11 February 2026

Get In Touch

Pemkot Surabaya Perkuat Kewaspadaan, Terbitkan SE Kewaspadaan Virus Nipah

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya, Lilik Arijanto. (Amanah/Lentera)
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya, Lilik Arijanto. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menerbitkan Surat Edaran (SE) tentang kewaspadaan terhadap Penyakit Virus Nipah sebagai langkah antisipasi dini, meski hingga kini belum ditemukan kasus di Indonesia.

Surat Edaran bernomor 400.7.7.1/3316/436.7.2/2026 itu dikeluarkan sebagai tindak lanjut dari edaran Kementerian Kesehatan RI tertanggal 30 Januari 2026. 

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya, Lilik Arijanto, mengatakan hingga saat ini belum ada laporan kasus konfirmasi Virus Nipah pada manusia di Indonesia. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat pemerintah maupun masyarakat lengah.

“Memang belum ada kasus di Indonesia, tetapi kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Apalagi mobilitas masyarakat cukup tinggi, sementara beberapa negara di kawasan pernah melaporkan kejadian Virus Nipah,” kata Lilik, Selasa (10/2/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah penelitian menunjukkan Virus Nipah pernah ditemukan pada kelelawar buah di Indonesia. Temuan tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah untuk mendorong langkah pencegahan, mengingat virus ini termasuk penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Dalam edaran itu disebutkan, penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, hewan perantara, maupun konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi. Kelelawar buah dikenal sebagai reservoir alami virus ini.

Adapun gejala infeksi Virus Nipah cukup beragam. Pada tahap awal, penderita dapat mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, batuk, pilek, hingga sakit tenggorokan. 

Pada kondisi lebih berat, gejala dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan, penurunan kesadaran, hingga komplikasi serius.

“Gejala awalnya sering menyerupai flu biasa. Karena itu masyarakat perlu waspada, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan hewan atau perjalanan ke wilayah yang pernah melaporkan kasus Virus Nipah,” jelasnya.

Tak hanya itu, Pemkot juga memetakan sejumlah aktivitas yang berpotensi meningkatkan risiko penularan. Di antaranya mengonsumsi nira atau air aren mentah, memakan buah yang telah tergigit kelelawar, kontak dengan air liur atau urin hewan terkontaminasi, aktivitas berburu kelelawar, serta beraktivitas di sekitar pasar hewan liar atau perkebunan buah.

Risiko penularan juga lebih tinggi pada warga yang memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara yang pernah melaporkan kasus Virus Nipah, seperti India, Bangladesh, Singapura, dan Filipina, maupun mereka yang melakukan kontak erat dengan orang yang diduga terinfeksi.

Untuk meminimalkan risiko, Pemkot mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi nira mentah dan memastikan nira dimasak hingga matang. Buah-buahan dianjurkan dicuci dan dikupas sebelum dikonsumsi, serta dibuang jika terdapat bekas gigitan hewan. Masyarakat juga diminta hanya mengonsumsi daging ternak yang dimasak hingga matang dan menghindari konsumsi hewan yang sakit.

Selain itu, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ditekankan sebagai langkah pencegahan utama. Mulai dari kebiasaan mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, hingga menggunakan masker saat mengalami gejala sakit.

Pemkot juga mengingatkan masyarakat agar menghindari kontak langsung dengan hewan ternak seperti babi dan kuda yang sakit atau diduga terinfeksi. Jika kontak tidak dapat dihindari, penggunaan alat pelindung diri sesuai protokol kesehatan menjadi keharusan.

“Jika mengalami gejala yang mengarah pada Virus Nipah, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah penularan lebih luas,” ucap Lilik.

Selain menyasar masyarakat, Pemkot Surabaya juga menginstruksikan perangkat daerah, camat, dan lurah untuk meningkatkan kewaspadaan di wilayah masing-masing. Upaya tersebut meliputi pemantauan aktif potensi risiko kesehatan, penyebaran informasi yang akurat, serta pelibatan RT/RW, kader, dan tokoh masyarakat dalam kewaspadaan dini.

Warga juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan, termasuk mengawasi area yang berpotensi menjadi habitat hewan penular, seperti pohon buah yang kerap didatangi kelelawar. Jika ditemukan indikasi atau kejadian yang berpotensi mengarah pada Virus Nipah, masyarakat diminta segera melapor melalui puskesmas atau Dinas Kesehatan setempat.

“Seluruh jajaran wilayah harus siap memfasilitasi langkah pelacakan dan penyelidikan epidemiologi apabila dibutuhkan,” pungkasnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.