26 May 2026

Get In Touch

Rupiah Melemah, Dosen ITS Paparkan Langkah Antisipasi bagi Masyarakat dan Industri

Grafik pergerakan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 14 – 18 Mei 2026.
Grafik pergerakan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 14 – 18 Mei 2026.

SURABAYA (Lentera) - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menyentuh Rp17.600 per dolar AS pada Senin (18/5/2026) menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi sektor industri, harga kebutuhan pokok, hingga daya beli masyarakat.

Menanggapi situasi itu, pakar ekonomi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Muhammad Ubaidillah Al Mustofa MSEI memaparkan sejumlah langkah mitigasi untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah fluktuasi global.

Dosen Departemen Studi Pembangunan ITS yang akrab disapa Ubaid itu menjelaskan depresiasi rupiah dapat menjadi early warning indicator atau sinyal awal terhadap tekanan ekonomi nasional.

Menurutnya, dampak pelemahan rupiah akan semakin besar apabila Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap produk impor, terutama bahan baku industri, energi, hingga kebutuhan konsumsi masyarakat.

"Jika rupiah terus terdepresiasi sementara kebutuhan konsumsi masih didominasi barang impor, maka kondisi ini dapat merugikan perekonomian dalam jangka panjang," ujarnya, Selasa (19/5/2026).

Ubaid menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk potensi gangguan distribusi energi dunia akibat ketegangan di Selat Hormuz, menyebabkan kenaikan harga minyak dan energi internasional.

Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga merembet pada kenaikan harga komoditas dan biaya produksi industri.

Selain itu, kondisi ekonomi global yang tidak menentu turut memengaruhi arus investasi internasional. "Ketika investor global memilih menarik dananya dari negara berkembang, termasuk Indonesia, permintaan terhadap dolar AS meningkat sehingga nilai rupiah semakin tertekan," jelasnya.

Sementara dari sisi domestik, Ubaid menilai sentimen investor terhadap kebijakan industri dan investasi nasional juga memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas nilai tukar. Ketidakpastian regulasi maupun arah kebijakan ekonomi dapat memicu capital outflow atau keluarnya modal asing dari Indonesia.

"Ketika investor menarik investasinya dalam bentuk dolar AS, maka permintaan dolar meningkat dan nilai rupiah ikut melemah," tambahnya.

Meski menghadapi tekanan eksternal, Ubaid menilai fondasi ekonomi Indonesia di tingkat akar rumput masih relatif kuat. Hal itu ditopang oleh tingginya aktivitas sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta konsumsi domestik masyarakat yang tetap bergerak.

Menurutnya, UMKM memiliki peran strategis sebagai bantalan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Namun, ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas UMKM tetap perlu dilakukan agar mampu bersaing di pasar internasional dan tidak hanya bergantung pada pasar domestik.

"UMKM perlu naik kelas, memiliki orientasi ekspor, dan mampu bersaing secara global agar bisa menjadi motor penguatan ekonomi nasional," tegasnya.

Selain penguatan UMKM, Ubaid juga menyoroti pentingnya hilirisasi sumber daya alam (SDA). Ia menilai selama ini Indonesia masih terlalu banyak mengekspor bahan mentah dan mengimpor kembali produk jadi dengan harga lebih mahal.

Menurutnya, pengembangan industri pengolahan di dalam negeri dapat meningkatkan nilai tambah ekspor sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional terhadap gejolak kurs.

"Fokus pada pengembangan komoditas menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi akan meningkatkan nilai tambah dan memperkuat daya saing ekspor Indonesia," tambahnya.

Dalam sektor industri, pelemahan rupiah diperkirakan akan meningkatkan biaya impor berbagai bahan baku dan komoditas strategis, khususnya pada industri yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga barang di tingkat konsumen dan berdampak langsung terhadap inflasi.

Ubaid mengingatkan, kenaikan harga energi, bahan baku industri, hingga kebutuhan pokok dapat menurunkan daya beli masyarakat apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola keuangan di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. 

Masyarakat disarankan mengutamakan kebutuhan dibanding keinginan, mengurangi pengeluaran konsumtif, serta lebih berhati-hati dalam mengambil pinjaman berbunga tinggi.

"Fluktuasi ekonomi juga dapat memengaruhi tingkat suku bunga. Karena itu masyarakat perlu lebih cermat dalam mengatur pengeluaran dan menghindari utang konsumtif," pungkasnya.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.