02 February 2026

Get In Touch

Selain Berprestasi, Desa Wisata Kemiren Hidupkan Detak Ekonomi Anak Muda hingga Lansia 

Mbah Ning, nenek berusia 81 tahun yang masih produktif dan mendapatkan pendapatan dari desa wisata Kemiren, Banyuwangi. (kab banyuwangi)
Mbah Ning, nenek berusia 81 tahun yang masih produktif dan mendapatkan pendapatan dari desa wisata Kemiren, Banyuwangi. (kab banyuwangi)

BANYUWANGI (Lentera) – Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, seolah membawa wisatawan pulang ke masa lalu yang hangat dan penuh makna. Di desa yang masih memegang teguh tradisi leluhur ini, para tamu disambut dengan keramahan khas masyarakat Using yang tak pernah lekang oleh waktu. 

Tak heran jika desa wisata ini mampu menarik berbagai wisatawan, melansir antara, kunjungan wisatawan di objek wisata itu rata-rata hingga 4.000 orang setiap tahunnya. Ketua Pokdarwis Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Moh Edy Saputro menyampaikan mayoritas wisatawan yang berkunjung ingin mengenal kebudayaan desa yang mendapatkan penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 itu.

"Sebelum pandemi, kunjungan di Desa Kemiren sempat menyentuh angka 18 ribu orang, itu terjadi pada 2019. Namun, setelah pandemi, kami berupaya menyuguhkan kebudayaan dalam pariwisata sebaik mungkin untuk mengulang kembali capaian waktu itu," katanya melansir antara Senin (2/2/2026).

Para wisatawan diajak untuk benar-benar terlibat dalam kehidupan budaya masyarakat. Sebab desa wisata ini menyuguhkan mengikuti paket edukasi yang memperkenalkan seni dan tradisi lokal secara langsung dan menyenangkan. Dimulai dari mengenal harmoni nada dalam belajar memainkan gamelan Osing, hingga menciptakan motif indah saat membatik dengan pewarna alami—setiap aktivitas menawarkan pengalaman yang autentik dan tak terlupakan.

Tidak berhenti di situ, wisatawan juga akan dihadapkan pada aroma khas kopi Kemiren, sebab para tamu diajak menyangrai kopi secara tradisional secara langsung. Menyangrai sebuah proses yang tidak hanya menonjolkan rasa, tetapi juga cerita panjang tentang kopi dan masyarakatnya.

Perkembangan wisata juga membawa Kemiren meraih berbagai penghargaan presitius. Sebut saja di antaranya Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024, Internasional The 5th ASEAN Homestay Award dalam ajang Asean Tourism Award (ATA) 2025, dan Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia (The Best Tourism Villages Upgrade Programme) dari United Nations Tourism, Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Desa Wisata Kemiren ini tidak hanya menorehkan berbagai prestasi prestisuius, namun juga menghidupkan detak ekonomi bagi masyarakatnya mulai dari kalangan muda hingga lansia. Salah satu contohnya adalah Mbah Ning (81). Sejak Kemiren berkembang sebagai desa wisata, Mbah Ning mendapatkan pendapatan dari pariwisata meski di usia yang tidak lagi muda. Ia kini aktif terlibat dalam kegiatan masak-memasak menu khas untuk melayani wisatawan.

"Kalau ada tamu, saya ikut masak. Mereka kan minta yang khas Kemiren, seperti Pecel Pitik, Ayam Kesrut. Dari sini sudah bisa dapat penghasilan," ujar Mbah Ning melansir laman kabupaten Banyuwangi.

Mbah Ning merasa hidupnya pariwisata di salah satu desa wisata adat terbaik dunia versi PBB itu membuatnya tetap produktif. Mbah Ning bisa berdaya dan tetap berpenghasilan dengan memanfaatkan keahlian yang ia dimiliki.

"Bagi yang sudah tua seperti saya, ini sangat membantu. Kerja di sawah juga sudah terlalu berat," terang Mbah Ning.

Sementara bagi kalangan muda, majunya pariwisata memberi banyak ruang untuk menjaga dan melestarikan tradisi. "Desa kami sering didatangi tamu sejak menjadi desa wisata. Itu jadi dorongan bagi kami yang muda-muda untuk ikut melestarikan budaya," kata Rika, salah satu anak muda di Desa Kemiren.

Rika biasa membantu menawarkan jasa wisata kepada para pengunjung desa tersebut. Selain itu, ia juga terbiasa menerima pesanan kuliner khas Osing dari para wisatawan.

Banyak anak muda seusia Rika yang tak harus meninggalkan desa tempat tinggal mereka untuk sekadar bekerja di kota. Dengan menjaga dan merawat budaya, mereka bisa memberi layanan kepariwisataan kepada tamu yang datang.

"Dari sana, keluarga saya dapat tambahan penghasilan. Wisata benar-benar memberi dampak ekonomi bagi keluarga kami," sambung Rika.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kemiren mencatatkan sebanyak 22 usaha kecil-menengah berdiri di desa tersebut. Mereka bergerak di usaha makan-minuman hingga sandang.

Di desa tersebut, juga berdiri sebanyak 40 homestay. Mayoritas adalah rumah tinggal milik pribadi yang disewakan saat ada tamu berkunjung. Beberapa di antaranya adalah hunian berupa kamar-kamar yang sengaja dibangun untuk tempat menginap tamu.

“Adanya wisata juga membuat sanggar kesenian tetap hidup. Di Kemiren, sanggar kesenian berjumlah 18. Semuanya adalah sanggar yang melestarikan kebudayaan adat suku Osing,” kata Ketua Pokdarwis Desa Kemiren Moh Edy Saputro.

Setiap tahunnya, ribuan orang datang ke Desa Kemiren untuk mengenal kebudayaan setempat. Data yang dihimpun Pokdarwis , rata-rata 2 ribu hingga 4 ribu kunjungan wisatawan dalam buku tamu dalam setiap tahunnya.

“Sebelum pandemi Covid-19, kunjungan di Desa Wisata Kemiren sempat menyentuh angka 18 ribu kunjungan. Itu terjadi pada 2019. Namun setelah pandemi, kami berupaya menyuguhkan kebudayaan dalam pariwisata sebaik mungkin untuk mengulang kembali capaian waktu itu,” imbuhnya. (*)


Editor : Lutfiyu Handi/berbagai sumber
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.