10 February 2026

Get In Touch

BI : Ekonomi Jatim Bisa Tumbuh hingga 5,7 Persen pada 2026, Ini Penopangnya

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim dalam Media Briefing di Surabaya, Senin (9/2/2026).
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim dalam Media Briefing di Surabaya, Senin (9/2/2026).

SURABAYA (Lentera) - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Jawa Timur memprediksi konsumsi rumah tangga akan sangat mendukung pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur (Jatim). Pertumbuhannya diprediksikan solid dan berkelanjutan di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen (year-on-year/yoy) pada 2026.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menyatakan selain kuatnya konsumsi rumah tangga, pertumbuhan ekonomi juga kaan ditopang peningkatan investasi, serta tetap terjaganya permintaan eksternal.

“Capaian pertumbuhan ini sangat bergantung pada respons kebijakan serta indikator sentimen, baik di tingkat pusat maupun daerah. Jika kebijakan semakin mendukung, pertumbuhan ekonomi berpeluang mendekati batas atas proyeksi,” kata Ibrahim dalam Media Briefing di Surabaya, Senin (9/2/2026).

Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga diproyeksikan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh membaiknya keyakinan konsumen, peningkatan penjualan ritel, serta berbagai stimulus pemerintah.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Jawa Timur pada akhir 2025 tercatat berada di bawah angka nasional yang mencapai 123,5. Namun pada 2026, IKK Jawa Timur diperkirakan meningkat hingga sekitar 128, sementara pertumbuhan penjualan eceran diproyeksikan mencapai 3 persen atau lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Selain itu, pemerintah turut mendorong konsumsi melalui sejumlah kebijakan, antara lain perpanjangan insentif PPh Final UMKM sebesar 0,5 persen, serta perpanjangan insentif PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk sektor pariwisata hingga Desember 2026 melalui PMK Nomor 105 Tahun 2025.

Insentif PPh Pasal 21 DTP bagi industri padat karya juga diperpanjang hingga akhir 2026, disertai perluasan program Jaminan Kematian (JKM) Bukan Penerima Upah (BPU) pada tahun yang sama.

“Berbagai program tersebut diharapkan mampu mendukung konsumsi, ketenagakerjaan, dan investasi secara berkelanjutan,” ujar Ibrahim melansir kominfojatim.

Dari sisi investasi, perekonomian Jawa Timur diperkirakan semakin kuat seiring masifnya aktivitas manufaktur dan berlanjutnya proyek-proyek strategis nasional. Terdapat sejumlah investasi baru di Kawasan Industri (KI) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), terutama pasca perbaikan infrastruktur dan konektivitas serta peningkatan target investasi.

Investasi swasta yang telah berjalan di Jawa Timur antara lain berada di sektor industri logam dasar dan barang logam di Gresik dan Sidoarjo, industri makanan di Pasuruan dan Jombang, pembangunan pabrik kimia serta pabrik kaca di Gresik, serta pengembangan lapangan migas Blok Cepu di Bojonegoro.

“Terkait ekspor, kinerja sektor manufaktur di beberapa negara mitra dagang utama masih menunjukkan tren positif. Kami berharap kondisi ini tetap kondusif sehingga dapat mendukung kinerja ekspor Jawa Timur,” kata Ibrahim. 

Sementara, dari sisi inflasi, Ibrahim memperkirakan inflasi Jawa Timur pada 2026 tetap terkendali dalam rentang sasaran nasional 2,5 persen ±1 persen, seiring kuatnya koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). (*)


Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.