNBCIndonesia, kilang minyak dengan nilai investasi US$ 7,4 miliar setara Rp 123 triliun tersebut dikelola oleh PT Pertamina (Persero). Proyek tersebut akan menjadi tulang punggung RI untuk lepas dari jerat impor BBM jenis solar setidaknya pada tahun 2026 ini.

Terpisah, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, mengatakan kebijakan penghentian solar bisa dilakukan setelah RDMP Balikpapan beroperasi optimal.

"Kita perlu kejar karena kita berharap kekuatan dari RDMP ini akan menjadi tulang punggung kita untuk bebas dari impor solar tahun 2026. Itu yang kita andalkan adalah RDMP," kata Laode dikutip Senin (12/1/2026).

Proyek RDMP Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB). Perusahaan ini merupakan anak usaha dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Pengolahan dan Petrokimia milik PT Pertamina (Persero).

Proyek strategis nasional yang dibangun sejak 2019 ini, menjadi tonggak penting dalam pengembangan infrastruktur energi nasional yang terintegrasi. Proyek tersebut mencakup sistem penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang keandalan rantai pasok energi secara menyeluruh.

Proyek dengan total investasi setara Rp123 triliun ini untuk memodernisasi kilang eksisting, sehingga akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak, menghasilkan BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, mendorong hilirisasi industri petrokimia, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

Proyek tersebut dirancang dan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama yang saling terhubung dan terintegrasi. Hal itu untuk memastikan kesiapan operasional kilang serta keberlanjutan pasokan energi nasional.

Pertama, early work, yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan. Tahap ini meliputi persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta pembangunan fasilitas penunjang konstruksi.

Early work menjadi fondasi penting untuk mendukung kelancaran dan keselamatan seluruh tahapan konstruksi utama RDMP Balikpapan.

Kemudian yang kedua adalah Pertamina melaksanakan pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang yang mencakup 39 unit, terdiri dari 21 unit proses baru serta 13 unit fasilitas utilitas pendukung. Tidak hanya membangun unit baru, proyek ini juga melakukan revitalisasi 4 unit fasilitas utama pengolahan, antara lain unit distilasi minyak mentah, unit pengolahan residu, unit hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG.

Pembangunan dan revitalisasi unit-unit ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas produk BBM sesuai standar yang lebih tinggi.

Lingkup ketiga merupakan penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah, yang mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.

Pada tahap ini, Pertamina juga membangun jaringan pipa transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci, unloading line onshore dan offshore berdiameter 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT.

Infrastruktur ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keandalan penerimaan minyak mentah dari kapal tanker berkapasitas besar.

Impor solar RI sepanjang lima tahun terakhir

Berdasarkan data Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2024, Indonesia tercatat belum pernah absen impor solar dalam 10 tahun terakhir. Terhitung dari tahun 2019, Indonesia mengimpor produk BBM jenis solar (gasoil) hampir 4 juta kilo liter (kl) tepatnya sebanyak 3,87 juta kl.

Angka tersebut terhitung rata-rata melonjak hingga tahun 2023 yang impor solarnya mencapai 5,14 juta kl. Namun, angka impor tersebut tercatat menurun pada tahun 2024 lalu sebanyak 4,24 juta kl.

Mengingat, pada tahun 2023 Indonesia mulai memasifkan campuran produk sawit yakni biodiesel 35% (B35) pada pertengahan tahun. Meningkat komposisinya pada tahun 2025 menjadi 40% (B40) dan diyakini bisa menekan angka impor solar dalam negeri.

Impor solar RI pada 2019 mencapai 3,87 juta kl; 2020 mencapai 3,18 juta kl; 2021 mencapai 3,19 juta kl; 2022 mencapai 5,27 juta kl; 2023 mencapai 5,14 juta kl; dan pada 2024, mencapai 4,24 juta kl. (*)


Editor : Lutfiyu Handi/berbagai sumber

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.